Selasa, 18 Februari 2020

Gan, Kak, dan Sis

- 19 Juli 2019, 09:35 WIB
BELANJA online/DOK. PR

SEDIKITNYA ada tiga kata ganti orang kedua yang biasa dipakai oleh para pelapak online kepada konsumen mereka. Itulah “gan” dan “kak”, khususnya buat lelaki, serta “sis” buat perempuan.

Gan adalah kontraksi dari juragan, sisa-sisa zaman daulat tuanku. Dulu, dalam struktur sosial atas-bawah, pembantu atau bawahan biasa memanggil “juragan” kepada majikan. Di Tatar Sunda dahulu kala sebutan “juragan” juga suka dilekatkan kepada nama kalangan ménak alias bangsawan. Sekarang sih sudah bukan zamannya.

Pada zaman kejayaannya, “juragan” setingkat dengan “tuan” dan “nyonya”. Itulah sepasang sebutan yang kini sudah jarang dipakai kecuali dalam sinetron yang realismenya buruk atau dalam setruk apotek.   

Pada zaman Orde Baru sebutan “nyonya” yang suka disingkat “Ny.” sempat dilekatkan pada nama Ibu Negara. Namun, seingat saya, waktu itu tidak ada orang yang menyebut Suharto dengan panggilan “tuan”. Sebutan yang populer adalah “bapak”. Mungkin itu sebabnya orang kemudian lebih terbiasa menyebut istri presiden dengan panggilan “Ibu Tien”. Ibu toh pasangan bapak, sebagaimana nyonya adalah pasangan tuan. 

Pada zaman sebutan “bapak” dan “ibu” dilekatkan kepada presiden dan istrinya, negara seakan-akan dianggap sebagai sebuah keluarga besar. Sistem yang mewadahi hubungan-hubungan kekuasaan dikatakan bersifat “kekeluargaan”.

Kedengarannya baik, tapi pada praktiknya makna yang terkandung dalam sebutan itu cenderung diselewengkan. Waktu itu anak-anak presiden atau pembesar sejenisnya bisa menguasai apa saja, dari pabrik mobil hingga kebun cengkeh. Tata negara jadi urusan keluarga. Politik jadi masalah pribadi.

Pers, yang suka disebut sebagai “pilar keempat demokrasi”, tentu tidak doyan dengan daulat tuanku, dan ingin merayakan daulat rakyat. Sebutan “bapak” dan “ibu” lambat-laun menyingkir dari halaman suratkabar. Dalam teks tanya-jawab antara reporter dan narasumber, sebutan yang dipakai adalah “anda”. Betapapun, di luar halaman koran, para juruwarta tetap saja memanggil “bapak” atau “ibu” kepada narasumbernya ketika mereka bertanya-jawab. 

Tidak seperti “tuan” dan “nyonya” serta “bapak” dan “ibu”, sebutan “juragan” rupanya bisa lebih lama bertahan. Buktinya, ya itu tadi, dalam transaksi online sebutan “juragan” tetap eksis meski mengalami kontraksi jadi “gan”.

Salah satu faktornya, barangkali, adalah anggapan lama yang mengatakan bahwa pembeli mesti diperlakukan sebagai raja oleh pedagang. Pelapak seakan-akan merendahkan dirinya ke posisi hamba, sedangkan konsumen seolah-olah dinaikkan ke posisi tuan.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Koran Pikiran Rakyat & PERS(ib)

9 Februari 2020, 11:57 WIB

Nama Makanan yang Terinspirasi Alam

8 Februari 2020, 06:00 WIB

Corona dan Tirani Ketidaktahuan

4 Februari 2020, 11:16 WIB

Jati Jadi Wangi

4 Februari 2020, 06:42 WIB

Omnibus Law dan Prasangka Publik

1 Februari 2020, 15:49 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X