Pribumisasi Islam: Reinterpretasi Ide Gus Dur

- 14 Oktober 2021, 12:15 WIB
Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. /Antara Foto

PIKIRAN RAKYAT - Ide pribumisasi Islam yang digagas oleh KH. Abdurrahman Wahid tentu berbeda dengan terma pribumi yang sedang booming saat pidato Anies—sebagaimana diucapulang pada pidato perdananya Gubernur DKI Jakarta Prof. Anies Rasyid Baswedan—yang kemudian ada yang memperkarakannya karena dianggap melanggar undang-undang tentang larangan diskriminasi dan ras, kemudian KUHP pasal 157, undang-undang ITE pasal 28 ayat 2 serta larangan kata pribumi pada Inpres No. 26 tahun 1998 yang sangat sensitif. Prof. Anies membantahnya dengan melihat konteks kata pribumi terkait masa kolonialisme Belanda. 

Ide pribumisasi Islam akan kita bahas pada tulisan ini, walaupun bukan sesuatu yang baru dan mengingatkan kembali tentang ide besar dari pemikiran seorang tokoh besar dalam memperingati Hari Santri Nasional, dan Gus Dur nota bene-nya adalah seorang santri tulen, lahir dan dibesarkan serta mengabdi di Pesantren. 

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah sosok yang menarik sekaligus kontroversial untuk dibicarakan. Sekedar menyebut contoh, ketika orang ramai-ramai membicarakan sistem bunga pada bank konvensional, ia mendirikan bank Nusamba. Saat goyang “ngecor” Inul diperbincangkan—bahkan membuat ‘murka’ raja dangdut Rhoma Irama—ia dengan enteng mengatakan barisan tentara saja masing goyang-goyang, begitu saja kok repot. Menolak untuk duduk pada jajaran kepengurusan ICMI, karena dianggapnya sekterian dan elitis. Pada tataran keilmuan, dunia Islam sepakat dengan gagasan Islamisasi, ia menggelindingkan ide Pribumisasi Islam yang hanya ada di Indonesia. 

Baca Juga: Penjara atau Rumah? Kamar Narapidana di Lapas Kelas 1 Cipinang Disorot, Bisnis ‘Haram’ Juga Marak

Bahkan pemikiran yang bersentuhan dengan budaya Barat—yang berbeda dengan kultur dunia pesantren yang sangat hierarkis, tertutup dan penuh etika, dunia Timur yang terbuka dan keras—juga menjadi ciri pemikirannya yang liberal, rasional dan sekuler. Keterlibatannya dalam Forum Demokrasi (Fordem) semakin menegasikan itu, walaupun sampai ahir hayatnya hampir tidak ada yang dominan (Pesantren, Timur Tengah dan Barat), tetapi bersinergi dan melakukan dialog dalam diri Gus Dur. Inilah sebabnya mengapa Gus Dur selalu dinamis dan susah dipahami. Kebebasannya dalam berpikir dan luasnya cakrawala pemikiran yang dimilikinya melampaui batas-batas tradisionalisme yang dipegangi komunitasnya sendiri.

Selayang Pandang Biografi Gus Dur

Beliau lahir dengan nama Abdurrahman  Addakhil. “Addakhil” berarti “Penakluk”, terma “Addakhil” tidak begitu dikenali dan diganti dengan nama “Wahid” (satu, esa, tunggal), dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan mesra dan manja Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas pondok pesantren kepada seorang anak kyai yang bermakna “abang” atau “mas”. Gus Dur merupakan anak sulung dari enam bersaudara dari tokoh besar dan kyai masyhur, KH. Wahid Hasyim. Gus Dur keturunan ‘darah biru’ dari KH. Hasyim Asy’ari—pembina dan pendiri NU—juga dari KH. Bisri Syamsuri—pengajar pesantren pertama yang membuka kelas untuk perempuan.

Gus Dur lahir pada hari ke-4 dan bulan ke-8 kalender Islam tahun 1940 atau 7 September 1940 di Denanyar, Jobang, Jawa Timur dari pasangan Wahid Hasyim dan sholehah. Pada ahir 1944 ayahnya pindah ke Jakarta, Gus Dur dibawanya ikut serta dan terpilih menjadi ketua Masyumi. Setelah kemerdekaan, Gus Dur kembali ke Jombang. Pada akhir perang tahun 1949, KH. Wahid Hasyim pindah ke Jakarta dan dilantik sebagai menteri agama. Gus Dur belajar di Jakarta masuk SD, ia banyak membaca buku-buku non-muslim, majalah dan surat kabar untuk memperluas cakrawala pengetahuannya. Pada 18 April 1953 ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan kereta dalam perjalanan ke Sumedang.

Baca Juga: Ikatan Cinta 14 Oktober 2021: Andin Berhasil Buntuti Iqbal, Masa Kelam Mama Rosa Terungkap?

Pada 1954, Gus Dur masuk SMP kemudian dipindahkan ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya dengan belajar kepada KH. Ali Maksum di Ponpes Krapyak dan belajar di SMP. Pada 1957, melanjutkan di Ponpes Tegalrejo, tahun 1959 pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, melanjutkan pendidikan sendiri dan sekaligus menjadi guru. Tahun 1963 Gus Dur menerima beasiswa dari Kemenag untuk belajar di Universitas Al-Azhar. Dari Kairo pindah ke Irak, di sini Gus Dur belajar Satra Arab, falsafah dan teori sosial Eropa, di samping kesukaannya menonton film-film klasik. Kemudian beliau ke belanda, bertolak ke Jerman, Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971. 

Halaman:

Editor: Abdul Muhaemin


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X