Kamis, 23 Januari 2020

Demokrasi Religius

- 16 April 2019, 00:05 WIB
MURAL bertema Pemilu dibuat di salah satu sudut jalan di Ciracas, Serang, Banten, Sabtu 6 April 2019. Mural yang dibuat secara sukarela oleh Komunitas Suara Rakyat tersebut bertujuan mendorong warga agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang.*/ANTARA

Kedua, salah satu ciri kontestasi demokratis adalah adanya kesamaan di dalam kesempatan (untuk menang). Inilah asas pemilu yang adil, dan keadilan adalah pangkal kedamaian. Ini berarti, setiap kontestan dapat melakukan apa saja sejauh tidak dilarang undang-undang dan kepatutan demi meraih kemenangan. Namun ketika suara sudah dihitung, takdir bicara.

Pepatah Arab yang mengatakan “Keinginan yang kuat tidak bisa merobohkan dinding takdir” amat relevan untuk menyikapi hasil pemilu 17 April.

Bila dalam bulan-bulan terakhir dua kekuatan berlomba-lomba menggembalakan asa, merancang siasat, dan memelihara optimisme, begitu kotak suara dibuka, takdir akan bicara.

Saat itu teka-teki akan terjawab. Iktiar dan doa berbuah takdir. Pahit manisnya takdir adalah keputusan terbaik Tuhan yang tidak bisa dibantah.

Ketiga, meski teori-teori politik mutakhir menghubungkan pemilu dengan sekularisasi politik, praktik pemilihan presiden dan anggota legislatif di Indonesia tidak benar-benar sekuler.

Meski keyakinan hasil tidak akan mengkhianati proses terus dihidup-hidupkan sebagai pemacu spirit, keyakinan bahwa kemenangan adalah “berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” terus hidup, baik secara personal maupun sebagai norma sosial. Tak heran, ikhtiar politik selalu diletakkan dalam kerangka basmalah dan hamdalah.

Dalam konteks ini, demokrasi (yang sebagian ajarannya diimpor dari Barat) telah bersenyawa dengan keyakinan teologis yang dianut masyaraka Indonessia. Doktrin “demokrasi religius” teramati bukan hanya dalam memandang makna kekuasaan dan cara-cara meraihnya, tetapi juga mencerminkan jiwa kepemimpinan (soul of  the leader) masyarakat Indonesia.

Pemimpin yang terpilih secara demokratis bukan hanya mereka yang mendapat persetujuan rakyat, melainkan juga mendapat rahmat–sekaligus cobaan–dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Itulah sebabnya, keputusan yang diambil bukan hanya tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah yang Maha Kuasa.

Karena itu, pemilu adalah kontes kebajikan. Pemenangnya adalah mereka yang memiliki kebaikan lebih banyak dibanding kandidat lainnya.

Halaman:

Editor: Karim Suryadi

Tags

Komentar

Terkini

Maung Bayangan

23 Januari 2020, 06:00 WIB

Menempuh Jalur Negatif

21 Januari 2020, 11:47 WIB

Lampu Keadilan

15 Januari 2020, 11:52 WIB

Hadé Gogog

14 Januari 2020, 12:27 WIB

Filsafat Bobotoh

9 Januari 2020, 11:55 WIB

Terpopuler

Jawa Barat Network

X