Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 20.4 ° C

Pak Habibie dan Kubo Yoshiharu

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

WAFATNYA tokoh bangsa sekaligus mantan Presiden RI, BJ Habibie, begitu menyita perhatian negeri. Seluruh media terus mengabarkan kabar duka selama beberapa hari. Nostalgia dan kiprahnya semasa hidup pun terus diputar melalui berbagai platform media.

Saya yang mengalami masa kejayaan Pak Habibie sebagai Menristek “abadi” di era orde baru tentu ingin pula meluapkan ekspresi melalui tulisan. Akan tetapi saya bingung untuk membidik sisi yang mana, karena semua tentang Pak Habibie telah diulas habis oleh semua media. Mulai dari kejeniusannya, kisah cinta, karir politik, hingga peran besarnya di bidang dirgantara.

Inspirasi tulisan kolom ini muncul ketika saya tak sengaja melihat ada akun yang mengunggah serial anime Aoki Densetsu SHOOT melalui kanal Youtube. Unggahan ini terbilang baru, karena saya ingat betul pernah mencari serial ini di Youtube namun tak menemukannya. Terlebih, serial ini adalah versi lengkap dengan bahasa Indonesia.

Bagi anak-anak 90an yang menyukai sepak bola, tentulah pernah membaca (walau tak tuntas) komik SHOOT karya komikus Tsukasa Ooshima. Komik itu menceritakan petualangan tiga sahabat (Toshihiko Tanaka, Kazuhiro Hiramatsu, dan Kenji Shiraisi) sebagai pemain klub sepak bola SMA Kakegawa di perfektur Shizuoka Jepang.

Ketiganya terinspirasi oleh senior mereka di SMA Kakegawa yaitu seorang pemain jenius bernama Kubo Yoshiharu. Ada persamaan yang dimiliki Pak Habibie dengan tokoh fiktif bernama Kubo ini.

Jerman dan nasionalisme

Diceritakan bahwa Kubo adalah seorang pemain sepak bola berbakat, Kejeniusan sepak bolanya mendapat pengakuan, bukan hanya di Jepang tapi juga di Jerman. Pasalnya, Kubo memang pernah menjadi siswa selama keluarganya tinggal di Jerman, dan dirinya terus bermain bola di kompetisi level pelajar.

Permainannya di atas rata-rata, sehingga banyak klub profesional Jerman yang siap merekrutnya jika lulus SMA nanti. AKan tetapi, apa yang dilakukan Kubo? Dia justru memilih pulang dan melanjutkan studinya di Jepang.

Alasannya terdengar naif, Kubo ingin berkontribusi dan memajukan sepak bola di tanah kelahirannya. Banyak pelaku sepak bola Eropa yang menyayangkan keputusannya. Terlebih, Jepang dianggap bukan siapa-siapa jika bicara sepak bola. Mereka menganggap hanya Eropa lah yang siap menampung kejeniusannya.

Begitu pula Habibie, yang melanjutkan studinya di Jerman (negara Eropa yang sama disinggahi Kubo) dan kejeniusannya begitu diakui oleh para cendikiawan teknik penerbangan dan praktisi dirgantara Eropa. Berbagai fasilitas dan keistimewaan didapat Habibie selama tinggal di Jerman, bahkan konon dirinya dianggap sebagai warga negara kehormatan di Jerman.

Pada kenyatanyaannya, Habibie tetap memilih kembali ke Indonesia -tanah air yang sangat dicintainya, untuk mengabdi dan membangun banyak hal di Indonesia. Negeri yang tentu bukan apa-apa jika bicara tentang pesawat dan dirgantara -bidang keahlian Habibie.

Dalam konteks yang unik, Kubo dan Habibie mengajarkan kita arti sesungguhnya tentang nasionalisme, yaitu kesediaan untuk kembali ke negara asal ketika peluang dan fasilitas di luar negeri jauh lebih menjanjikan.

Nasionalisme peneliti

Jika dipaksakan dicari persamaannya, maka sesungguhnya saya dan Pak Habibie pun memiliki persamaan. Kami sama-sama peneliti dan berkiprah di segmen keilmuan.

Kami sama-sama tahu bahwa begitu banyak peneliti asal Indonesia yang gemilang di luar negeri. Bakat mereka mulai terpantau ketika melanjutkan studi melalui beasiswa di luar negeri.

Peneliti-peneliti ini begitu dimanjakan dengan fasilitas lab yang lengkap, uang yang besar, bahkan diiming-imingi kewarganegaraan jika mau berkiprah di negeri tempat mereka menempuh studi melalui beasiswa luar negeri tersebut.

Negara-negara maju memang memahami betul bagaimana cara memperlakukan ilmuwan. Tak hanya dana riset yang besar, bahkan di beberapa negara yang memberlakukan wajib militer, seorang peneliti mendapat keistimewaan dengan dibebaskan dari wajib militer. Konon negara menganggap bahwa tugas sehari-hari para peneliti pun sangat strategis untuk negara.

Bukti paling vulgar adalah korelasi positif antara kemajuan suatu negara dengan ilmu pengetahuan dan segala variabelnya, termasuk SDM peneliti yang andal, karena kualitas riset yang teruji di negara maju selalu dijadikan dasar untuk membuat suatu policy, kebijakan yang berdampak bagi publik.

Laksana Tri Handoko, kepala LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), institusi pembina peneliti di Indonesia, yang juga orang berpengaruh di Habibie Center, pernah mengatakan bahwa fasilitas bagi para peneliti perlu ditingkatkan agar para peneliti yang merupakan aset bangsa tidak kabur dan bekerja di luar negeri. Intinya, mereka harus dibuat tertarik untuk berkiprah di negeri sendiri.

Namun tentu kondisi ideal itu adalah relatif dan merupakan upaya terus menerus, dalam kondisi tidak ideal itu maka seorang peneliti harus memiliki nurani dan nasionalisme, menekan ego, untuk mengamalkan ilmu dan isi kepala mereka demi kemajuan bangsa.***

Bagikan: