Kamis, 4 Juni 2020

Mungkalpayung Jadi Mukapayung

- 12 Oktober 2019, 06:49 WIB
MUNGKALPAYUNG masih bisa ditelusuri di peta yang dibuat pada zaman Belanda.*

TULISAN ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengembalikan lagi nama Desa Mukapayung ke nama asal yang diberikan oleh para karuhun Cililin, yaitu Mungkalpayung. Tapi sekadar ingin mengabarkan kembali, bahwa daerah itu, semula namanya Mungkalpayung, dan tertulis dalam peta yang dibuat pada zaman Belanda.

Secara alami, kawasan antara Soreang sampai Cililin, merupakan kawasan gunungapi purba. Sekitar empat juta tahun yang lalu, terjadi letusan-letusan gunungapi di kawasan ini, mulai dari Gunung Singa, Gunung Aul, Gunung Kerud, Gunung Kaseproke, Gunung Kutawaringin, Gunung Batumaseuk, Gunung Putri, Gunung Hanyawong, Gunung Lumbung, Gunung Putri, Gunung Buleud, Gunung Lalakon, Gunung Paseban, Kompleks gunungapi purba Lagadar, dan lain-lain.

Bukti yang menunjukkan bahwa kawasan itu berupa gunung api purba adalah hasil dari letusannya, seperti adanya leleran lava, sumbat lava (banyak dimanfaatkan menjadi batu pecah untuk fondasi), breksi (campuran batuan kecil-kecil yang memadat, seperti cor beton yang sudah mengering, dan ignimbrit, yang dalam istilah masyarakat ada yang menyebutnya cadas, ada juga yang menyebut teras. Pada era tahun 1970-an, teras ini menjadi bahan untuk pembuatan batako. Sekarang menjadi pasir untuk adukan tembok.

Itulah sebabnya kawasan yang sangat luas itu berupa kerucut-kerucut gunungapi purba, yang tubuhnya berupa batuan beku yang padat, berupa breksi, dan ignimbrit. Jadi, para karuhun dan pinisepuh Cililin pada masa lalu ketika membabad alas di kawasan ini, melihat begitu banyak bebatuan dengan beragam bentuknya.

Untuk memudahkan memberikan penunjuk pada suatu kawasan, maka ada satu kawasan yang diberi nama Mungkalpayung, karena di kawasan itu terdapat batu (breksi), yang bentunya seperti payung, sehingga menjadi ciri bumi kawasan. Di tempat lain ada yang menyebutnya batu jamur, karena bentuknya seperti jamur raksasa.

Kata mungkal, memang tidak ada dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg. (1862), demikian juga dalam Kamus Basa Sunda Karya R Satjadibrata (1948, 2005), maupun dalam Kamus Umum Basa Sunda LBSS (1980). Tapi, kata mungkal ada dalam S Coolsma (1913), Soendaneesch-Hollandsch, menurutnya, “dalam cerita pantun, mungkal dapat diarartikan tunggul dan bongkot”.

Ada juga dalam Kamus Basa Sunda karya RA Danadibrata (2006) yang mengartikan mungkal sama dengan batu. Di Jawa Barat, ada toponim yang menggunakan kata mungkal, yaitu: Mungkalpayung di Cililin, Kabupaten Bandung (Barat), dan Mungkaldatar di Kabupaten Kuningan.

Kedua toponim ini merujuk pada keadaan tempat yang memiliki batu dengan bentukan yang unik, sehingga menjadi ciri bumi yang mudah dikenali. Ada batu besar yang bentuknya unik seperti payung, maka batu itu dinamai mungkal payung, kemudian kawasannya dinamai Mungkalpayung.

Di Kabupaten Kuningan ada batu besar yang rata, datar, kemudian batu itu dinamai mungkal datar, dan kawasannya disebut Mungkaldatar.

Halaman:

Editor: T Bachtiar


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Wajah Bertopeng

3 Juni 2020, 16:59 WIB

Mendadak New Normal

1 Juni 2020, 08:55 WIB

Madah Persapuan

28 Mei 2020, 06:00 WIB

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X