Bandara BJ Habibie, Tunggu Lima Tahun Lagi

- 19 Oktober 2019, 07:44 WIB
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019.*/ANTARA

TENTANG BJ Habibie sebagai pribadi, ilmuwan, dan Negarawan, tidak akan ada yang meragukan lagi. Integritasnya terhadap NKRI, tak disangsikan lagi. Dalam situasi paling sulit pun, BJ Habibie tetap merah putih.

Pada tahun 1973, BJ Habibie kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Jabatan dalam kabinet yang pernah dipegangnya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT/Kepala BPIS.

Namanya langsung melesat, menjadi role model, panutan para pelajar dan mahasiswa, bahkan banyak pelajar yang bercita-cita ingin seperti pak Habibie. Langsung menyebutkan nama diri -yang bisa membuat pesawat terbang, bukan lagi menyebutkan nama profesinya, seperti cita-cita ingin menjadi dokter, misalnya.

Kepakarannya bereputasi dunia. BJ Habibie adalah pemegang hak paten temuannya yang berkaitan dengan pesawat terbang. Para orang tua menginginkan anaknya, cucunya, pintar seperti Pak Habibie. BJ Habibie menjadi kiblat baru bagi cita-cita para pelajar dan mahasiswa Indonesia.

Cinta sejati BJ Habibie berkecambah di Bandung, dan industr pesawat terbang IPTN berada di Kota Kembang, sehingga Kota Bandung menjadi Kota Dirgantara.

BJ Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936. Selepas SMP, BJ Habibie melanjutkan sekolah di SMAK Dago, Bandung, kemudian kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954 di jurusan teknik mesin.

Pada 1955–1965, Habibie kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat, mengambil teknik penerbangan, dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang. Pada 1960 lulus dan menerima gelar diploma ingenieur, dan pada tahun 1965 lulus program doktor ingenieur dengan predikat summa cum laude. Lalu bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman.

Pada tahun 1962, BJ Habibie menikah dengan dr Hj Hasri Ainun Besari yang lahir di Semarang, 11 Agustus 1937, kemudian menjadi Ibu Negara Indonesia ketiga (1998 – 1999). Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pernah menjabat sebagai Wakil Presiden menggantikan Try Sutrisno, kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga menggantikan Soeharto.

Pada tanggal 11 September 2019, pukul 18.05 WIB, BJ Habibie wafat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada usia 83 tahun, menyusul ibu Hasri Ainun Habibie yang sudah lebih dahulu wafat pada tanggal 22 Mei 2010, di Klinikum Großhadern, München, Jerman.

Halaman:

Editor: T Bachtiar


Tags

Komentar

Terkini

Wabah menurut Dokter Cipto

24 September 2020, 07:19 WIB

Marketing Odading

20 September 2020, 13:21 WIB

Selisik Jurnalistik

17 September 2020, 06:00 WIB

Iman ke Selokan

11 September 2020, 05:51 WIB

‘Anjay’ di Tribun Stadion

6 September 2020, 20:54 WIB

Buku Paman Tom

3 September 2020, 06:00 WIB

Ajat Sudrajat 'Bad Boy' from Bandung

30 Agustus 2020, 12:12 WIB

Narasi Gunung

27 Agustus 2020, 10:18 WIB

Karaoke dan Prostitusi

23 Agustus 2020, 12:16 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X