Selasa, 18 Februari 2020

Kabudayaan Penca

- 2 Agustus 2019, 12:47 WIB
SEJUMLAH peserta mengikuti teknikal meeting IPSI Cup di Aula Gedung KONI, Kota Bandung, Sabtu, 15 Maret 2019.*/MIRADIN SYAHBAN RIZKY/PR

DARI guru ke murid, dari generasi ke generasi, pengetahuan tentang penca diwariskan melalui tuturan. Salah satu cerminannya adalah buku Tuturan tentang Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda (1996) karya Yus Rusyana (81).

Pak Yus adalah pakar bahasa dan sastra juga sastrawan Sunda. Tradisi lisan Sunda yang ditelaah dalam dalam buku ini bukan folklor atau cerita rakyat,  melainkan tuturan atau wicara tokoh penca tentang keahlian mereka.

Dalam uraiannya, Pak Yus memakai istilah Sunda, penca. Istilah ini sepadan dengan pencak atau silat dalam bahasa Indonesia. Adapun penca yang dibahas dalam buku ini adalah Maénpo Cikalong dan Penca Makao.

Narasumbernya adalah maestro maénpo Cikalong Rd. Memed bin Rd. Obing Ibrahim (1919-2007) dari Cianjur dan maestro penca Makao Aki Arba (1911- ?) dari Pandeglang. Tuturan mereka direkam oleh Gending Raspuzi (54), tokoh penca dari Bandung yang saat ini bergiat dalam Garis Paksi (Lembaga Pewarisan Pencak Silat) dan Maspi (Masyarakat Pencak Silat Indonesia), pada 1994.

Kalau boleh saya gambarkan secara singkat, buku ini berisi analisis kebahasaan atas rekaman percakapan antara guru penca dan muridnya. Analisisnya bersifat struktural. Pak Yus mengkaji antara lain hubungan antarelemen kebahasaan dan pola tuturan.

Pembaca umum seperti saya dapat memperhatikan traskrip wawancara dalam bahasa Sunda, beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia, yang dilampirkan dalam buku ini. Saat ini, setelah kedua maestro itu tiada, rekaman seperti ini terasa kian penting sebagai dokumen pengetahuan penca.

Dari lisan ke tulisan

Di antara begitu banyak guru penca di Tatar Sunda, dari ratusan aliran, hanya satu-dua yang sempat mewariskan pengetahuan penca secara tertulis.

Memang ada masanya pengetahuan tentang penca adalah bagian dari kearifan yang bukan untuk diumbar. Pengajaran penca cenderung tertutup atau terbatas di lingkungan dekat. Guru-guru seperti bersembunyi, tidak menampilkan diri. Mereka yang berminat belajar memang harus mencari. Silat seperti pisau lipat. Bilahnya baru terlihat dalam situasi dan pada saat yang tepat.

Tentu saja, tidak sepenuhnya demikian. Waktu bergulir, cara pandang berubah. Dari lingkungan maénpo, misalnya, tampak kesadaran literat. Satu-dua guru berupaya mewariskan pengetahuan penca secara tertulis.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Nama Makanan yang Terinspirasi Alam

8 Februari 2020, 06:00 WIB

Corona dan Tirani Ketidaktahuan

4 Februari 2020, 11:16 WIB

Jati Jadi Wangi

4 Februari 2020, 06:42 WIB

Omnibus Law dan Prasangka Publik

1 Februari 2020, 15:49 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X