Kamis, 27 Februari 2020

Kesaksian dalam Belukar

- 21 Juni 2019, 15:01 WIB
RASHOMON and Other Stories/DOK. PR

SATU peristiwa dituturkan oleh sekian orang, diceritakan menurut sekian kesaksian dan pengakuan. Itulah yang kita baca dalam cerita pendek klasik, “Dalam Belukar”, karya mendiang Ryūnosuke Akutagawa.

Cerpen yang pertama kali terbit pada 1922 itu dalam bahasa aslinya berjudul “Yabu no naka”. Karena saya tidak paham bahasa Jepang, saya hanya dapat membaca terjemahan Takashi Kojima dalam bahasa Inggris, “In a Grove”, yang terhimpun dalam kumpulan “Rashomon and Other Stories” (Tuttle, cet. ke-24, 1996).

Kisahnya masih kita ingat. Seorang samurai bernama Kanazawa no Takehiko ditemukan tewas dalam belukar di sebuah hutan pegunungan. Jasadnya ditemukan oleh seorang penebang pohon.

Sebelumnya, seorang rahib Buddha pengelana melihat sang samurai pergi berjalan kaki bersama Masago, istrinya, yang naik kuda. Menurut ibu mertua sang samurai, suami-istri itu hendak berkunjung ke Wakasa.

Bagaimana kejadiannya? Pembunuhankah? Siapa pelakunya? Bunuh dirikah? Apa sebabnya? Bagaimana dengan istrinya? Rincian kejadian sedikit demi sedikit dapat kita rekonstruksi seraya mengukuti jalan cerita, sambil menyimak suara tokoh-tokoh cerita.

Melalui Komisaris Tinggi Polisi, keterangan terhimpun dari sejumlah pihak, yaitu penebang kayu; rahib Buddha pengelana; opsir polisi yang menangkap penjahat Tajomaru; ibu mertua sang samurai; Tajomaru sang penjahat; Masago; dan sang samurai yang arwahnya bicara melalui perantara.

Jadi, ada tujuh tokoh yang hadir dalam cerita. Narator sendiri tidak hadir dalam cerita. Ia bersembunyi di suatu tempat, berjarak dari cerita. Dipersilakannya para pembaca langsung menyimak keterangan tiap-tiap tokoh, masing-masing dari sudut pandang orang pertama. Pembaca seakan duduk ti tempat Komisaris Tinggi Polisi yang menerima keterangan itu semua.

Untuk tuturan yang dikemukakan oleh tiap-tiap tokoh cerita, penerjemah memakai istilah “testimony” (kesaksian) dan “confession” (pengakuan). Testimoni disampaikan oleh tokoh-tokoh cerita yang mengenal atau melihat orang-orang yang terkait dengan kejadian, yakni penebang kayu, rahib, polisi, dan ibu mertua. Pengakuan disampaikan oleh mereka yang terlibat dalam kejadian, yakni Tajomaru, Masago, dan Kanazawa. Empat punya kesaksian, tiga punya pengakuan.

Salah satu hal yang menarik buat saya dari teknik penceritaan dengan narator berjarak seperti ini adalah peran “perantara” (medium) dalam tuturan pengakuan “korban tewas” (murdered man). Dengan kata lain, “confession” tokoh cerita di sini dikasih keterangan “sebagaimana yang disampaikan melalui perantara” (as told through a medium).

Halaman:

Editor: Hawe Setiawan

Tags

Komentar

Terkini

Karangan dari Garis Depan

27 Februari 2020, 10:17 WIB

Para Pangeran

25 Februari 2020, 05:58 WIB

Restu Pemerintah untuk Liga 1 2020

23 Februari 2020, 13:32 WIB

Siklus Padi di Halimun

20 Februari 2020, 06:00 WIB

Wisata Halal

18 Februari 2020, 17:26 WIB

Seputar Ayam Bandung

13 Februari 2020, 06:00 WIB

Kritik Para Raja

11 Februari 2020, 15:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X