Pelajaran dari Tragedi Kebakaran Lapas Tangerang, Haruskah Yasona Laoly Mundur?

- 11 September 2021, 08:56 WIB
Lapas Kelas 1 Tangerang yang alami kebakaran.
Lapas Kelas 1 Tangerang yang alami kebakaran. /Dok. Kemenkumham

PIKIRAN RAKYAT - Tragedi Kebakaran di Lapas kelas 1 Tangerang  pada 8 September 2021 mengakibatkan 44 orang meninggal dunia dan 72 orang lainnya luka-luka.

Sontak, berbagai pihak langsung mengarahkan kritik dan mempertanyakan kinerja Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly. Penyelenggaraan pembinaan warga lapas berada di bawah wewenang dan tanggung jawab Kementerian Hukum dan HAM.

Bahkan, beberapa kalangan menilai, dengan tragedi tersebut, seharusnya Yasona Laoly secara etika mengundurkan diri karena dinilai tidak mampu mengurus lapas yang merupakan cakupan wilayah wewenangnya.

Tidak sedikit juga pihak yang justru empati dan tetap mendukung peningkatan kinerja Yasona Laoly seperti beberapa kalangan aktivis yang justru mencoba melihat persoalan dengan lebih kompleks, termasuk menyoroti persoalan kapasitas lapas yang sudah tidak normal (over-capacity).

Baca Juga: Kasus Pencurian Susu Berakhir Damai, Hukum Pidana Jadi Jalan Terakhir

Institute for Criminal Justice Reforme (ICJR) misalnya, menyoroti kelebihan muatan lapas, sebagaimana yang terjadi selama ini.

Lapas Kelas 1 Tangerang yang lazimnya memuat 900 orang, dihuni 2.069 orang atau dua kali lipat kapasitas maksimum yang seharusnya dihuni.

Saya mencoba mendukung pandangan kedua. Permasalahan kebakaran lapas tidak hanya terbatas pada instalasi listrik yang menyebabkan terbakarnya lapas dan mengambinghitamkan Menteri Hukum dan HAM.

Sehingga, seolah memberi persepsi bahwa Yasona Laoly harus mundur dari jabatannya. Jika logika ini tetap dipertahankan, tidak menutup kemungkinan juga kejadian serupa akan kembali terualang.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X