Pengasuhan Anak Berbasis Komunitas Versi Tanoker

- 20 Oktober 2021, 19:32 WIB
Ilustrasi anak-anak.
Ilustrasi anak-anak. /Pixabay/Sasint

PIKIRAN RAKYAT - Tidak terlintas dalam pikiran begitu pertama kali datang ke lembaga pendidikan informal dan pemberdayaan bagi anak buruh migran dengan ikon egrang yang
menyematkan namanya dengan Tanoker, dalam bahasa Madura, kepompong di daerah Ledokombo, Jember.

Bermetamorfosa dalam sikap, pengetahuan, paradigma dan tentu value dalam bahasa Prof. Achmad Sanusi disebut dengan the six value’s System, dari nilai teologis sampai teleologis betul-betul menginspirasi dari desa kecil tapi mendunia.

Komunitas ini memfasilitasi ‘kebutuhan’ anak yang mayoritas orang tuanya buruh migran di kota-kota besar di Indonesia maupun di luar negeri dengan metode pembelajaran yang berbasis humanistic dan egaliter.

Betapa teori-teori Paulo Freire, Ivan Illic tidak hanya sebatas kata tetapi diimplementasikan dalam tataran realitas, pendidikan yang membebaskan dengan memperhatikan potensi anak, yang dalam penemuan terbaru disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligence), yang semakin tergerus oleh performa sekolah formal yang cenderung mengesampingkan potensi anak untuk tidak menyebutnya mematikan potensi anak, karena hanya memperhatikan kecerdasan intelektual.

Baca Juga: UNESCO Adopsi 2 Resolusi Lindungi Budaya dan Pendidikan Palestina

Tanoker; Pembelajaran yang Membebaskan

Pertanyaan yang muncul, bahwa komunitas ini akan menjadikan anak akan tercerabut dari akar psikologis dengan keluarganya juga terbantahkan. Karena sungguhpun anak-anak ini orang tuanya tidak ada, tetapi tetap tinggal bersama saudaranya yang lain dan mereka kapanpun dengan stimulus renang, iming-iming hadiah bisa datang ke tempat ini setelah sekolah formal.

Bahkan dengan memanfaatkan teknologi sekarang melalui media sosial progress report anaknya bisa diakses secara cepat oleh orangtuanya dengan pendampingan pembelajaran oleh relawan maupun tenaga pengajar tetap di komunitas tersebut.

Dengan teori pembelajaran yang membebaskan, komunitas ini menempatkan dirinya menjadikan anak belajar dengan nyaman dan menyenangkan tanpa tekanan. Pembelajaran juga berangkat dari masalah dan dipecahkan bersama dengan media bermain, perpustakaan, dan kolam renang.

Halaman:

Editor: Rahmi Nurfajriani


Tags

Artikel Pilihan

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X