Selasa, 25 Februari 2020

Geoliterasi Jantung Masyarakat Modern

- 24 Agustus 2019, 00:05 WIB
KONDISI pintu masuk taman Wisata ALam Gunung Tangkubanparahu, Subang tertutup abu vulkanik, Sabtu 27 Juli 2019.*/ANTARA

Demikianlah manusia, yang semula hanya berinteraksi dengan sistem sosial dan sistem alam, kemudian melakukan interkoneksi antara dua sistem itu.

Manusia mengamati dan mempelajari bagaimana hubungan-hubungan antara sistem alam dengan sistem sosial terjadi, atau sebaliknya, dan bagaimana manusia dapat terhubung, demikian juga bagaimana suatu tempat dapat terhubung dengan tempat lainnya. Apakah suatu kawasan baik menjadi tempat hunian atau untuk kegiatan ekonomi, kampus, pusat Pemerintahan, atau pusat keramaian?

Bila keputusan sudah diambil, suatu kawasan sudah diputuskan menjadi kawasan terbangun untuk pengembangan perkotaan, misalnya, atau menjadi kawasan pariwisata, permukiman, perkantoran, pasar, pusat pemerintahan, kawasan hijau, pusat keramaian, jalan raya, stasiun, terminal, alunalun, dan lapangan olahraga, maka implikasi jangka panjangnya harus sudah diketahui ketika perencanaan itu dibuat.

Geoliterasi menjawab bagaimana kait-mengait antara satu bagian dengan bagian lainnya, serta apa implikasinya bagi kehidupan manusia yang akan memanfaatkan suatu kawasan dengan segala fasilitasnya.

Bumi Indonesia menjadi bagian dari rangkaian cincin api dunia. Bukan hanya keberkahannya yang menjadi kekayaan bumi bagi kehidupan masyarakatnya, juga sangat rawan bencana.

Letusan gunung api, gempa bumi dan tsunami menjadi bagian yang yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia Indonesia sejak ribuan tahun lalu hingga kini.

Masih melekat dalam ingatan, gempa menguncang Lombok, Banten, Papua, Maluku, Padang. Gempa dan tsunami menyapu pantai Pangandaran di Jawa Barat, Aceh, Pasuruan, Pulau Babi, Maluku, Palu, dan banyak lagi. Ketika letusan Gunung Anakkrakatau yang melongsorkan sebagian tubuhnya, menyebabkan tsunami di pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.

Ketika kawasan di atas zona patahan/sesar ditetapkan sebagai kawasan perkotaan, pelabuhan, bandara, permukiman, perkantoran dengan segala sistem pendukungnya, maka risikonya yang akan terjadi menjadi bagian dari risiko yang harus diperhitungkan segala kemungkinannya.

Bagaimana kawasan pariwisata dibangun di pantai landai dan datar yang berhadapan dengan zona subduksi, maka kawasan itu sangat rawan digoyang gempa dan disapu tsunami.

Halaman:

Editor: T Bachtiar

Tags

Komentar

Terkini

Para Pangeran

25 Februari 2020, 05:58 WIB

Restu Pemerintah untuk Liga 1 2020

23 Februari 2020, 13:32 WIB

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X