Kinanti Ujang Rusdi

- 31 Oktober 2019, 07:04 WIB
KINANTI Ujang Roesdi/HAWE SETIAWAN

BUKU Roesdi djeung Misnem (ca. 1910) karya Rd. Djajadiredja dan A.C. Deenik dipungkas dengan sebuah kinanti. Lagunya sedih sekali, penuh ratapan dari seorang anak yang tiba-tiba merasa sebatang kara.

Buat generasi yang mengakrabi buku bacaan buat anak-anak sekolah rakyat di Tatar Sunda sebelum Perang Dunia I ini, sangat boleh jadi kinanti ini punya jejak yang kuat dalam ingatan.

“Buku Rusdi”— begitulah istilah populernya dulu—menceritakan kehidupan sehari-hari kakak beradik Rusdi dan Misnem di sebuah desa. Cerita bergulir di seputar lingkungan rumah dan lingkungan permainan, disisipi dengan berbagai pengetahuan umum, sepanjang empat jilid.

Ketika saatnya tiba, Rusdi harus pindah ke Bandung buat meneruskan sekolah, seperti kakaknya, Ramlan. Dari desa ia pindah ke kota.

Waktu saya meneliti gambar ilustrasi karya W.K. de Bruin dalam buku tersebut, yang hasilnya kemudian diterbitkan dalam buku Bocah Sunda di Mata Belanda (2019), saya tidak begitu memperhatikan lirik kinanti itu.

Seingat saya, waktu itu perhatian saya cenderung terbetot ke dalam gambar, khususnya untuk mencermati cara ilustrator Belanda menggambarkan bocah Sunda.

Baru-baru ini saya menyadari betapa menariknya isi lirik itu tadi. Mulanya, saya mendapat undangan dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menyelenggarakan seminar bertema “kebahagiaan anak-anak di Jawa Barat”.

Panitia seminar mengharapkan saya bicara berdasarkan buku-buku berbahasa Sunda. Namun, saya malah bingung mesti bicara apa dan dari segi yang mana?

“Kenapa tidak membahas ‘Buku Rusdi” aja?” usul Mang Tata, sahabat saya dari Universitas Pasundan.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X