Jumat, 21 Februari 2020

Tulisan, Tikan, Suara

- 16 Agustus 2019, 12:35 WIB
PEKERJA menyelesaikan perawatan patung proklamator Soekarno di kompleks Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat, 9 Agustus 2019. Pemprov DKI Jakarta melakukan konservasi di kompleks Tugu Proklamasi yang meliputi Tugu Petir, Tugu Peringatan Satu Tahun Proklamasi, dan patung proklamator Soekarno-Hatta dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Ke-74 RI.*/ANTARA

INDONESIA dimulai dengan teks yang singkat. Naskah proklamasi kemerdekaan yang terkenal dan jadi sakral hanya terdiri atas 38 kata. Jumlah karakter beserta spasinya tidak sampai 300, itu pun kalau kata “dan lain-lain” tidak disingkat jadi “dll”.

Buat mereka yang mengalami zaman pradigital, teks demikian kayak telegram. Isinya singkat dan padat, tidak bertele-tele. Sungguh selaras dengan situasi yang gawat.

Secara visual, ada dua teks yang langgeng dalam ingatan bersama. Pertama, tulisan tangan dengan coretan yang memperlihatkan koreksi atas sepatah kata. Kedua, tikan yang rapi, bersih, tanpa salah ketik.

Bentuk dan rupa teks mencerminkan zaman ketika menulis (writing) masih berbeda dari mengetik (typing). Orang menulis dengan tangan. Perkakasnya bisa berwujud bolpoin atau pulpen, dengan tinta kental atau tinta cair. Orang mengetik dengan bantuan mesin tik yang menimbulkan suara berisik, dengan tinta yang melekat pada gulungan pita.

Dalam medium terkandung medium lain. Bahkan, seperti kata McLuhan, apa yang kita sebut message sesungguhnya medium juga. Dalam medium tulisan, misalnya, terdapat medium aksara. Dalam medium aksara terkandung medium suara. Pertautan antarmedium pula yang dapat kita ingat dari teks proklamasi.

Zaman yang melahirkan teks proklamasi adalah zaman radio. Suara sangat penting, kalaupun tidak dapat disebut paling penting. Soekarno dan Hatta, sebagai proklamator, berdiri menghadapi mikrofon alias pelantang. Teks itu tadi dibacakan, kemudian bunyinya disebarluaskan melalui pemancar radio. Sasarannya adalah telinga.

Meski gayanya seperti telegram, teks proklamasi menimbulkan efek dengan caranya sendiri. Jika telegram, kawat, atau surat ditujukan kepada satu atau dua alamat, teks proklamasi ditujukan ke seantero jagat. Tanda tangan proklamator bukan tanda bahwa Soekarno dan Hatta bersuara sebagai pribadi, melainkan sebagai “kami” yang jadi “wakil bangsa Indonesia”. Dengan kata lain, suara itu dimaknai sebagai suara bangsa.  

Dari rekamannya kemudian, kita mendengar suara Bung Karno membacakan teks proklamasi selama 50 detik. Detik-detik ketika teks singkat itu dibacakan pada Jumat pagi di bulan Agustus, 74 tahun silam, menimbulkan efek berpuluh bahkan mungkin beratus tahun.

Dengan disuarakannya proklamasi yang singkat itu, sebagaimana yang tergambar dari narasi sejarah, tegas sudah perubahan yang mendasar dan keras dalam kehidupan orang banyak. Hindia Timur Belanda jelas mati ketika Jepang datang, dan pendudukan Jepang jelas berakhir ketika imperium itu kalah perang. Dengan proklamasi, terbuka gelanggang baru bagi aktor baru serta cerita baru.  

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Nama Makanan yang Terinspirasi Alam

8 Februari 2020, 06:00 WIB

Corona dan Tirani Ketidaktahuan

4 Februari 2020, 11:16 WIB

Jati Jadi Wangi

4 Februari 2020, 06:42 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X