Jumat, 5 Juni 2020

Angin ke Cibéo

- 11 Juli 2019, 13:01 WIB
JEMBATAN bambu Kanekes/HAWE SETIAWAN

MANG Sanip menyalakan pelita. Bahan bakarnya minyak kelapa, sumbunya kain perca. Wadah minyaknya sepertiga batok kelapa, didudukkan di buku bambu. Di kedua sisi pangkal bambu, tersisa bagian batang yang lebih panjang. Kedua ujungnya disambungkan dengan belahan bambu sejenis, dikasih pengait di tengah-tengahnya. Dengan itu, lampu kecil itu dapat menempel ketiang rumah. Itulah lampu totok, satu-satunya alat penerangan buat sepanjang malam.

Rumah keluarga Sanip adalah salah satu di antara sekian rumah di Kampung Cibéo, Banten yang menampung kami, peserta ekskursi Matabumi, buat ikut bermalam pada 6 Juli lalu.

Rumah panggung berdinding anyaman bambu dan beratap daun kiray terbagi atas dua ruangan. Hanya ada satu pintu buat keluar-masuk. Di salah satu pojok terdapat hawu alias tungku. Sesekali kawanan ayam berkotek di kolong rumah. Sambil duduk bersila di atas palupuh yang mengkilat, kami bercengkerama sambil menikmati kopi yang dituang ke dalam cangkir bambu.

Malam itu kami makan enak sekali. Salah satu menunya yang unik adalah sayur daun seuhang. Kata si empunya rumah, daun itu berasal dari tanaman liar, sejenis perdu yang tumbuh sendiri di huma. Dikasih garam dan santan, diolah seperti lodeh, daun itu jauh lebih empuk ketimbang buntil daun ketela. Nasi mengepul dalam baris, sejenis boboko yang pinggangnya ramping. Ikan asin, juga empal, tak kalah sedapnya.

Makan malam yang hebat dan obrolan ringan yang hangat terasa jadi penawar lelah. Sebelumnya, para petualang akhir pekan mesti berjalan kaki dari Cijahé, naik-turun bukit menyusuri perkampungan adat, tak kurang dua jam lamanya.

Setelah makan dan mengobrol, kami tergeletak sendiri kayak rombongan pengungsi, tidur nyenyak tanpa gangguan nyamuk. Keesokan paginya kami mandi dan buang air di kali. Di situ kami belajar membersihkan badan tanpa pasta gigi, sabun, atau sampo. Air pegunungan yang sejuk dan jernih menjadikan badan terasa segar dan hati jadi gembira.

Luar dan dalam

Mang Sanip adalah menantu Jaro Sami. Jaro adalah pemimpin warga di bawah pemimpin tertinggi yang disebut puun. Hari itu, segenap warga Cibéo berada di bawah naungan Puun Jahadi. Jaro Sami bertugas sebagai pemangku adat atau jaro adat. Untuk urusan pemerintahan, ada pemangku lain yakni Jaro Saija, yang memikul tugas sepeninggal mendiang Jaro Dainah.

Malam itu, Jaro Sami berkunjung ke rumah menantunya. Seperti umumnya warga setempat, ia bertubuh ramping, pejal, dan berkulit bersih. Ikat kepala dan kemejanya putih, sedangkan kain penutup bagian bawah tubuhnya di atas lutut berwarna hitam dan bergaris-garis putih. Dalam pandangan saya, wajahnya memancarkan karisma.

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Wajah Bertopeng

3 Juni 2020, 16:59 WIB

Mendadak New Normal

1 Juni 2020, 08:55 WIB

Madah Persapuan

28 Mei 2020, 06:00 WIB

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X