Sabtu, 25 Januari 2020

Berkaca pada Bola

- 16 Juli 2019, 08:47 WIB

SEORANG pemain berseragam tim nasional (timnas) berjibaku melawan gempuran pemain dengan kostum unik: memakai kaos putih dan bersarung. Sebuah “seragam” yang lazim dipakai para pemain bola dalam pesta tujuh belasan. Tak jauh dari mereka, seorang wasit dengan kaki menahan bola tampak memberi kartu kuning. Melihat ekspresi kedua pemain, sepertinya pemain berseragam timnas mendapat kartu kuning. Sial, melawan “tim pesta rakyat” saja timnas harus diganjar kartu kuning.

Begitulah pelukis Yaya Sukaya menyentil kualitas sepak bola nasional, khususnya performa timnas yang dicintainya.  Jangankan bertarung di ajang internasional, bertanding di kancah domestik pun masih terkendala banyak hal.

 Tidak jelas apa yang melatari pelukis Yaya Sukaya melontarkan kritik yang amat satir tersebut. Kemunculannya memercikan permenungan mendalam, terkait kualitas timnas yang belum juga terangkat meski liga domestik sudah diramaikan oleh kehadiran pemain asing.

Sepak bola dan bola voli  adalah dua cabang olahraga (cabor) yang paling atraktif dan ekspansif. Dimana pun kedua cabor ini dihelat selalu dibanjiri penonton. Dua cabor ini pun paling ekspansif dalam ajang profesionalnya dengan membuka pemain asing berlaga di liga domestik.

Tak pelak, tiap tahun para pemilik  klub profesional berburu pemain asing yang dinilai mampu mendongkrak performa tim, meski tidak selamanya berhasil. Tak jarang, mereka yang dicap pemain asing tidak menjadi pembeda ketika timnya tampil monoton. Bahkan teknik individu dan kerja sama timnya tak jauh berbeda dengan pemain lokal.

Meski harus diakui, beberapa ponggawa asing sukses mendongkrak performa klub. Dapat dikata, jika empat pemain impor (satu Asia dan tiga non Asia) tampil konsisten, performa klub akan berada di atas angin. Dilihat dari daftar pencetak gol terbanyak  dalam  tiga musim kompetisi terakhir selalu didominasi pemain asing.  Dalam kurun tersebut, hanya Samsul Arif dan Lerby Eliandry yang mampu mencatatkan namanya dalam jajaran lima besar pencetak gol terbanyak. Sejurus dengan itu, gaji tertinggi pun digenggam pemain impor.

Pemandangan paling tragis nampak ketika menoleh bangku pemain cadangan. Sejumlah bintang muda, yang namanya bersinar di ajang kompetisi kelompok umur nasional dan internasional, hanya menghabiskan menit bermain di pinggir lapangan. Ketika pemain asing berjibaku  mengarungi ketatnya (demikian istilah yang kerap disebut para komentator di layar kaca meski tampaknya tidak ketat-ketat amat) persaingan di lapangan, bintang-bintang muda ini harus melewatkan “masa emasnya” di “bench” pemain cadangan. Padahal, ketika timnas bertanding, tenaga mereka jadi andalan. Kehormatan bangsa pun dipertaruhkan di pundak mereka. Ironisnya, justru mereka tidak banyak mendapat kesempatan karena “kalah” bersaing berebut menit bermain dengan pemain asing atau pemain lokal yang jauh lebih senior.

Inilah dilema yang muncul ketika kran masuknya pemain asing dibuka. Jika tanpa proteksi, membiarkan pemain asing dan lokal bersaing di pasar bebas tak ubahnya melepas ternak di tengah belantara. Namun jika ditutup rapat-rapat, apa yang disebut “transfer keahlian” tidak akan terjadi.

Tidak ada tanda-tanda akan terjadi pengetatan terhadap masuknya pemain asing. Bahkan kalau tidak dibatasi, bisa jadi pemilik klub akan memainkan sebelas pemain impor dalam satu pertandingan.

Halaman:

Editor: Siska Nirmala

Tags

Komentar

Terkini

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Filsafat Bobotoh

9 Januari 2020, 11:55 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X