Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 19.1 ° C

Het Grote Huis

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SAYA sedang mengajak mahasiswa kami untuk membaca novel klasik Indonesia yang tidak sempat mereka baca di SMU. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran “sejarah kebudayaan Indonesia”. Kebetulan spesialisasi mahasiswa kami terletak di bidang bahasa, sastra, dan seni. Gagasan saya sih sederhana saja: bagaimana caranya mempelajari sejarah kebudayaan sambil menikmati kesusastraan?

Tiap-tiap orang bebas memilih karya pengarang yang mereka sukai. Yang penting, selama proses membaca, mereka mengisi semacam catatan harian. Isi catatan yang diharapkan terutama berkaitan dengan rincian budaya yang terlukiskan dalam cerita. Misalnya saja, mereka dapat mencatat gambaran hubungan antargolongan sosial, sarana transportasi dan komunikasi, arsitektur, tutur kata, agama, seni, dan banyak lagi. Catatan kami diskusikan dalam pertemuan mingguan.

Di antara 74 mahasiswa ada 8 orang yang memilih novel Atheis karya Akhdiat K. Mihardja. Latar historis kisah ini menghadirkan Bandung pada dasawarsa 1940-an, zaman pendudukan Jepang. Waktu itu, kata salah seorang mahasiswi, ada polisi rahasia Kenpeitai, dan harga beras Rp 3 perliter. Rekannya menambahkan bahwa Kartini di Bandung mengenakan kebaya dan pandai main piano. Adapun Hasan suka menulis tapi terjangkit TBC.

Sambil mendampingi teman-teman muda bergaul dengan hantu-hantu kesusastraan, saya sendiri tertarik membaca novel dari periode Hindia Belanda. Saya memilih karya Maria Dermoût. Satu Taman Kate-Kate (1975), satu lagi Nog Pas Gisteren (1951). Pilihan saya sih intuitif saja, kayak tamasya senang-senang ke masa silam yang tidak pernah saya alami.

Buat saya, novel, roman, atau apalah istilahnya, merupakan jendela kecil buat melihat sejarah. Tokoh-tokohnya manusiawi: lahir, tumbuh, mati sesuai dengan suratan nasibnya sendiri-sendiri. Situasinya nyata seperti yang biasa kita alami dalam hidup sehari-hari. Sungguh, ilusi yang enak dimasuki.

Bergulir dan Berulang

Taman Kate-Kate (1975) merupakan terjemahan mendiang Dick Hartoko. Judul asli karya utama Dermoût ini adalah De Tienduizend Dingen, yang secara harfiah berarti “sepuluh ribu perkara” — ungkapan yang dipetik dari tulisan seorang pujangga Tiongkok. Sayang, saya tidak punya edisi aslinya, dan hanya punya terjemahan Inggris dari Hans Koning, The Ten Thousand Things (1958).

Novel Nog Pas Gisteren (Baru Kemarin) menandai debut Maria Dermoût dalam sastra Hindia Belanda. Buku ini pertama kali terbit pada 1951, sebelum terbitnya De Tienduizend Dingen pada 1958. Cerita dalam Nog Pas Gisteren memperlihatkan latar Jawa, di sekitar pabrik gula, muncul mendahului karya-karya Dermoût yang berlatar Maluku dan sarat dengan rempah-rempah.

Sempat saya mencari-cari terjemahan Nog Pas Gisteren dalam bahasa Indonesia. Tidak ketemu. Rupanya, novel tipis ini memang belum sempat diterjemahkan. Sayang betul. Ya, sudah, tamasya saya terseok-seok jadinya. Seru juga. Membaca novel ini kayak berjalan di senjakala dengan pandangan rabun ayam.

Dalam Nog Pas Gisteren kita melihat kepergian, sedangkan dalam Taman Kate-Kate kita melihat kedatangan. Gadis remaja Riquette dalam Nog Pas Gisteren pada akhirnya harus pergi dari Jawa Tengah, meninggalkan rumah putih di tengah kebun yang berlatarkan Gunung Wilis dan Lawu. Felicia dalam Taman Kate-Kate pada gilirannya kembali ke Maluku bersama sang bayi naik perahu, untuk meneruskan eksistensi Nyonya Taman Mungil.

Dalam Taman Kate-Kate, orang-orang yang sudah mati bisa datang lagi, berkumpul di rumah Nyonya Taman Mungil, dan bisa berkenalan satu sama lain meski dalam kehidupan sebelumnya mereka tidak pernah bertemu. Dalam Nog Pas Gisteren Riek tidak paham mengapa Roos yang cantik dan pandai menjahit mati mendadak, dan kenapa Oom Fred harus menemukan akhir yang tragis dalam pelayaran ke Australia.    

Sejarah bergulir dalam Nog Pas Gistern, sejarah berulang dalam Taman Kate-Kate.

Pabrik Gula dan Jalan Raya

Halaman-halaman permulaan Nog Pas Gisteren menyajikan sketsa tentang “rumah besar” (het grote huis), baik keadaan di dalamnya maupun keadaan di sekelilingnya, seperti lukisan still life. Rumah itu berkapur putih, berlantai marmer, dengan dua serambi di depan dan belakang serta sekian kamar. Itulah tempat tinggal Riek, kedua orang tuanya, dan para pembantu. 

Di luar pekarangan pemandangan yang layak dicatat antara lain suikerfabriek dan de grote postweg. Pabrik gula dan jalan raya. Samar-samar tertangkap pula gejolak di sekitar pabrik, orang lalu-lalang di jalan, hingga ayah Riek pergi ke pabrik membawa senjata. Tergambar juga perjalanan Riek naik kereta kuda menyusuri jalan raya itu.  

Novel ini, saya kira, menyajikan kenangan seorang remaja dalam kehidupan sehari-harinya sebelum tiba saatnya ia harus pergi jauh. Pada gilirannya Pulau Jawa dengan gunung-gunung dan lautannya yang biru, rumah putih berlantai marmer yang diteduhi pepohonan, orang-orang yang dikenal dekat — semuannya mesti ditinggalkan oleh Ricquette alias Riek.

Zij moest tijd hebben om het alles te verliezen,” begitulah kalimat terakhir yang menutup Nog Pas Gisteren.***

Bagikan: