Pikiran Rakyat
USD Jual 14.037,00 Beli 14.135,00 | Berawan, 20.8 ° C

Duo Iwan dan Kepastian Hasil Kongres PSSI

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

SEJAK kemarin sore bermunculan meme dan lelucon tentang terpilihnya dua Iwan sebagai pimpinan PSSI, hasil kongres yang digelar beberapa jam sebelumnya. Pertama adalah Iwan Bule yang terpilih secara mutlak untuk menjadi Ketua Umum PSSI, nama berikutnya adalah Iwan Budianto yang terpilih (lagi) menjadi wakil ketua umum PSSI.

Terlepas dari berbagai opini dan perdebatan, terpilihnya dua nama Iwan bukanlah hal yang mengejutkan, bahkan bisa dianggap sebagai dua kepastian yang mewarnai kongres PSSI kali ini. Hasil ini sekaligus bisa membuat publik menilai dan menduga arah sepak bola Indonesia ke depannya.

Iwan pasti menang

Menjelang pertandingan antara Persib menghadapi Persebaya di Bali, saya bertemu salah seorang pengurus persebaya, kami membahas manuver La Nyalla Mattaliti di Jawa Timur. Diceritakan selain royal, akses yang baik, menguasai medan karena merupakan sosok lama dan menyenangkan bagi banyak komunitas, kekuatan lain La Nyalla saat itu adalah status dirinya yang menjabat ketua DPD RI dan tidak berkonflik dengan istana.

Kami menutup perbincangan dengan kesimpulan hanya La Nyalla Mattaliti lah satu-satunya kompetitor bagi Iwan Bule dalam pemilihan ketua umum PSSI. Kami yang berdiskusi di Denpasar saat itu harus mengabaikan kekuatan calon lain karena berdasar pengalaman selama dua bulan terakhir memang hanya Iwan Bule yang terus bergerak dengan timnya.

Iwan Bule dengan latar belakang perwira tinggi di kepolisian tentu memiliki pengaruh hingga ke seluruh daerah di Indonesia di mana asprov dan para pemilik suara berada. Disangkal atau tidak, secara langsung maupun tidak, akan ada komunikasi antara orangnya Iwan Bule kepada voters terkait selera kepemimpinan yang baik untuk PSSI di masa yang akan datang.

Bahkan saya pernah didatangi oleh salah seorang petinggi partai yang meminta analisis terkait kongres PSSI. Ketika itu saya menjawab bahwa saat ini tak ada yang bisa membendung kehendak polisi. Mereka menduduki berbagai posisi strategis di republik ini. Dan jika ketua umum PSSI dianggap jabatan strategis, maka mereka akan mendapatkannya (saat itu La Nyalla belum maju sebagai calon ketua umum PSSI).

Selama bertahun-tahun, kepemimpinan militer masih diminati dan unggul dalam konteks urusan-urusan sipil termasuk urusan komunitas. Terbukti Edy Rahmayadi pun menang dalam kongres di Ancol tahun beberapa tahun lalu. Maka ketika militer tidak terlibat dalam pertarungan kekuasaan, mereka yang berpeluang besar adalah sipil yang terdidik dan terlatih layaknya militer, dengan garis komando, pengaruh senioritas, jaringan masif serta memegang senjata, itulah polisi.

Munculnya nama La Nyalla di bursa ketua umum sedikit banyak menggoyang kepastian terpilihnya Iwan Bule. Bahkan seorang petinggi klub sempat menanyakan apakah posisi Iwan masih tetap aman karena rupanya La Nyalla mulai melakukan konsolidasi dan jauh lebih royal daripada Iwan Bule. Saat itu saya jawab bahwa posisi Iwan Bule masih aman karena ada indikasi penguasa merestui majunya Iwan sebagai orang nomor 1 di PSSI.

Dengan dasar itu maka ketika La Nyalla menyatakan mundur dari bursa ketua umum PSSI maka kepastian Iwan Bule akan terpilih sebagai ketua umum PSSI berikutnya tidak terbantahkan. Analisis dan prediksi saya terkait hal ini dapat ditelusuri jejaknya melalui kanal youtube, melalui akun bobotohTV, sebelum dimulainya kongres. Saya mengatakan bahwa Iwan Bule takkan terbendung, dan sedikit berspekulasi bahwa La Nyalla memang sengaja “diminta” mundur oleh kekuatan yang sama yang ingin Iwan menang untuk memuluskan jalan Iwan Bule menuju PSSI 1.

Iwan Budianto kesayangan voters

Sementara cibiran tertuju kepada nama Iwan berikutnya yaitu Iwan Budianto. Segala track record (yang tak perlu kita bahas di sini) membuat publik tak habis pikir dan menganggap bahwa sepak bola nasional takkan menuju perubahan berarti.

Saya takkan membahas tentang Iwan kedua ini, namun sekadar mengingatkan bahwa terlepas dari segala kontroversi dan penolakan, maka sesungguhnya terpilihnya Iwan Budianto sebagai wakil ketua umum PSSI adalah sah dan konstitusional. Tak ada cacat formil dan administrasi, bahkan legitimasinya kuat karena kongres ini dihadiri oleh perwakilan AFC dan FIFA sekaligus menpora sebagai representasi pemerintah.

Jika ingin menyalahkan, maka salahkanlah para pemilik suara yang bisa dianggap tak menginginkan perubahan untuk sepak bola negeri ini. Walau publik kecewa, namun jangan lupakan juga tentang logika komunitas. Bahwa walaupun jutaan orang yang tak memiliki hak suara tak menyukai Iwan Budianto, namun ketika komunitas sepak bola pemilik hak suara tetap menginginkan Iwan Budianto di PSSI maka Iwan Budianto akan tetap bertahan di PSSI, jika perlu sampai kiamat.

Lalu apakah itu salah? Tentu tidak selama tidak ada intervensi kepada para voters, justru terpilihnya Iwan Budianto menunjukkan tentang kedaulatan komunitas sepak bola. Jika terpilihnya nama Iwan Budianto dianggap suatu kesalahan maka ini adalah kesalahan kolektif para pemilik suara yang tetap bebal.

Harapan baik tentu masih ada untuk kepengurusan baru ini, karena sejatinya penentu arah sepak bola adalah kepemimpinan federasi. Seorang ketua umum tak perlu memahami secara detail terkait urusan-urusan teknis sepak bola, karena dia bisa memberdayakan anak buahnya. Indonesia hanya memerlukan pemimpin yang bisa memberikan totalitas dan keseriusannya untuk sepak bola Indonesia, jangan menjadikan PSSI sebagai manuver politik dan kekuasaan. 

Integritas tanpa cela tetap menjadi yang utama, karena sepak bola ditegakkan tidak hanya berdasar statuta belaka namun juga etika dan moral para pelakunya.***

Bagikan: