Jumat, 24 Januari 2020

Paguyuban Bobotoh Persib Bandung di Luar Indonesia

- 25 Agustus 2019, 00:05 WIB
Persib/DOK. PR

KETIKA Anda membaca tulisan ini, saya sedang berada di Tokyo Jepang terkait konferensi internasional yang digelar di Tokyo University of Science. Makalah berjudul “Urgency of The Establishment of Dispute Settlement Body Between Football Clubs and Professional Football Players in Order to Support National Economic Development” terpilih untuk dibahas di kampus tersebut.

Sebelum keberangkatan, saya sempat membocorkan agenda keberangkatan melalui fitur live di akun Instagram @ekomaung69. Setelah itu, beberapa pesan yang masuk menyatakan keinginan untuk bertemu di Jepang dan lain sebagainya.

Mereka yang mengirim pesan adalah orang-orang Indonesia yang sedang menetap di Jepang. Kebanyakan dari mereka sedang bekerja, tak ada data pasti apakah orang-orang itu asli Bandung, asli Jawa Barat, atau berdarah Sunda. Namun satu yang pasti, mereka semua adalah bobotoh Persib Bandung. Lebih khusus lagi, kebanyakan dari mereka tergabung dalam komunitas BVJ (Baraya Viking Japan).

Di bawah gagasan paguyuban

Tak sulit bagi kita untuk merasakan gejala bahwa para pendatang di kota-kota besar terlihat lebih guyub dan eksis ketika bersama-sama dengan komunitas daerah asalnya.

Hal itu berbeda dengan warga kota asli yang memang merasa berada di rumah dan “menguasai medan”. Maka, para perantau cenderung mencari rekan yang memiliki persamaan-persamaan yang cukup logis untuk dijadikan alasan berinteraksi sosial.

Salah satu alasan logis yang dimaksud adalah persamaan minat terhadap suatu hal, ditambah lagi persamaan asal daerah.

Paguyuban berbasis kekerabatan/keluarga (gemeinschaft by blood) biasanya melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih bersifat internal dan tertutup dibandingkan paguyuban berbasis ideologi dan persamaan minat dan pemikiran (gemeinschaft of mind).

Paguyuban yang berdasar persamaan minat akan terus mencari anggota-anggota paguyuban baru yang memiliki ideologi serta cara pandang yang sama terhadap suatu hal. Kegiatan mereka bersifat lebih terbuka dan dapat diakses siapa saja yang memiliki kecocokan ideologi.

Halaman:

Editor: Eko Noer Kristiyanto

Tags

Komentar

Terkini

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Filsafat Bobotoh

9 Januari 2020, 11:55 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X