Senin, 24 Februari 2020

Wening Panggalih

- 23 Agustus 2019, 13:19 WIB
Dukacita/DOK. PR

POTRET sahabat saya, Aa Sudirman, terpajang dalam pigura kaca di atas sebuah platform rendah bertaplak putih di tengah ruangan. Di kiri kanan potret ada beberapa tangkai bunga sedap malam dalam jambangan gerabah. Melati terserak di atas taplak. Beberapa helai kemeja, sehelai iket batik, sebilah belati, dan sebuah cermin kecil milik almarhum melengkapi pajangan.

Di atas platform itu juga terdapat sebuah tumpeng, sesisir pisang, semangkuk beras dengan sebutir telur di atasnya, dan sebuah nampan kuningan berisi perlengkapan ngalemar seperti sirih, pinang, kapol, dan lain-lain. Di muka platform terdapat tujuh butir kelapa muda yang masing-masing beralaskan daun pisang di atas piring rotan.

Malam itu, di Buniwangi, sebuah tempat yang sejuk di perbukitan utara Bandung, kami meriung dalam suasana takzim untuk menghormati seorang teman, jurnalis, pekerja kemanusiaan, dan pegiat kebudayaan yang baru seminggu mangkat.

Aa Sudirman wafat di Bandung dalam usia 54 tahun pada hari keramat 17 Agustus lalu, dengan tenang, di tengah kehadiran keluarga dan sahabat. Makam Kesambi, Cirebon, adalah tempat peristirahatannya yang terakhir.

Semasa hidupnya Aa Sudirman bergiat sebagai jurnalis, turut bergiat dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), juga bergerak dalam area budaya yang luas, mulai dari area seni tradisi hingga area hak-hak budaya kaum minoritas. 

Tuhan Yang Maha Baik telah memerdekakan Aa Sudirman dari sakit yang dihadapinya dalam tiga bulan terakhir. Saya mengenalnya sejak akhir 1980-an dan berteman baik hingga akhir hayatnya.

Wangi kulit gaharu yang dibakar menyelimuti ruangan bersama doa-doa dalam bahasa Sunda yang dipanjatkan oleh seorang sesepuh.

Doa dilanjutkan dengan lantunan beberapa bait asmarandana tentang pati atau ajal gubahan mendiang Mei Kartawinata dengan iringan petikan kacapi dan siulan suling dari Lingkung Seni Karangkamulyan.

Hadirin duduk bersila atau melipat kaki di atas hamparan tikar pandan. Sahibulbait, penyelenggara upacara, serta kerabat dekat almarhum mengenakan pakaian adat Sunda: kain dan kebaya pada wanita, iket dan pangsi pada pria.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

Restu Pemerintah untuk Liga 1 2020

23 Februari 2020, 13:32 WIB

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Nama Makanan yang Terinspirasi Alam

8 Februari 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X