Melawan Ameliorasi Koruptor, Sebut Saja Maling atau Garong

- 29 Agustus 2021, 19:56 WIB
Ilustrasi koruptor.
Ilustrasi koruptor. /Pikiran Rakyat/Yusuf Wijanarko

PIKIRAN RAKYAT – “Selamat pagi, Hinh. Ada kabar baru?” ujar Thomas Fowler yang diperankan Michael Caine kepada rekanya, Hinh, seorang Vietnam, dalam film The Quiet American.

Hinh menjawab, “Oh, korupsi, dusta....”

Belum selesai Hinh dengan kalimatnya, Thomas Fowler memotong, “Aku bilang ‘baru’.”

Dari dialog itu penonton bisa tahu bahwa korupsi dan dusta bukan lagi hal baru bagi Thomas Fowler yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai jurnalis. Melaporkan berbagai aksi lancung sepanjang kariernya barangkali membuat dia kebal dan semakin biasa dengan kejahatan korupsi.

Ada kalanya, semakin sering seseorang mendengar kata yang punya nilai rasa atau konotasi buruk, semakin hilang derajat keburukannya dan dia menganggap makna di balik kata itu sebagai hal yang lumrah. Terlebih, jika konotasi kata itu semakin dilunakkan kekuasaan melalui berbagai alat kerjanya.

‘Korupsi’ dan pelakunya yang disebut ‘koruptor’ menjadi kata yang semakin ramai disebut di media massa Indonesia setidaknya sejak 1998 usai peristiwa besar yang sudah kita ketahui bersama.

Semula, ‘koruptor’ punya nilai rasa yang sedemikian buruk, terlebih bagi masyarakat yang jarang mendengarnya, kemudian perlahan paham dampaknya.

Disadari atau tidak, seiring waktu, ‘korupsi’ dan ‘koruptor’ mengalami perubahan nilai rasa. Kedua kata itu terdengar menjadi lebih sopan dan lebih halus dari pengertian dasarnya, tindakan mencuri.

Untuk memahami pergeseran rasa itu, mau tidak mau kita karus menengok KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai rujukan pemaknaan kata.

Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X