Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Pasar Cihaurgeulis

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PEMBANGUNAN Pasar Cihaurgeulis di Jalan Surapati, Kota Bandung, Kamis 1 Maret 2018.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
PEMBANGUNAN Pasar Cihaurgeulis di Jalan Surapati, Kota Bandung, Kamis 1 Maret 2018.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

PASAR Cihaurgeulis, Kota Bandung, Jawa Barat, yang sedang direvitalisasi akan selesai dalam waktu enam bulan. Menurut wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana, nama pasar itu akan diganti menjadi Pasar Geulis. Yana menuturkan, pembangunan revitalisasi Pasar Geulis menghabiskan anggaran sekitar Rp 29,5 miliar dan telah melalui proses lelang sejak 2017.

Nama geografi Cihaurgeulis, sudah lama ada, bisa jadi jadi sudah ada sebelum kepindahan ibu kota Kabupaten Bandung, atau setidaknya pada awal mula babad alas kepindahalan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak di tempuran Cikapundung dengan Citarum ke pendopo Kota Bandung, yang lokasinya berada di sebelah barat Cikapundung, di selatan jalan raya pos yang baru selesai dibangun, dan menghadap ke utara ke utara, dengan orientasi ke Gunung Tangkubanparahu.

Di sebelah barat Cihaurgeulis, sudah ada nama geografi Cikalintu, kampung tua tempat awal warga Bandung bermukim. Kemudian pada saat kepindahan, Bupati Kabupaten Bandung diberi lahan yag luas serta warga yang dibebaskan dari tugas lainnya, dan mengabdi untuk kerja bakti tak diupah bagi Bupati, mengolah lahan yang disebut balubur.

Ketinggian kawasan Cihaurgeulis sekira + 715 mdpl, merupakan pantai danau Bandung Purba. Kadang tergenang bila jumlah air bertambah pada musim penghujan, dan menjadi pantai kering ketika musim kemarau.

Sejak 16.000 tahun yang lalu, Danau Bandung Purba Timur mulai surut, tapi tidak sekaligus kering, melainkan menyisakan lahan basah berupa ranca/rawa. Oleh Bupati Kabupaten Bandung yang terus berbenah saat kepindahan ibu kota, ranca diubah menjadi empang, menjadi balong/kolam, maka Bandung menjadi terkenal sebagai penghasil ikan mas.

PEDAGANG ikan asin membereskan barang dagangannya di Pasar ­Cihaurgeulis, Kota Bandung, Rabu 4 Juli 2018.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Di selatan pendopo Kabupaten Bandung, ada kolam yang sangat luas, yang disebut balong gedé, kolam yang besar atau luas, kemudian menjadi nama geografi Balonggedé sampai sekarang.  

Kawasan Cihaurgeulis sudah sejak awal medannya lebih kering dibandingkan dengan bagian di selatannya yang semula bekas ranca. Di lereng-lereng perbukitan ditumbuhi beragam jenis bambu, membentuk hutan bambu, yang salah satu jenisnya adalah haurgeulis.

Menurut Jonathan Rigg (1862), dalam A Dictionary of the Sunda Language of Java, setidaknya terdapat lima jenis haur, seperti: haur cina, haur cucuk, haur geulis atau haur hejo, haur koneng, dan haur tutul. Sebenarnya masih ada jenis lain, seperti haur gereng, haur seah, dan haur surat.

Haurgeulis (Bambusa vulgaris SCHRAD), salah satu jenis haur dengan batang kuat, tidak mudah dibelah, lentur, dan berdinding tebal. Tinggi batang antara 10–20 m.

Bagus bila digunakan sebagai bahan baku untuk bubur kertas, karena kertasnya memiliki kekuatan sobek yang luar biasa. Sebagian besar bambu ini tumbuh di tepi sungai, daerah kritis, dan tanah terbuka. Ini adalah spesies yang disukai untuk pengendalian erosi. Ia tumbuh paling baik dalam kondisi lembab.

Karena jenis bambu ini secara lahiriah terlihat geulis, cantik, maka dinamai haurgeulis. Semula, kawasan ini banyak ditumbuhi jenis bambu ini, lalu menjadi ciri bumi setempat, banyak diucapkan warga, akhirnya menjadi nama geografi, Cihaurgeulis.

Masyarakat kota semakin banyak, kebutuhan akan pasar bertambah, didirikanlah pasar di sana, lalu namanya menginduk pada nama geografi, disebutlah Pasar Cihaurgeulis.

Ketika wakil Wali Kota Bandung melansir akan mengubah nama Pasar Cihaurgeulis menjadi Pasar Geulis, maka maknanya akan berubah. Yang semula bermakna jenis bambu, haurgeulis, menunjukkan keragaman hayati yang kaya di kota ini. Sementara bila hanya kata geulis, maknanya menjadi geulis, cantik, dalam arti yang sesungguhnya, yang bermakna bagus rupa.

Tapi harus hati-hati, sebab di Tatar Sunda, makna geulis untuk sebutan nu geulis, bisa juga bukan ditunjukan kepada perempuan yang cantik, tapi justru merupakan julukan untuk seekor tikus (nyi ayu). Dan, kalau kageulisan, kecantikan itu diumbar, bisa menjadi bencana, seperti yang terungkap dalam peribahasa, nu geulis jadi werejit, nu lenjang jadi baruang (Kamus Umum Basa Sunda – LBSS, 1980).

Bahwa wanita cantik dan lenjang dapat saja membahayakan, bila kecantikannya disalahgunakan. Apalagi, pasar ini pernah lama mangkrak.

Tak ada alasan yang kuat untuk mengubah nama geografi. Oleh karena itu perlu berhati-hati bila berniat untuk mengubah nama geografi yang sudah menempel menjadi nama pasar, atau nama lainnya, karena akan mengubah makna yang sudah lama ada.***

Bagikan: