Selasa, 21 Januari 2020

Berkaca pada Bola

- 16 Juli 2019, 08:47 WIB

Dibukanya kran bagi masuknya pemain asing dalam bidang olah raga menggenapkan berbagai skenario pelibatan kekuatan asing dalam kancah domestik. Dalam bidang ekonomi, keterlibatan investor asing bukan barang baru. Kran bagi masuknya investor asing sepertinya akan makin terbuka ketika Pemerintahan Jokowi berjanji akan menghajar pejabat dan lembaga yang menghambat masuknya investasi.

Bahkan dunia kampus sekalipun tidak sepi dari wacana internasionalisasi. Selain demam scopus dan kegilaan pada “novelty” yang sudah beberapa tahun menyerang akademisi, beberapa bulan terakhir universitas pun digoyang isu masuknya profesor dan rektor asing. Dalam dunia akademik, batas-batas teritorial amat cair, namun satu hal tidak bisa dikompromikan: nasib anak bangsa dan marwah kebangsaan itu sendiri.

Berkaca pada ingar-bingar persepakbolaan nasional yang tidak diikuti perbaikan signifikan performa timnas di ajang internasional jangan-jangan kualitas timnas tidak banyak ditentukan oleh jumlah pemain asing yang berlaga di liga domestik. Sebab jika parameternya “asing”, liga domestik tidak kekurangam label asing. Pemain asing banyak, legiun asing yang melatih klub tidak sedikit, bahkan sebagian nama klub sudah ditulis dalam bahasa asing. Lantas mengapa pemain yang terbiasa bertanding melawan pemain asing (yang dicap memiliki teknik individu dan kerja sama tim yang lebih bagus) tidak serta merta menjadi pemain handal dan mampu mendongkrak performa timnas ?

Allih-alih berharap pada “transfer keahlian” atau “mantra”  pemain asing, memberi kepercayaan kepada pemain (termasuk pemain lokal) terbukti lebih manjur dalam menempa skill dan kerja sama tim. Sebelum diberi kepercayaan Mario Gomez untuk masuk ke dalam “starting eleven” tim sebesar Persib, Ardi Idrus dan Gozali Siregar bukanlah siapa-siapa. Pembelian kedua pemain ini dianggap perjudian yang gegabah. Namun setelah diberi kepercayaan mencicipi menit bermain, Ardi dan Gozo menjelma menjadi sosok penting dalam sistem pertahanan dan pola penyerangan Persib.

Ketersediaan ruang memungkinkan segala mantra menjelma menjadi kekuatan nyata. Mengharap munculnya seribu Atta Halilintar, atau seratus Jack Ma, hanya angan-angan jika tidak disertai usaha membuka ruang, mencipta kesempatan, bahkan sekedar membuka dialog-diri untuk menemukan kekuatan dalam dirinya.

Inilah pelajaran terpenting bagi pelibatan kekuatan asing dalam kehidupan nasional. Meski kran bagi masuknya pemain asing dibuka, harus ada keberpihakan kepada pemain lokal. Pelibatan pemain asing harus disertai pemberian kepercayaan kepada pemain lokal untuk mengembangkan talenta dan mengasah insting bisnisnya.

Boleh jadi kualitas tidak terletak pada label asing atau lokal, namun ditentukan oleh faktor-faktor seleksi yang mempermudah lolosnya segala entitas yang diimbuhi embel-embel asing. Inferiortias seperti inilah yang harus dikikis, jika kita benar-benar ingin mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia.***

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Filsafat Bobotoh

9 Januari 2020, 11:55 WIB

Penelusuran Awal Toponim Bandung  

4 Januari 2020, 06:57 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X