Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Solokanjeruk Dulunya Solokanjero

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

DALAM peta buatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, daerah yang kini dsiebut Solokanjeruk masih ditulis Solokanjero.*/DOK. T BACHTIAR
DALAM peta buatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, daerah yang kini dsiebut Solokanjeruk masih ditulis Solokanjero.*/DOK. T BACHTIAR

TULIASAN ini bertujuan mengungkap apa yang menjadi alasan perubahan nama geografi suatu daerah. Tulisan ini tidak berniat mengembalikan nama baru suatu daerah ke nama lama karena nama baru itulah yang saat ini resmi menjadi nama desa dan nama kecematan.

Nama itulah yang tertilis dalam Surat Keputusannya pembentukan desa dan kecamatan. Namun, akan menarik bila ada penelusuran dokumen tentang sejak kapan nama suatu wilayah berganti dan karena alasan apa sampai nama itu diganti.

Sebagai contoh, saya kemukakan nama geografi Solokanjero, kemudian berganti nama menjadi Desa Solokanjeruk, di Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung.

Dalam penelusuran awal, saya membandingkan tiga peta dari tahun yang berbeda yang dibuat pada zaman kolonial Hindia-Belanda dan satu peta yang dibuat pada masa setelah Indonesia merdeka.

Pertama, peta yang ditelusuri adalah peta topografi yang dibuat zaman kolonial Hindia-Belanda yaitu Lembar Tjiparaj (Ciparay) terbitan tahun 1917. Peta itu direproduksi tahun 1919, kemudian dicetak ulang tahun 1940. Dalam peta topografi itu, tercantum nama geografi Solokanjeruk.

Kedua, peta wisata yang berjudul Boekit Toengoel–Tangkoebanparahoe–Patoeha–Malabar, yang diterbitkan Official Tourist Bureau tahun 1924. Peta itu kemudian dicetak ulang tahun 1928, masih menuliskan nama geografi Solokanjero.

Ketiga, peta kolonial Hindia-Belanda yang terbit pada 1920-an, kemudian dicetak ulang oleh Army Map Service (AMS), USA Army. Ada peta yang dicetak tahun 1944, sebelum kemerdekaan 1945. Peta ini juga mencantumkan nama geografi Solokanjero.

DALAM Peta Rupa Bumi Indonesia, daerah yang dulu bernama Solokanjero sudah berganti nama menjadi Solokanjeruk.*/DOK. T BACHTIAR

Selain penelusuran peta, seharusnya juga ada penelusuran terhadap dokumen pemerintahan seperti Surat Keputusan tentang desa tersebut, mulai dari zaman pendudukan Jepang sampai setelah Indonesia merdeka.

Penelusuran perlu dilakukan guna mengetahui apa nama desa itu pada zaman Jepang, dan pada masa setelah Indonesia merdeka, serta mulai kapan nama wilayah itu menjadi Solokanjeruk.

Peta buatan pada masa setelah Indonesia merdeka yang ditelusuri yaitu peta Lembar Majalaya yang diterbitkan Bakosurtanal (sekarang Badan Informasi Geospasial atau BIG), yang terbit pada tahun 2001 (Edisi 1).

Pada peta resmi itulah nama geografi Solokanjero sudah berganti nama menjadi Solokanjeruk. Hal yang menjadi pertanyaan, pelaksana proyek pembuatan Peta Rupa Bumi Indonesia, yaitu PT NARCON, menginduk ke pada apa terkait toponimi Solokanjeruk?

Apakah ada peta sebelum Peta RBI Bakosurtanal ysng sudah menggunakan nama geografi Solokanjeruk atau menginduk pada nama saat pembuatan peta, bahwa nama desa sudah berganti menjadi Solokanjeruk?  

Bila dilakukan penelusuran dokumen, akan teruji kebenaran tentang sejak kapan nama geografi Solokanjero berganti menjadi Solokanjeruk.

Dalam laman Desa Solokanjeruk (https://www.solokanjeruk.desa.id/first/artikel/99 - diakses 20 September 2019) disebutkan, tokoh-tokoh yang pernah memegang tampuk kepemimpinan desa itu  adalah:

1. Marjani (Kampung Mundel), menjabat selama tujuh tahun (1912-1919)
2. Juragan Empang (Kampung Sukarame), masa jabatannya 5 tahun (1919-1924)
3. Nata atau Aki Jangkung (Kampung Mundel), menjabat selama 5 tahun (1924-1929)
4. Maksudi (Kampung Mundel), menjabat selama 6 tahun (1020-1935)
5. H. Masri (Kampung Mundel), menjabat selama 7 tahun (1935-1942)
6. Abas (Kampung Sukarame) menjabat selama 25 tahun (1942-1977)

Dokumen dalam rentang waktu 1912 sampai tahun 1977 itulah yang harus dibuka. Dengan cara itu, akan terlacak sejak kapan nama wilayah tersebut berganti.

Semula, permukiman atau babakan itu berada di sekitar solokan (sungai) yang airnya dalam (jero). Maka, disebutlah permukiman itu Lembur Solokanjero, yang kemudian berkembang menjadi nama desa.

Ketika permukiman semakin berkembang dan semakin meluas, wilayah yang semula Desa Solokanjero (atau sudah berganti nama menjadi Desa Solokanjeruk), masuk ke dalam Kecamatan Majalaya.

Pada tahun 2001, Kecamatan Majalaya dimekarkan menjadi Kecamatan Solokanjeruk yang mencakup tujuh desa yaitu Bojongemas, Cibodas, Langensari, Padamukti, Panyadap, Rancakasumba, dan Solokanjeruk.

Di lahan basah hasil endapan danau Bandung purba yang berkembang menjadi rawa atau ranca, oleh masyarakat diolah menjadi empang atau situ, menjadi kolam tempat budi daya ikan air tawar yang luas.

Dalam perkembangannya, empang atau situ itu kemudian sebagian diolah menjadi persawahan yang luas membentang.

Ketika Kota Bandung berkembang menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan ekonomi, sejak zaman kolonial Hindia-Belanda sampai sekarang, Bandung memiliki daya tarik sehingga setiap saat warga dari luar Bandung berdatangan. Kawasan yang semula lahan basah, disaeur dan ditimbun sehingga menjadi hunian.

Kini, di kawasan Solokanjeruk terungkap adanya bangunan candi dari batu gunung api di Situs Bojongmenje. Candi tersebut terletak di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Diduga, candi itu dibangun abad ke-7 dan ke-8. Hal itu membuktikan bahwa kawasan itu sudah dikenal sejak lama.

Di kawasan yang kini bernama Solokanjeruk, pendirian pabrik begitu masif dan hampir tak terbendeung lagi. Pabrik-pabrik besar berdiri menempel di sekitar perkampungan. Sawah yang membentang luas menemui ajalnya, berubah wujud menjadi pabrik.

Inilah pembelajaran, sekali nama geografi diubah dan tercantum dalam dokumen resmi buatan negara seperti peta dan menjadi nama desa atau kecamatan, nama baru itulah yang akan terus dipakai.***

Bagikan: