Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 22.6 ° C

Séké Budaya

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

*/DOK. PR
*/DOK. PR

MASYARAKAT setempat, warga Desa Losari, Telogomulyo, kadang menyebutnya Tuk Ndayan. Kata ndayan merupakan kontraksi dari kabudayan. Pada rambu penunjuk jalan, juga pada papan nama di tempat tujuan, lengkap dengan aksara Jawa, nama yang terpampang adalah Tuk Budoyo.

Tuk adalah istilah Jawa buat mata air. Kalau di Tatar Sunda, tentu, istilahnya séké. Jadi, dalam benak saya, Tuk Budoyo berarti Séké Budaya alias Mata Air Budaya. Saya pikir, keren sekali nama tempat ini.

Tempatnya di lereng Gunung Sumbing, tersambung dengan kebun tembakau di sekeliling. Jalan naik-turun dan meliuk-liuk beralaskan batu-batu setempat, yang rata dan tertancap kuat, dapat dilalui mobil. Sebuah warung mungil, dari rongsokan karoseri mobil kecil, berdiri di samping gerbang menuju mata air.

Di bawah naungan pepohonan, di sela-sela jejaring akar, terdapat sekian batu. Mata air hadir di sekitar akar dan batu. Dalam keteduhan, pada salah satu batu, terdapat tempat sesajen. Sebuah papan peringatan melarang pengunjung mandi di situ.

Buat mandi atau berendam disediakan tempat tersendiri, beberapa meter dari sumber air, di dekat bak penampung air. Tidak jauh dari situ terdapat sekian fasilitas lainnya seperti musala dan balai. Sebuah joglo yang tiang dan dindingnya berukir, dengan pelataran yang cukup luas, melengkapi fasilitas publik di situ.

“Di sinilah letaknya lokasi inti kebudayaan di Temanggung,” ujar Mas Andy Yoes Nugroho, sahabat saya, yang memandu kami ke tempat itu.

Sebelum singgah di situ, kami berkunjung ke Dusun Lamuk, Desa Legoksari. Di dusun itu kami melihat-lihat tembakau yang sudah dirajang dan sedang dijemur di halaman dan atap rumah-rumah warga. Wangi tembakau mengembang di udara, dibawa angin ke sekitarnya. Itulah wangi musim panen yang dalam tempo tiga bulan menghasilkan komoditas bernilai triliunan.

Begitu sampai di Tuk Budoyo, decak kagum saya bertambah. Dalam hati saya berkata, ini baru séké. Keberadaannya dipelihara dan dikelola sedemikian rupa hingga dapat dijadikan tempat upacara atau perhelatan budaya dan kunjungan wisata.

Sebagai orang yang datang dari belahan barat Pulau Jawa, dari dataran tinggi Priangan yang juga diberkati begitu banyak séké, saya merasa mendapatkan model tersendiri bagi upaya penghormatan atas sumber air dan maknanya bagi kelangsungan budaya. Terasa masih adanya respek kolektif terhadap berkah alam, juga terasa masih adanya kreativitas setempat untuk melanjutkan kebudayaan.

Mas Andy dan kawan-kawan punya rencana untuk menyelenggarakan kegiatan rutin di Tuk Budoyo. Saya jadi iri. Terbayang oleh saya pertunjukan koreografi dan musik, juga saresehan budaya, berlangsung di situ, di sekitar mata air keramat.

Di Gunung Sumbing, sebagaimana di gunung-gunung lainnya di seantero Jawa dan pulau lainnya, hutan-hutan memang telah jadi kebun. Betapapun, di Gunung Sumbing, setidaknya orang masih memelihara pengertian tentang pentingnya “mata air kebudayaan”.***

Bagikan: