Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Bandara BJ Habibie, Tunggu Lima Tahun Lagi

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019.*/ANTARA
SUASANA Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang lengang di Majalengka, Jawa Barat, Sabtu, 15 Juni 2019.*/ANTARA

TENTANG BJ Habibie sebagai pribadi, ilmuwan, dan Negarawan, tidak akan ada yang meragukan lagi. Integritasnya terhadap NKRI, tak disangsikan lagi. Dalam situasi paling sulit pun, BJ Habibie tetap merah putih.

Pada tahun 1973, BJ Habibie kembali ke Indonesia atas permintaan Presiden Soeharto. Jabatan dalam kabinet yang pernah dipegangnya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT/Kepala BPIS.

Namanya langsung melesat, menjadi role model, panutan para pelajar dan mahasiswa, bahkan banyak pelajar yang bercita-cita ingin seperti pak Habibie. Langsung menyebutkan nama diri -yang bisa membuat pesawat terbang, bukan lagi menyebutkan nama profesinya, seperti cita-cita ingin menjadi dokter, misalnya.

Kepakarannya bereputasi dunia. BJ Habibie adalah pemegang hak paten temuannya yang berkaitan dengan pesawat terbang. Para orang tua menginginkan anaknya, cucunya, pintar seperti Pak Habibie. BJ Habibie menjadi kiblat baru bagi cita-cita para pelajar dan mahasiswa Indonesia.

Cinta sejati BJ Habibie berkecambah di Bandung, dan industr pesawat terbang IPTN berada di Kota Kembang, sehingga Kota Bandung menjadi Kota Dirgantara.

BJ Habibie lahir di Parepare, 25 Juni 1936. Selepas SMP, BJ Habibie melanjutkan sekolah di SMAK Dago, Bandung, kemudian kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954 di jurusan teknik mesin.

Pada 1955–1965, Habibie kuliah di RWTH Aachen, Jerman Barat, mengambil teknik penerbangan, dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang. Pada 1960 lulus dan menerima gelar diploma ingenieur, dan pada tahun 1965 lulus program doktor ingenieur dengan predikat summa cum laude. Lalu bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman.

Pada tahun 1962, BJ Habibie menikah dengan dr Hj Hasri Ainun Besari yang lahir di Semarang, 11 Agustus 1937, kemudian menjadi Ibu Negara Indonesia ketiga (1998 – 1999). Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie pernah menjabat sebagai Wakil Presiden menggantikan Try Sutrisno, kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga menggantikan Soeharto.

Pada tanggal 11 September 2019, pukul 18.05 WIB, BJ Habibie wafat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada usia 83 tahun, menyusul ibu Hasri Ainun Habibie yang sudah lebih dahulu wafat pada tanggal 22 Mei 2010, di Klinikum Großhadern, München, Jerman.

Usulan penyematan nama Habibie pada BIJB

Setelah kepergian BJ Habibie, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengusulkan untuk mengganti nama Bandara Kertajati menjadi Bandara BJ Habibie. Menurutnya, penggantian nama tersebut merupakan bentuk dedikasi terhadap mendiang BJ Habibie atas jasa-jasanya.

Usulan itu ditulisnya dalam instagram pribadinya @ridwankamil, "Apakah netizen setuju khususnya yang warga Jawa Barat setuju jika Bandara International Kertajati didedikasikan menjadi Bandara Internasional BJ Habibie?"

Tak diragukan lagi, pasti semua setuju. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan, seperti banyak dikutip media daring, "Belum ada usulan. Penggantian nama itu diusulkan oleh Pemda setelah disetujui oleh DPRD. Sejauh itu disetujui, kita akan kondisikan," katanya di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Selasa, 17 September 2019.

Mengganti nama bandara dengan nama orang, sudah banyak dilakukan di Indonesia. Nama bandara boleh berganti, tapi kode bandaranya tidak serta-merta bisa ikut berubah. Berikut ini adalah kode bandara di Indonesia sesuai IATA (International Air Transport Association).

Kode bandara itu berupa deretan tiga huruf yang berbeda, sesuai dengan tempat bandara itu berada. Inilah contoh nama bandara yang sudah berganti nama, tapi kode bandaranya tetap: Kalau nanti bandara Kertajadi berganti nama menjadi Bandara BJ Habibie, kode bandaranya tetap KJT, berada di Majalengka. Husein Sastranegara (BDO, Bandung), Ahmad Yani (SRG, Semarang), Soekarno-Hatta (CKG, Tangerang), Sultan Iskandar Muda (BTJ, Banda Aceh), dan lain-lain.

BANDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

Penggantian nama bandara itu dimungkinkan, karena sudah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2008, Tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi. Dalam BAB III, PRINSIP, Pasal 6, prinsip penamaan rupabumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) f, agar: "Menghindari penggunaan nama diri atau nama orang yang masih hidup".

BJ Habibie sudah wafat, sehingga namanya dapat diabadikan menjadi nama bandara internasional. Tapi, Pasal 7-nya mengatur, dalam Pasal 12 dinyatakan, “Prinsip menghindari penggunaan nama diri atau nama orang yang masih hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf f, untuk menghindari pengkultusan individu atau lembaga swasta/pemerintah. Nama orang yang sudah meninggal dunia paling singkat 5 (lima) tahun dan sangat berjasa bagi negara dan/atau penduduk setempat dapat digunakan sebagai nama rupabumi.”

Bila mengacu para Permendagri Nomor 39 Tahun 2008, Gubernur dan warga Jawa Barat harus bersabar untuk menungguh lima tahun lagi, baru nama bandaranya bisa berganti menjadi bandar udara internasional BJ Habibie (KJT).***

Bagikan: