Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23.4 ° C

Pelecehan di Sepak Bola Putri

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

TIM Persib putri sedang melakukan peregangan setelah menjalani latihan di lapangan sepak bola Saraga ITB, Jalan Siliwangi Dalam, Kamis, 3 Oktober 2019.*/IRFAN SUBHAN/PR
TIM Persib putri sedang melakukan peregangan setelah menjalani latihan di lapangan sepak bola Saraga ITB, Jalan Siliwangi Dalam, Kamis, 3 Oktober 2019.*/IRFAN SUBHAN/PR

SEJATINYA gelaran Liga 1 Putri yang bergulir tahun ini menjadi momentum baik tentang jargon “Sepak bola untuk semua”. Tak hanya sekadar menjadi penonton, pengurus klub ataupun petinggi federasi seperti yang ditunjukkan oleh Ratu Tisha, namun perempuan pun ternyata mampu berkiprah secara serius di pusat daya tarik sepak bola yaitu pertandingannya itu sendiri, sebagai pemain.

Bicara sepak bola putri sebenarnya bukan hal baru, pernah ada masa di mana pemain-pemain putri cukup eksis dalam kompetisi dalam negeri, contoh terdekat bagi saya adalah kiprah Papat Yunisal, exco perempuan satu-satunya di PSSI yang juga pemilik SSB putri Queen Bandung. Beberapa tahun terakhir, sepak bola dan perempuan bernapas dalam kesetaraan peran, beberapa manajer klub profesional Indonesia adalah perempuan, terkait event dan kepanpelan pun publik mengenal nama Viola yang terakhir saya kontak tengah berada di Balikpapan. bisa jadi setelah Jakarta dan Sleman, kini dirinya akan memulai kiprah di Balikpapan. Paling fenomenal tentu saja pencapaian Ratu Tisha yang menduduki jabatan sekjen PSSI, jabatan sekjen fedarsi sepak bola bukanlah hal main-main, karena sejatinya sekjen lah yang mengendalikan seluruh program dan urusan administrasi sepak bola secara internal dan eksternal.

Pencapaian-pencapaian srikandi terbaik di sepak bola semakin lengkap ketika kompetisi sepak bola putri diluncurkan, kesan profesional dan serius sangat kentara karena disandingkan dengan embel-embel “Liga1 2019” yang lekat dengan kasta tertinggi sepak bola profesional di Indonesia, suatu apresiasi tersendiri sebenarnya jika dimaknai dengan tepat. Namun momentum baik ini ternoda oleh segelintir oknum pria yang merasa paling benar dengan membawa simbol-simbol pelecehan khas pria terhadap wanita ke ranah sepak bola.

Menyerang perempuan

Langsung ke inti persoalan, pemahaman buruk dan pendidikan yang tak memadai terkait seksisme, isu gender dan feminisme jelas melekat kepada suporter sepak bola tanah air ketika terjadi insiden pelecehan terkait Liga 1 putri 2019 pekan lalu. Dari fakta dan bukti yang beredar luas, pelakunya adalah oknum pendukung Persija jakarta dan klub Arema. Mengutip FoxSports Indonesia (selain melihat langsung tangkapan layar yang viral), kejadiannya terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, suporter Arema FC membuat spanduk bertuliskan “Purel Dolly” ketika tim putri Arema menghadapi Persebaya Surabaya, disusul meme bertuliskan “Maung Lonte” yang dibuat oleh oknum pendukung Persija jelang laga tim putri Macan kemayoran menghadapi tim putri Maung Bandung.

Tanpa melihat konteks sepak bola, tindakan merendahkan seperti itu jelas menyerang perempuan, dan semakin parah ketika kita tahu bahwa pelecehan tersebut terjadi di event sepak bola. Kaum pria terkadang menganggap bahwa sepak bola adalah simbol maskulinitas pria, dalam euforia seperti itu maka mau tidak mau maka insting eksploitatif terhadap perempuan sering kali ditunjukkan. Sebelum kejadian pekan lalu, sudah sangat sering suporter perempuan di tribun dilecehkan dengan ucapan-ucapan tidak senonoh dan godaan murahan, belum lagi perilaku oknum suporter ketika konvoi di jalanan, ucapan cabul dan kotor hingga menjurus aksi cabul seperti menggerayangi dan memegang bagian intim yang terjebak dalam arus konvoi  bukanlah hal yang mengejutkan. Bahkan lebih parah lagi karena ratusan suporter pria yang melihatnya justru hanya tertawa-tawa dan menganggap tindakan menjijikkan itu sebagai hal yang lucu.

Kejadian seperti ini sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia, bahkan event-event besar seperti Piala Dunia pun tak luput dari aksi kampungan suporter sepak bola pria, berbagai pemberitaan menyebutkan aksi pelecehan dialami oleh jurnalis perempuan yang meliput event sepak bola, seperti ucapan cabul hingga sentuhan dan dicium secara tiba-tiba.

Sementara pelaku sepak bola yang beradab terus memerangi pelecehan dan mengupayakan hak perempuan di lingkaran sepak bola (seperti momentum di Iran ketika perempuan bisa hadir di tribun stadion untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun), maka Indonesia memiliki tugas ekstra, karena pelecehan dan penyerangan terhadap martabat perempuan terjadi tak hanya di luar lapangan, namun justru ditujukan kepada para pemain yang menjadi pelaku sepak bola utama di lapangan. Tidak cukup hanya imbauan dan sosialisasi, jerat hukum jelas harus diupayakan untuk membuat jera oknum hidung belang yang hanya mencemari keindahan sepak bola.***

 

 

Bagikan: