Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Hariono yang Mengukir Nama

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

*/DOK. PR
*/DOK. PR

PEKAN lalu lini massa akun media sosial milik saya diramaikan dengan ucapan selamat ulang tahun untuk pemain kesayangan bobotoh, Hariono. Bukan tentang usia Hariono yang membuat saya tertegun, namun karena ulang tahun Hariono tahun ini menjadi penanda 11 tahun kebersamaan Mas Har-panggilan akrabnya di tengah-tengah publik Bandung. Sosoknya telanjur disayang dan nyaris tiada cemooh yang khusus tertuju kepadanya meski Persib mengalami pasang surut prestasi.

Melegendakan diri

Untuk era sepak bola modern dan profesional, berbaju klub yang sama selama lebih dari sepuluh tahun tentunya bukan hal yang bisa dianggap sepele, bahkan bisa disebut sebagai hal istimewa. Itulah yang dilakukan oleh Hariono, meski diyakini banyak tawaran dari klub lain yang menghampiri selama dirinya berbaju biru, terlebih ketika menyandang predikat pemain timnas, namun kekonsistenannya bersama Persib menunjukkan bahwa Hariono memang telah memilih jalan hidupnya. Pertama kali datang bersama gerbong Sidoarjo di bawah pimpinan pelatih Jaya Hartono ditemani pemain lainnya, Hilton Morriera, Airlangga Sucipto, dan Waluyo pada medio 2008-2009, nyaris tak ada yang istimewa dari sosok pemilik nomor punggung 24 ini, karakternya yang pemalu sangat mirip dengan Waluyo, Keduanya tenggelam oleh gaya luwes dan komunikatif yang diperlihatkan Hilton dan Airlangga. Tahun demi tahun berlalu, sejarah justru membuktikan ternyata Harionolah yang tetap berbaju Persib, perjalanan ini membuatnya mengukir namanya sendiri melalui persepsi kesetiaan dan loyalitas yang akan sulit disamai pemain lain terutama diera perpindahan pemain yang begitu cepat menjadi suatu keniscayaan.

Kesayangan

Hariono dikenal sebagai sosok pemalu dan bersahaja serta tidak neko-neko. Orang yang belum mengenalnya mungkin akan menganggap Hariono sombong namun mereka yang mengenalnya akan memahami sifat pemalunya, permainan simpel, dan dingin di lapangan pun selaras dengan karakter kesehariannya. Dirinya tak suka bermanuver dan mencari sensasi apalagi memahsyurkan diri, bahkan dokter tim, Raffi Ghani pernah mengatakan kepada saya bahwa Hariono takkan mengeluh mengalami cidera jika dirinya masih bisa berlari, padahal dalam beberapa kesempatan diketahui bahwa kakinya mengalami memar, bengkak parah, dan Hariono tetap bermain seperti biasa. Permainannya yang tidak stylish namun efektif dan tegas ternyata sesuai dengan skema bermacam pelatih, sejak Jaya Hartono, Drago Mamic, Jajang Nurjaman, Antonic Dejan, Mario Gomes, hingga kini Roberts Alberts, starting line up bukanlah hal yang mewah bagi dirinya. Telanjur sayang, mungkin itulah kesan bobotoh kepada si gondrong, museum mini yang dibangun olehnya dan telah diliput berbagai media bukanlah hal yang berlebihan, bisa jadi itu adalah sinyalemen bahwa Hariono pun telah mengabadikan nama Persib dan bobotoh di hatinya, selamat ulang tahun tahun Mas Har.***

 

 

Bagikan: