Selasa, 25 Februari 2020

Geoliterasi Jantung Masyarakat Modern

- 24 Agustus 2019, 00:05 WIB
KONDISI pintu masuk taman Wisata ALam Gunung Tangkubanparahu, Subang tertutup abu vulkanik, Sabtu 27 Juli 2019.*/ANTARA

Ketika bangunan penunjang pariwisata dibangun di kaki, lereng, bahkan dibangun di sekitar kawah gunung api, dan termasuk ke dalam zona yang ditetapkan sebagai kawasan yang berisiko tinggi, karena akan terkena paparan gas racun, misalnya, lontaran batu pijar, abu panas, dan semburan lumpur panas.

Pengelola dan pemberi izin harus sudah mengetahui segala implikasi yang akan terjadi. Pengelola harus sudah mengetahui, kapan masyarakat dan wisatawan boleh mendekat karena aman, dan kapan harus menjauh karena membahayakan.

Bila sudah diketahui sejak awal apa imlikasi yang akan terjadi, maka pada saat kawasan itu dibangun, harus sudah merancang, bagaimana penyelamatan aset fisik, jalan untuk evakuasi dan lapangan-lapangan untuk berkumpul.

Akan tetapi, ada juga yang implikasinya sudah diketahui, tapi segala sumber penyebabnya dibiarkan terus berlangsung, seperti penanam sayur di lereng-lereng yang curam. Segala dampaknya akan diderita oleh masyarakat, bukan saja yang bermukim di sekitar gunung tersebut, tapi juga di sepanjang aliran sungainya.

Ketika hutan alami diganti menjadi hutan produksi, kemudian tak terkendali menjadi kebun sayur, maka air hujan tak lagi meresap melalui akar pohon, tapi langsung mengalir di permukaan, menggerus tanah pucuk yang paling subur, hanyutkan ke lembah-lembah, lalu mengendap di dasar sungai dan danau.

Rangkaian dampaknya akan saling susul-menyusul, kekeringan, sungai tak berair sampai di dasarnya, persawahan, kolam tidak terairi, dan PLTA kekurangan pasokan air untuk memutarkan turbin. Kebun dan lahan terbuka menjadi kerontang dan retak-retak, maka ketika musim penghujan datang, terjadi longsor dan banjir.

Dalam melakoni hidupnya, untuk mempermudah mencapai tujuannya, manusia menciptakan dan menggunakan teknologi. Namun, teknologi yang diciptakannya, selalu mempunyai dua sisi mata pisau. Sisi kebaikan dan sisi keburukan, karena tekonologi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang membuat masyarakat lebih cerdas dan memudahkan dalam segara urusan, tapi dapat dijadikan alat untuk mengacaukan, memecah masyarakat, baik secara fisik maupun kejiwaan.

Teknologi dapat dimanfaatkan menjadi alat untuk menyebarluaskan dakwah kebaikan sekaligus dapat menjadi alat untuk menyebarkan fitnah, keburukan, kebohongan, provokasi, anti keragaman, dan anti demokrasi. Masyarakat menjadi terpolarisasi ketika media sosial dimanfaatkan secara kuat untuk menanamkan pengaruhnya.

Geoliterasi memberikan pemahaman, bahwa di permukaan bumi, baik secara fisik maupun sosial, terdapat perbedaan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Perbedaan itu akan membedakan matapencaharian dan budaya masyarakatnya.

Bagaimana agama dan kepercayaan telah membuat perbedaan dalam perilaku hidup suatu masyarakat di berbagai belahan dunia. Perbedaan fisik bumi akan menyebabkan kelangkaan di suatu kawasan dan berkelimpahan di kawasan lainnya. Inilah yang akan menyebabkan terjadinya pergerakan barang dan orang antar kawasan.

Halaman:

Editor: T Bachtiar

Tags

Komentar

Terkini

Para Pangeran

25 Februari 2020, 05:58 WIB

Restu Pemerintah untuk Liga 1 2020

23 Februari 2020, 13:32 WIB

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X