Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Sketsa Abah dan Anaknya

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SEJAK Bu Ami pergi, Pak Yus beberapa kali berbagi foto, juga keterangannya, melalui WhatsApp. Foto-foto itu turut mengabadikan momen-momen manis dalam kehidupan suami-istri yang saya hormati ini. Ada foto mereka di panggung drama, ada pula foto mereka ketika menjuarai kontes baca puisi. Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana rasanya ditinggal istri buat selama-lamanya. 

Baru-baru ini saya mendapatkan buku terbaru karya Pak Yus, Lalampahan Abah jeung Anak Abah (Perjalanan Hidup Ayah dan Anaknya, 2019). Layung, penerbit kecil di Garut, mempublikasikan buku ini dengan sampul kelabu dan sejumlah gambar ilustrasi dari Ayi Sacadipura. Di halaman persembahan terbaca bahwa Pak Yus mengumumkan buku ini seraya mendoakan mendiang ayah, ibu, dan istri tercinta.

Segera saya baca. Buku 92 halaman, termasuk pengantar dari editornya seputar arti sketsa dan jejaknya dalam sastra Sunda, rampung sekali duduk. Isinya 36 sketsa, masing-masing sekitar dua hingga empat halaman. Singkat dan padat. Tiap-tiap judul merupakan karangan yang selesai, tapi juga judul yang satu bertautan dengan judul yang lain, seperti rangkaian foto dalam album keluarga.

Dupi ieu buku téh diseratna sabada Ibu pupus, Pa (Apakah buku ini ditulis sepeninggal Ibu, Pak)?” tanya saya.

Ieu naskah parantos lami pisan. Tiasa janten diseratna parantos rérés taun 1970-an. Henteu dipublikasikeun. Janten, diseratna nuju aya kénéh Ibu (Naskahnya sudah lama sekali. Bisa jadi sudah selesai ditulis pada 1970-an. Tidak dipublikasikan. Jadi, ditulis semasa Ibu masih ada),” jawab Pak Yus.

Sempat saya kontak Ang Titi Bachtiar, salah seorang adik Pak Yus. Ada bagian-bagian dari kenangan Pak Yus yang menurut saya terpaut dengan obrolan Ang Bachtiar dengan saya suatu kali. Namun, jarak batin antara diri sang adik dan lukisan kehidupan dari sang kakak rupanya begitu dekat. Ia begitu terharu dibuatnya. Saya pun surti, tidak memperpanjang diskusi.

Abah adalah istilah Sunda buat “ayah”. Seperti yang tercermin dari judulnya, buku ini menyajikan untaian kenangan mengenai kehidupan sehari-hari yang berpusat pada figur seorang ayah. Itulah ayah yang sempat menikah tapi kemudian keluarganya punah, dan mesti mengawali segalanya dari titik nol lagi. Itulah ayah yang turut merasakan kekejian gerombolan bersenjata pada zaman perang saudara, memendan dendam yang tak pernah padam. Itulah ayah yang giat bertani, sanggup berdagang, dan terampil menjahit pakaian.

Anak Abah (anak sang ayah), yang jadi narator dalam buku ini, pada gilirannya juga tumbuh jadi seorang ayah, meneruskan sejarah keluarga, melanjutkan romantika hidup sehari-hari. Jika Abah hidup di desa dan tidak pergi ke sekolah, anak Abah bergerak ke kota dan jadi bagian dari masyarakat terpelajar yang menulis naskah drama dan menyajikan prasaran dalam seminar.

Meski suratan nasibnya berbeda, baik Abah maupun anak Abah sepertinya berbagi sikap, pendirian, atau watak yang sama. Kadang ada hal konyol yang membersitkan senyum getir, kadang pula timbul kejadian pahit yang tak terbayang bagaimana menanggungnya. Rezeki datang dengan cara yang tidak disangka-sangka, dan orang baru menyadari kekeliruan anggapannya kemudian.  

Abah menjajakan mangga ke luar kampung seakan hanya untuk merasakan susahnya lapar dan haus hingga ia melahap barang dagangannya sendiri. Abah hendak mengirim sang anak ke pesantren tapi di tengah jalan mereka kembali lagi setelah menyadari betapa jauhnya pesantren itu. Anak Abah asyik mengetik naskah drama di saat istrinya tak punya uang buat membeli minyak tanah, dan sang dramawan mengatasi problem ekonomi dengan menobros pot gerabah bekas buat dijadikan tungku.

Lukisan-lukisan pengalaman itu, terutama berkat kepiawaian mengolah punch line di bagian ujungnya, melekat kuat pada benak pembaca. Tidak mustahil pembaca terdorong memasuki permenungan yang jauh lebih panjang ketimbang teks yang telah dibaca.

Buku ini, saya kira, bukan sekadar kristalisasi pengalaman sehari-hari Pak Yus dan Bu Ami sekeluarga, melainkan juga titian yang baik buat kita, para pembaca, untuk melihat lebih dekat hidup kita sendiri. Itulah hidup sehari-hari yang seringkali kita biarkan berlalu begitu saja.***         

Bagikan: