Senin, 9 Desember 2019

Bandara BJ Habibie, Tunggu Lima Tahun Lagi

- 19 Oktober 2019, 07:44 WIB
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019.*/ANTARA

TENTANG BJ Habibie sebagai pribadi, ilmuwan, dan Negarawan, tidak akan ada yang meragukan lagi. Integritasnya terhadap NKRI, tak disangsikan lagi. Dalam situasi paling sulit pun, BJ Habibie tetap merah putih.

Pada tahun 1973, BJ Habibie kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Jabatan dalam kabinet yang pernah dipegangnya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT/Kepala BPIS.

Namanya langsung melesat, menjadi role model, panutan para pelajar dan mahasiswa, bahkan banyak pelajar yang bercita-cita ingin seperti pak Habibie. Langsung menyebutkan nama diri -yang bisa membuat pesawat terbang, bukan lagi menyebutkan nama profesinya, seperti cita-cita ingin menjadi dokter, misalnya.

Kepakarannya bereputasi dunia. BJ Habibie adalah pemegang hak paten temuannya yang berkaitan dengan pesawat terbang. Para orang tua menginginkan anaknya, cucunya, pintar seperti Pak Habibie. BJ Habibie menjadi kiblat baru bagi cita-cita para pelajar dan mahasiswa Indonesia.

Cinta sejati BJ Habibie berkecambah di Bandung, dan industr pesawat terbang IPTN berada di Kota Kembang, sehingga Kota Bandung menjadi Kota Dirgantara.

BJ Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936. Selepas SMP, BJ Habibie melanjutkan sekolah di SMAK Dago, Bandung, kemudian kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954 di jurusan teknik mesin.

Pada 1955–1965, Habibie kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat, mengambil teknik penerbangan, dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang. Pada 1960 lulus dan menerima gelar diploma ingenieur, dan pada tahun 1965 lulus program doktor ingenieur dengan predikat summa cum laude. Lalu bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman.

Pada tahun 1962, BJ Habibie menikah dengan dr Hj Hasri Ainun Besari yang lahir di Semarang, 11 Agustus 1937, kemudian menjadi Ibu Negara Indonesia ketiga (1998 – 1999). Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pernah menjabat sebagai Wakil Presiden menggantikan Try Sutrisno, kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga menggantikan Soeharto.

Pada tanggal 11 September 2019, pukul 18.05 WIB, BJ Habibie wafat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada usia 83 tahun, menyusul ibu Hasri Ainun Habibie yang sudah lebih dahulu wafat pada tanggal 22 Mei 2010, di Klinikum Großhadern, München, Jerman.


Halaman:

Editor: T Bachtiar

Tags

Komentar

Terkini

Bobotoh Persib Bandung di Daerah Istimewa

8 Desember 2019, 10:55 WIB

Asal-usul Nama Soréang dan Masa Lalunya

7 Desember 2019, 00:05 WIB

Jalma Nyakola

4 Desember 2019, 11:05 WIB

Black Friday

3 Desember 2019, 00:05 WIB

Jejak Persib Bandung di Filipina

1 Desember 2019, 13:54 WIB

Juragan Guru Pangsiun

28 November 2019, 08:28 WIB

Bias Hasil

27 November 2019, 11:43 WIB

Persib Bandung Tahun 2000-an

24 November 2019, 10:50 WIB

Asal Nama Hegarmanah

23 November 2019, 07:03 WIB

Warung Pojok

21 November 2019, 07:03 WIB
X