Demokrasi Religius

- 16 April 2019, 00:05 WIB
MURAL bertema Pemilu dibuat di salah satu sudut jalan di Ciracas, Serang, Banten, Sabtu 6 April 2019. Mural yang dibuat secara sukarela oleh Komunitas Suara Rakyat tersebut bertujuan mendorong warga agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang.*/ANTARA

ADA kejadian menarik ketika penyuluhan pemilu digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bandung, Kamis 11 April di Hotel Oasis.

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, salah seorang peserta paling senior menghampiri narasumber. Sang kakek, yang kemudian diketahui bernama Hanafiah, tidak bertanya. Salah seorang alim ulama yang rendah hati tersebut, dan tidak menonjolkan tampilan keulamaan seperti yang sering tampak di media, menyerahkan secarik kertas.

Di sudut kanan kertas tertulis nama Hanafiah. Di bawahnya tertera dua pesan yang ditulis tangan. Sebagian ditulis dengan huruf latin dan sebagian lainnya ditulis dalam huruf Arab.

Tulisan tersebut membawa dua pesan penting. Pertama, siapa pun yang terpilih adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala. Kekuasaan adalah rahmat sekaligus cobaan.

Kedua, jadikan pedoman bagi pemilih, apa pun hasilnya, hadis qudsi di bawah ini. Kutipan hadis qudsi tersebut mengandung arti, “Sesungguhnya Allah rida kepada kalian akan tiga hal: (1) agar kalian menyembah kepada Allah dan jangan menyekutukan sesuatu pun dengannya; (2) berpegang teguh kepada tali agama dan jangan terpecah-pecah; dan (3) saling menasihati (dengan penguasa), yang kepadanya Allah menguasakan urusan kalian”.

Saya membacakan sepucuk surat tersebut di depan forum (dan keesokan harinya, saat saya menghadiri undangan siaran langsung di Kabar Khusus Jelang Debat Pamungkas Pilpres di Tvone). Itulah substansi, sekaligus kesimpulan serangkaian penyuluhan kepemiluan bagi pemilih.

Pesan yang tersurat dalam hadis qudsi tersebut cukup gamblang, namun legacy yang dikirimkan Pak Hanafiah lebih dari itu. Pertama, di tengah tarikan berbagai kekuatan yang bersaing meraih simpati, diperlukan kesadaran untuk meletakkan rezim pemilu sebagai bagian dari ikhtiar mendatangkan kebajikan.

Agar ikhtiar ini mendatangkan hasil, “iman politik” tidak boleh merusak kualitas peribadatan kepada Allah, memecah belah umat, dan memutuskan tali silaturahmi.

Halaman:

Editor: Karim Suryadi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Diego Maradona, Puncak Duka 2020

26 November 2020, 09:19 WIB

Arema yang Mana

16 November 2020, 15:14 WIB

Menjadi Ayah

13 November 2020, 19:28 WIB

Pertaruhan Nyawa Bulu Tangkis

4 November 2020, 12:08 WIB

Pikiran Jurnalis

25 Oktober 2020, 17:43 WIB

Sekarang KPK sudah Menjadi Biasa Saja

21 Oktober 2020, 09:58 WIB

Membaca Bandung

14 Oktober 2020, 08:31 WIB

Seni Mengarungi Ombak

3 Oktober 2020, 07:40 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X