Sabtu, 30 Mei 2020

Ketika Malam Purnama

- 18 Mei 2019, 00:04 WIB
BULAN purnama/DOK. PR

Olah raga di kampung kami, di Pameungpeuk, Garut bukan sekadar menggerakkan badan, tetapi lebih dari itu, menjadi tempat untuk berkumpulnya warga. 

Ketika di kampung kami belum ada lapangan bulutangkis, misalnya, siapa saja yang tertarik untuk bermain, datang untuk ikut bergotong-royong membangun lapangan, tak terkecuali anak-anak. Bila ada suatu kegiatan, mereka langsung mendekat dan belajar dengan cara melihat.
 
Lapangan bulutangkis dibangun di tanah yang luas sehingga di sekelilingnya masih dapat dibuat bangku-bangku dari batang bambu yang diberi tiang. Anak-anak senang melihat bagaimana para pemuda dan orangtua membuat lapangan badminton

Ada yang meratakan dan mengeraskan lahan dengan menyiramkan air secara merata, lalu dikeraskan dengan menggelindingkan batang kelapa sepanjang 1 meter. Di kedua ujungnya dipasangi pasak, lalu dua potong bambu yang sudah dilubangi ujungnya dimasukan ke pasak. 

Ketika dua potong bambu itu ditarik, batang kelapa yang sudah diratakan sampai membulat licin akan berputar. Ditarik mondar-mandir dari ujung ke ujung tanah yang akan dijadikan lapangan sampai rata dan keras. Yang lainnya memotongi dahan kayu seukuran jempol kaki orang dewasa sepanjang 15 cm, lalu ujungnya diruncingkan. 

Ada juga yang membelah batang bambu yang panjang sampai selebar 2,5 cm, dibersihkan sampai halus agar tidak membahayakan. Dua orang merentangkan tali bambu untuk mengukur panjang-lebar lapangan. 

Satu orang menancapkan pasak dengan cara dipalu. Ada juga yang memasang tiang bambu yang nantinya akan direntangkan net, dan beberapa tiang lampu pompa-patromaks. Selain sore hari, bermain bulutangkis pada bulan puasa sering dilakukan setelah tarawih.

Bila 34 pasak sudah menancap di titik yang sesuai ukuran, bilah bambu yang panjang itu dipaku ke pasak tadi sehingga tidak mudah lepas. Bambu itu kemudian dilabur dengan kapur bakar yang sudah dilarutkan.

Anak-anak terus melihat bagaimana orang dewasa membuat lapangan badminton. Sisa potongan bambu yang sudah tidak dipakai, segera diambil. Potongan yang pendek dipakai untuk bermain gatrik dan yang panjang untuk bermain pedang-pedangan. 

Kami menyebutnya sermen. Saat para pembuat lapangan badminton beristirahat, minum teh hangat, dan potongan gula merah, anak-anak membuat properti bermain gatrik dan pedang-pedangan, mungpung ada golok dan gergaji. Saat memotong, bambunya diberi alas kayu atau bambu lagi sehingga orang dewasa itu tidak akan marah. Namun kalau goloknya terkena batu, mereka bisa marah besar.

Halaman:

Editor: T Bachtiar


Tags

Komentar

Terkini

Madah Persapuan

28 Mei 2020, 06:00 WIB

Ketika Budak Menjadi Raja

26 Mei 2020, 09:52 WIB

Bibliografi D.D.

21 Mei 2020, 07:43 WIB

Praktik Baik di Masa Pandemik

19 Mei 2020, 10:43 WIB

Jejak Bus Kota Robur di Bandung

16 Mei 2020, 06:00 WIB

Maut dan Bersin

14 Mei 2020, 09:12 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X