Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Badai petir, 27.5 ° C

Mungkalpayung Jadi Mukapayung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

MUNGKALPAYUNG masih bisa ditelusuri di peta yang dibuat pada zaman Belanda.*
MUNGKALPAYUNG masih bisa ditelusuri di peta yang dibuat pada zaman Belanda.*

TULISAN ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengembalikan lagi nama Desa Mukapayung ke nama asal yang diberikan oleh para karuhun Cililin, yaitu Mungkalpayung. Tapi sekadar ingin mengabarkan kembali, bahwa daerah itu, semula namanya Mungkalpayung, dan tertulis dalam peta yang dibuat pada zaman Belanda.

Secara alami, kawasan antara Soreang sampai Cililin, merupakan kawasan gunungapi purba. Sekitar empat juta tahun yang lalu, terjadi letusan-letusan gunungapi di kawasan ini, mulai dari Gunung Singa, Gunung Aul, Gunung Kerud, Gunung Kaseproke, Gunung Kutawaringin, Gunung Batumaseuk, Gunung Putri, Gunung Hanyawong, Gunung Lumbung, Gunung Putri, Gunung Buleud, Gunung Lalakon, Gunung Paseban, Kompleks gunungapi purba Lagadar, dan lain-lain.

Bukti yang menunjukkan bahwa kawasan itu berupa gunung api purba adalah hasil dari letusannya, seperti adanya leleran lava, sumbat lava (banyak dimanfaatkan menjadi batu pecah untuk fondasi), breksi (campuran batuan kecil-kecil yang memadat, seperti cor beton yang sudah mengering, dan ignimbrit, yang dalam istilah masyarakat ada yang menyebutnya cadas, ada juga yang menyebut teras. Pada era tahun 1970-an, teras ini menjadi bahan untuk pembuatan batako. Sekarang menjadi pasir untuk adukan tembok.

Itulah sebabnya kawasan yang sangat luas itu berupa kerucut-kerucut gunungapi purba, yang tubuhnya berupa batuan beku yang padat, berupa breksi, dan ignimbrit. Jadi, para karuhun dan pinisepuh Cililin pada masa lalu ketika membabad alas di kawasan ini, melihat begitu banyak bebatuan dengan beragam bentuknya.

Untuk memudahkan memberikan penunjuk pada suatu kawasan, maka ada satu kawasan yang diberi nama Mungkalpayung, karena di kawasan itu terdapat batu (breksi), yang bentunya seperti payung, sehingga menjadi ciri bumi kawasan. Di tempat lain ada yang menyebutnya batu jamur, karena bentuknya seperti jamur raksasa.

Kata mungkal, memang tidak ada dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg. (1862), demikian juga dalam Kamus Basa Sunda Karya R Satjadibrata (1948, 2005), maupun dalam Kamus Umum Basa Sunda LBSS (1980). Tapi, kata mungkal ada dalam S Coolsma (1913), Soendaneesch-Hollandsch, menurutnya, “dalam cerita pantun, mungkal dapat diarartikan tunggul dan bongkot”.

Ada juga dalam Kamus Basa Sunda karya RA Danadibrata (2006) yang mengartikan mungkal sama dengan batu. Di Jawa Barat, ada toponim yang menggunakan kata mungkal, yaitu: Mungkalpayung di Cililin, Kabupaten Bandung (Barat), dan Mungkaldatar di Kabupaten Kuningan.

Kedua toponim ini merujuk pada keadaan tempat yang memiliki batu dengan bentukan yang unik, sehingga menjadi ciri bumi yang mudah dikenali. Ada batu besar yang bentuknya unik seperti payung, maka batu itu dinamai mungkal payung, kemudian kawasannya dinamai Mungkalpayung.

Di Kabupaten Kuningan ada batu besar yang rata, datar, kemudian batu itu dinamai mungkal datar, dan kawasannya disebut Mungkaldatar.

Mundinglaya dan Ko Jongkrang Kalapitung

Pada zaman baheula, di suatu kerajaan diselenggarakan sayembara untuk mencari jimat salakadomas. Siapa yang berhasil menemukannya akan dinikahkan dengan putri raja yang jelita. Di antara para peserta, ada dua ksatria, yaitu Mundinglaya dan Ki Jongkrang Kalapitung.

Mundinglaya lah yang berhasil menemukan salakadomas. Ia bermaksud mempersembahkan jimat tersebut kepada sang putri.

Bersama kawannya, Munding Dongkol, Mundinglaya mencari sang putri. Ki Jongkrang mengetahui hal ini, maka siasat jahat muncul untuk mengalahkan Mundinglaya.

Ki Jongkrang memasang perangkap berupa batu di Ci Bitung, bertujuan untuk menjebak Mundinglaya pada saat melewati sungai. Bukan Mundinglaya yang terperangkap di sana, malah Munding Dongkol yang kena.

Masyarakat mengenalnya sebagai batu langkob. Kedua batu itu masih ada di Ci Bitung. Batu yang menghimpit batu yang menyerupai kerbau (munding), dipercaya itu Munding Dongkol.

Tak kehabisan siasat, kemudian Ki Jongkrang memasang cermin besar, sehingga sang putri menjadi terlihat, walau sedang tetirah di atas bukit dengan memakai payung. Ki Jongkrang pun membuat porog, lubang jebakan, yang bagian atasnya ditutupi dengan ranting dan seresah, sehingga terlihat alami.

Mundinglaya yang berjalan untuk menemui putri pujaannya, terperosok ke dalam lubang jebakan, dan tak bisa ke luar lagi. Tempat cermin (eunteung) menjadi Leuwi Eunteung, dan batu Mundinglaya hingga kini masih ada di tengah sawah, batu ini dinamai Munding Jalu.

Kecurangan Ki Jongkrang diketahui oleh sang putri, teramati dari puncak bukit. Kemudian sang putri berlari kemudian bersembunyi di atas bukit, tapi payungnya tertinggal. Payung itulah yang kemudian dikenal sebagai Mungkal Payung, batu payung. Bukit tempat putri bersembunyi dinamai Gunung Putri.

Pada kesempatan berikutnya, datanglah seorang nakhoda yang bernama Demang Karancang, yang bermaksud mempersunting sang putri, namun tak gagal. Bukit yang berada sebelah timur Gunung Putri dinamai Gunung Karancang, atau disebut juga Gunung Nakhoda, tapi sekarang lebih terkenal dengan nama Gunung Kaseproke.

Masih bisa ditelusuri

Perubahan toponim Mungkalpayung menjadi Mukapayung masih dapat ditelusuri karena perubahan itu masih baru. Dalam laman situs web Desa Mukapayung, yang dibuka tanggal 8 Oktober 2019: https://pemdesmukapayung.blogspot.com/p/sejarah-desa-mukapayung.html diuraikan tentang sejarah pembentukan desa ini.

Pada tanggal 29 September 1979, Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung beserta Tripida Kecamatan Cililin mengadakan musyawarah dengan agenda utama pemekaran desa, yang diselenggarakan di Desa Rancapanggung. Keputusan Musyawarah tersebut menyetujui untuk diadakannya pemekaran Desa Rancapanggung menjadi dua wilayah, yaitu Desa Rancapanggung sebagai desa induk, dan Desa Mukapayung, sebagai desa pemekaran.

Pada rapat pembahasan pemekaran Desa Rancapanggung itulah, nama situs Mungkalpayung atau Batupayung diusulkan menjadi nama desa. Akhirnya tokoh-tokoh masyarakat dan peserta rapat menyetujui nama desa hasil pemekaran itu menjadi Desa Mukapayung yang ada di Kecamatan Cililin, bukan Desa Mungkalpayung.

Dalam situs web Desa Mukapayung, dituliskan, makna nama desa, yaitu muka yang artinya terbuka (berkembang/membangun) dan payung yang memayungi (mengayomi/membina). Dengan nama itu diharapkan akan menjadi desa yang berkembang, membangun, dan dapat memayungi/mengayomi masyarakatnya, sehingga dapat kesejahteraan masyarakat meningkat.

Desa hasil pemekaran ini resmi menjadi Desa Mukapayung, berbatasan dengan Desa Rancapanggung dan Desa Cikadu di sebelah barat, di sebelah timur dengan Desa Kidang Pananjung dan Desa Sukamulya, di sebelah utara dengan Desa Batulayang, dan di selatan berbatasan dengan Desa Nanggerang. Luas wilayahnya 815,810 ha, terdiri dari daratan seluas 849,360 ha, dan wilayah air yang tergenang Danau Saguling seluas 33,550 ha.

Selalu ada godaan untuk mengubah toponim buatan para karuhun Cililin, yang dianggap kurang visioner, lalu diganti dengan toponim yang ahistoris, seperti Mungkalpayung menjadi Mukapayung.***

Bagikan: