Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Situ Garunggang Pernah Ada di Bandung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

NAMA Garunggang dalam peta Bandung tempo dulu/T BACHTIAR
NAMA Garunggang dalam peta Bandung tempo dulu/T BACHTIAR

DALAM peta-peta Bandung awal abad ke-19, di utara Bandung terdapat kawasan yang bernama Garunggang, di sekitar Cihampelas-Cipaganti sekarang.

Pengertian utara saat itu menunjukkan bahwa kawasan tersebut berada di luar kota Bandung. Pabrik kina saja posisinya berada paling luar dalam lingkaran perkotaan saat itu.

Garunggang berada di sebelah utara pabrik kina. Sangat beralasan, mengapa kawasan itu oleh penduduk dinami Garunggang. Dalam bahasa Kawi, garunggang itu bermakna kosong atau hampa. (Prof. Drs. Wojowasito (1998)). Pada saat itu, pada awal penghunian kawasan sekitar daerah itu, suasananya sangat sunyi.

Akan tetapi, daerah yang sunyi sepi itu kemudian menjadi tempat wisata air di pinggir Cikapundung yang sangat ramai.

NAMA Garunggang dalam peta Bandung tempo dulu/T BACHTIAR

Dalam buku panduan pelesiran zaman kolonial, SA Reitsma dan WH Hooglend (1927), menulis buku panduan yang berjudul Gids van Bandoeng en Midden-Priangan.

Dalam buku tersebut dituliskan, bahwa di sebelah timur Jl Cihampelas, sedekit ke bawah (selatan) dari pabrik, terdapat jalan sempit menuju ke arah timur. Setelah berjalan beberapa menit, di sana terdapat Situ Garunggang atau Empang Cipaganti. Situ ini milik Haji Sobandi. Semula situ ini masih berupa lahan di pinggir Cikapundung yang dipisahkan oleh tanggul yang kokoh.

Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan jalan dan gedung yang saat itu banyak dikerjakan, maka H Sobandi mulai menggali lahannya untuk diambil batunya. Seperti halnya H Mas Aksan yang menggali sawahnya untuk dibuat bata merah yang sangat diperlukan pada saat Kota Bandung banyak membangun gedung-gedung untuk persiapan pemindahan ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung.

Kedalaman Situ Garunggang itu ada yang mencapai tiga meter, banyak dimanfaatkan untuk pesiar dengan berperahu. Tapi, SA Reitsma dan WH Hooglend tidak merekomendasikan untuk berenang di sini, karena airnya tidak bersih. Kalau pun ada juga yang mandi, itu karena mereka ingin melakukan permainan-permainan yang menyenangkan di dalam air.

NAMA Garunggang dalam peta Bandung tempo dulu/T BACHTIAR

Dalam panduan wisata tersebut dituliskan bahwa yang ingin berperahu dikenakan karcis yang harus dibayar, untuk orang dewasa sebesar 25 sen selama setengah jam, dan bagi anak-anak karcisnya dikenakan setengahnya, yaitu 12,5 sen. Bagi yang senang berpetualang, tersedia perahu yang dapat disewa dengan mendayung sendiri, dengan harga sewa sebesar 5 sen.

Nama geografi Garunggang sudah dikenal lama, karena sudah menjadi nama kawasan. Tapi, dalam Peta Bandung yang terbit tahun 1905, belum ada simbol peta yang mencirikan bahwa di kawasan Garunggang itu terdapat situ, baik alami atau buatan.

Baru pada Peta Bandung tahun 1921, 1924, dan 1931, Situ Garunggang sudah tertulis. Dalam buku SA Reitsma dan WH Hooglend (1927), Situ Garunggang sudah menjadi tujuan wisata air.

Selesainya pembuatan jalan raya pos yang melewati Kota Bandung, disusul dengan kepindahan Ibu Kota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke tempat yang sekarang, yaitu pendopo Kota Bandung. Pada tanggal 25 Mei 1810, berlandaskan pada surat Perintah Herman Willem Daendels, Bupati Wiranata Kusumah II kemudian memindahkan ibukota Kabupaten Bandung dari Dayeuhkolot ke lokasi alun-alun Bandung sekarang.

Dalam rentang waktu 1910-1920, pembenahan dan pembangunan Kota Bandung semakin kuat, karena kota ini direncanakan menjadi Ibukota Hindia Belanda. Dalam perkembangannya, toponim Karapyak berganti nama menjadi Dayeuhkolot.

Untuk memenuhi keperluan bahan bangunan untuk membangun gedung-gedung yang megah di Bandung, khusus untuk memenuhi kebutuhan pasir dan batu, maka H Sobandi meminta izin Pemerintah untuk memanfaatkan lahan miliknya diambil pasir dan batunya.

Lama kelamaan, lahan itu menyisakan lubang yang besar, kedalamannya mencapai tiga meter lebih. Upaya reklamasi bekas galian pasir dan batu dengan cara membuat kolam-kolam besar, yang terkenal dengan sebutan empang atau situ.***

Bagikan: