Pendidikan Pancasila

- 2 April 2019, 00:05 WIB
GARUDA Pancasila.*/DOK. PR

DEBAT calon presiden (capres), Sabtu 30 Maret 2019 malam menyinggung perlunya pendidikan Pancasila di semua jalur dan jenjang pendidikan. Pandangan capres tentang pendidikan Pancasila merupakan respons atas pertanyaan panelis tentang penanaman nilai-nilai Pancasila yang tidak didominasi indoktrinasi. Sebuah pertanyaan yang sangat elementer dan terkesan klise.

Entah karena pertanyaannya yang tidak merangsang capres berpikir lebih dalam, atau karena komitmen para capres terhadap Pendidikan Pancasila yang tidak sebesar pembangunan infrastruktur atau penataan sistem pertahanan dan keamanan (angkatan perang dan kepolisian), jawaban capres tidak memadai. Keduanya, hanya memberi porsi yang sedikit, tampak enggan membicarakan pendidikan Pancasila, dan hanya mengatakan sesuatu yang sudah menjadi pengetahuan umum. Mereka mengabaikan sesuatu yang penting dilakukan.

Keduanya sepakat Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sudah final. Tuduhan, kekhawatiran, atau mungkin tanda tanya publik, tentang adanya penumpang gelap dalam narasi ideologi Pancasila tidak dikupas. Bahkan ketika capres Prabowo mempersoalkan adanya pendukung Joko Widodo yang menuduh dirinya akan menggantikan ideologi Pancasila dengan khilafah, capres 01 pun merespons dengan menasehati tuduhan tidak perlu dijawab. Padahal beberapa hari menjelang debat, saat dirinya berorasi dalam kampanye terbuka di Yogyakarta, sang petahana mengancam akan melawan mereka yang menuduh dan  memfitnah dirinya. Konsensus dasar bernegara sudah terbangun. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sudah tidak terbantahkan.

Sebagai gagasan yang hidup, Pancasila mutlak harus diperkenalkan (melalui pengajaran dan praktik dalam tindakan), ditanamkan, dan diteruskan kepada generasi yang akan datang. Pada titik inilah jawaban kedua capres terasa amat minimal.

Kesatu, kedua capres menyebut pendidikan Pancasila perlu diberikan sejak usia dini (Prabowo menyebut perlu diberikan sejak taman kanak-kanak, sementara Joko Widodo menyatakan sejak sebelum taman kanak-kanak). Keduanya menyebut perlunya teladan. Joko Widodo pun menyebut pendidikan Pancasila bisa juga dilakukan melalui berbagai visual di media sosial. Sementara Prabowo menyebut pendidikan Pancasila tidak sepenuhnya bisa dibebaskan dari indoktrinasi.

loading...

Sayangnya, keduanya seperti menutup mata bahwa pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) telah diajarkan di persekolahan. Di perguruan tinggi, Pendidikan Pancasila timbul tenggelam, terakhir disampaikan melalui Pendidikan Kewarganegaraan, dan mulai tahun depan pendidikan Pancasila akan kembali menjadi mata kuliah di beberapa perguruan tinggi.

Tidak ada kritik atau apresiasi atas penyelenggaraan PPKn selama ini. Bahkan kedua capres tidak menyebut PPKn. Tentu guru-guru PPKn menunaikan tugasnya dengan ikhlas, tak berharap disanjung, bahkan tak “geer” mendapat ucapan terima kasih dari kedua capres.

Namun sikap menutup mata keduanya menegaskan bahwa mereka menjawab pertanyaan panelis tidak berangkat dari kondisi nyata. Akibatnya, apa yang mereka katakan dan dianggap sebagai sesuatu yang baru sesungguhnya sudah dipraktikan puluhan tahun. Tidak ada kebaruan, tidak ada gagasan visioner.

Bahkan dilihat dari proporsi pembicaraan yang hanya seuprit, mengisyaratkan keduanya enggan membicarakan pendidikan Pancasila. Padahal, pendidikan Pancasila dan ideologi (yang menjadi tema debat) tidak bisa dipisahkan. Apalagi pertanyaan panelis jelas-jelas mempertanyakan model penanaman nilai-nilai Pancasila.

Halaman:

Editor: Karim Suryadi


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Terkini

Anggaran untuk PSSI

2 Agustus 2020, 13:31 WIB

Bandung Tiada Bandingnya

30 Juli 2020, 12:15 WIB

Menanggulangi Dinasti Politik

26 Juli 2020, 12:55 WIB

Kisah Tiga Indonesia

23 Juli 2020, 06:05 WIB

27 Tahun Viking Persib Club

19 Juli 2020, 14:01 WIB

Mengganggu tapi Perlu

16 Juli 2020, 07:17 WIB

Misteri Rekomendasi Partai

14 Juli 2020, 06:05 WIB

Jeumpa dan Béntang

9 Juli 2020, 06:45 WIB

Apa yang Ditunggu Presiden?

7 Juli 2020, 06:47 WIB

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X