Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 22.7 ° C

Komunikasi ala Pedagang Asongan

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PEDAGANG asongan/HILMI ABDUL HALIM/PR
PEDAGANG asongan/HILMI ABDUL HALIM/PR

UDARA siang itu panas sekali. Ratusan demonstran berkumpul di depan kantor Gubernur dan kantor DPRD Provinsi Jawa Barat di Jl Diponegoro, Bandung. Mereka mengacungkan poster dan mengangkat kepalan tangan tinggi-tinggi.

Teriakan demi teriakan lepas membawa pesan, membawa protes atas peristiwa yang dianggapnya tidak berpihak pada demokrasi dan keadilan. Ketika demonstrasi berlangsung, ketika jalan masuk ke lokasi demonstrasi ditutup barisan para demonstran, justru pedagang air minum dan makanan datang ke lokasi demonstrasi.

Tidak jadi masalah dari pendukung partai mana yang berdemo, pedagang asongan akan datang ke pusat demonstrasi.

Minuman ringan yang dibawa ke pinggiran para pendemo, dapat memenuhi harapan yang kehausan. Mereka dengan senang hati membelinya, dan hanya sekali teguk, minuman dinginnya sudah kering kembali.

Dugaan pedagang asongan itu benar. Para demonstran yang berteriak di terik matahari itu juga manusia yang dihinggapi rasa haus dan lapar. Ketika haus dan lapar itulah pedagang asongan datang membawa harapan untuk memenuhinya.

Pedagang asongan tidak berteriak menjajagan dagangannya dan tidak memaksa orang lain untuk membeli dagangannya.

Mereka, para pedagang asongan itu, dengan penuh kesadaran mendatangi para demonstran yang sedang membutuhkan air minum dan makanan ringan, sehingga para pedagang asongan menjadi berarti.

Berkomunikasi ala pedagang asongan yang dengan gembira mendatangi pusat-pusat keramaian, mendatangi tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang, cara-cara ini sudah banyak diserap oleh para penyebar berita bohong, hoaks, dan penyebar paham yang mengusung kebenaran hanya ada dipihaknya, yang lain salah semua.

Sebaliknya, mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, masih sedikit yang berusaha dengan kesadaran penuh, untuk berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan dengan cara mendatangi pusat-pusat kegiatan di dunia maya, seperti di media sosial.

Kekosongan informasi yang benar, yang seharusnya disebarkan oleh kalangan ilmuwan dan orang-orang yang mempunyai keterampilan inilah yang dimanfaatkan dengan sangat sempurna oleh para penyebar kebohongan dan kebencian, dan mereka banyak yang berhasil dengan luar biasa, menimbulkan perpecahan, persengketaan, bahkan sampai pembunuhan.

Menyadari hal ini, lembaga-lembaga pemerintahan, museum, kantor-kantor, mulai mempunyai laman media sosial. Namun sayang, mereka terbawa banjir bandang gaya media sosial sosialita, yang mementingkan menampilkan wajah, ketimbang isi atau pesan dari lembaganya. Gaya medsosnya, setiap hari, didominasi oleh wajah pimpinannya sedang berkegiatan di berbagai kesempatan. Apa isi kegiatan itu nyaris tidak tersampaikan pesannya.

Museum hanya memperlihatkan foto kunjungan dari berbagai daerah, dari berbagai kalangan. Tidak menampilkan foto yang bagus dari koleksi yang dimiliki dengan keterangan singkat yang mencerahkan.

Niat baik pimpinan suatu lembaga pemerintah agar setiap karyawan mempunyai laman media sosial, dengan harapan nama lembaganya terangkat, terpopulerkan, jangan ketinggalan dari lembaga lain, sayangnya ditanggapi keliru oleh para karyawannya.

Setiap hari, laman media sosialnya hanya dipenuhi foto-foto wajah dalam suatu kegiatan tanpa makna. Bila saja, semua kegiatan yang diterbangkan ke dunia maya itu memberikan informasi, secara bertahap akan ada penghargaan dari masyarakat akan peran lembaga tersebut.

Ada lembaga pemerintah yang sudah menjalankan fungsinya dengan sangat baik, dan memberikan informasi dengan sangat cepat kepada masyarakat. Pada tahap awal, informasi dasar yang disampaikan, sehingga diketahui apa yang sedang terjadi.

Kelebihan lembaga itu, bukan hanya informasi dasar yang disebarkan, tapi diikuti oleh analisis yang dilakukan oleh para ahli yang berada di lingkaran berikutnya. Mereka bukan lagi menyebarkan informasi dasar, tetapi sudah menyebarkan kajian keilmuan mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi. Jadi ada jenjang laporan. Pada tingkatan mana melaporkan apa, sudah berjalan dengan baik.

Namun ada juga lembaga pemerintah, yang hanya melaporkan informasi dasar mulai tingkatan pengamat sampai sampai pucuk pimpinannya. Boleh jadi karena tidak ada hasil kajian yang menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana sesuatu gejala alam yang terjadi, yang dihasilkan dalam waktu yang kritis, ketika masyarakat memerlukan jawaban kebeneran berdasarkan kajial keilmuan.

Kekosongan informasi yang benar yang bersumber dari lembaga yang memunyai otoritas bidang tertentu itulah yang kemudian dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para penyebar kebohongan dan ketakutan.

Foto dan film yang terjadi di dunia belahan lain yang dahsyat dan mengerikan, dengan sangat cepat digabung-gabungkan, lalu diedit dengan baik, diberi keterangan seolah-olah peristiwa itu yang terjadi, hanya dalam hitungan menit, foto dan film itu sudah tersebar, seperti tipupan angina yang menyelusup ke celah paling sempit sekalipun.

Keluarga, masyarakat dipenuhi kecemasan, rasa takut yang mendalam, apa yang terjadi dengan saudaranya di tempat kejadian bencana.

Inilah pentingnya kajian cepat dari lembaga yang mempunyai otoritas bidang tertentu, yang independen, yang menolak ditekan oleh berbagai kepentingan bukan keilmuan dan kemanusiaan.

Laporan kajiannya inilah yang sangat bermanfaat bagi masyarakat yang haus informasi, yang ingin didapatnya dalam waktu yang sangat cepat.

Bila kajian itu kalah cepat dengan para penyebar kebohongan dan kebencian, maka masyarakat akan terlebih dahulu mengonsumsi kebohongan itu, yang belum tentu mendapatkan informasi yang benar di kemudian hari.

Perlu upaya yang sungguh-sungguh dari lembaga penelitian, dari lembaga-lembaga yang mempunyai otoritas bidang tertentu, untuk menyampaikan hasil kajiannya dalam waktu yang cepat, guna menjawab rasa penasaran yang tinggi dari masyarakat akan peristiwa yang terjadi. Karena banyaknya informasi sampah yang tidak perlu, maka nilai hasil kajian keilmuan itu akan semakin tinggi nilai kemanusiannya.

Bila dalam suatu lembaga pemerintah ada aturan, bahwa yang boleh menyampaikan berita dan hasil kajian itu pejabat struktural eselon tertentu, maka adakanlah kajian bersama para fungsional untuk membahas gejala alam yang terjadi beberapa menit setelah peristiwa itu terjadi, lalu hasil kajiannya itu disampaikan oleh orang yang sudah ditugasi untuk itu. Ini baru namanya keren.***

Bagikan: