Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.2 ° C

Ke Gunung Rinjani Melalui Aikberik

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GUNUNG Rinjani/T BACHTIAR
GUNUNG Rinjani/T BACHTIAR

CAKRAWALA mulai memerah. Angin kencang meniup cemara gunung, menderu keras tiada henti. Para pendaki melipir celah, meniti batu-batu besar yang menjulang. Hamparan lava kasar yang lebar menjadi jalan terakhir menuju Puncak Kondo (3.200 mdpl).

Tumbuhan bertahan dalam tanah tipis yang miskin hara di celah batu. Edelweis dengan bunga kecil, melenting dihembus derasnya tiupan angin.

Kerucut Gunung Barujari di dalam kaldera Gunung Rinjani mulai tersinari matahari, wujudnya terlihat dengan jelas, menampakkan kegagahannya, anak gunung yang terus tumbuh dengan pesat.

Tebing-tebing tegak lurus, danau kaldera, dan anak gunung yang sedang tumbuh, terlihat megah dan indah. Air Sagaraanak (2.002 mdpl) terlihat tenang dengan warna hijau lumut, dan Gunung Barujari (2.376 mdpl), anak Gunung Rinjani, terlihat segar mengepulkan asap.

GUNUNG Barujari/T BACHTIAR

Sambil minum dan makan penganan manis, saya membayangkan kembali perjalanan sehari sebelumnya. Perjalanan pergi dengan medan yang terus menanjak di dalam hutan hujan tropis yang indah. Pohon-pohon menjulang, susul-menyusul mengejar cahaya matahari.

Anggrek hutan menempel di batang pohon, dan aneka jenis lumut yang menghijau dalam naungan hutan yang terjaga. Lumut menempel di pepohonan, membalut liana yang melengkung terayun tertiup angin. Suara burung yang nyaring, beragam di setiap ketinggian tempat.

Sungai di lereng gunung, berbongkah batu raksasa dengan hamparan leleran lava yang melapisi dasar sungai. Pasir dari letusan gunung api mengisi ceruk-ceruk dalam lembah di sepanjang aliran.

Bila turun hujan, airnya akan segera meresap, masuk ke dalam bebatuan di lereng gunung, dan akan keluar dengan teratur di kaki gunung. Mata air di sekitar Pos 2, merupakan anugrah yang tak terhingga. Air yang segar dan menyegarkan. Pemenuh dahaga para pendaki yang kehabisan air.

Dalam deru angin di Puncak Kondo, rasa penasaran itu muncul kembali, mengapa orang-orang yang saya Tanya tentang pendakian ke Gunung Rinjani, jawabannya negatif, termasuk jawadan dari peserta pameran dalam Konferensi Taman Bumi Asia Pasifik di Kota Mataram, Lombok 3 September 2019.

GUNUNG Rinjani/DOK. T BACHTIAR

Semua yang saya tanya, justru jawabannya tidak menyarankan, bahkan ada yang menyesalkan, mengapa harus mendaki Gunung Rinjani melalui jalur Aikberik?

Informasi tentang jalur Aikberik, umumnya menyebutkan: “Di puncaknya tidak bisa melihat apa-apa”, “Pelataran di bibir kalderanya sempit.”, “Medannya sangat berat, dan beberapa lintasan memerlukan tali pengaman” dan banyak lagi hal yang sebaiknya tidak mendaki melalui jalur Airberik.

Setelah mendaki Gunung Rinjani melalui jalur Aikberik, semua kekhawatiran itu semuanya tidak terbukti. Malah jadi balik bertanya, apakah mereka yang saya temui itu tidak merekomendasikan ke Gunung Rinjani melalui jalur Aikberik itu karena mereka sudah mencobanya sendiri, atau kata orang, yang bisa saja katanya juga.

Asal usul nama

Nama jalur Aikberik diambil dari nama desa yaitu Desa Aikberik di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini dinamai Aikberik, karena terdapat banyak mata air yang tersebar dengan ukuran kecil-kecil.

Mata air yang berlimpah berkat kelestarian hutan yang ada di lereng Gunung Rinjani. Sawah yang subur tak kekurangan air walau kemarau, indah bertingkat-tingkat mengikuti rona buminya.

Pendakian ke Gunung Rinjani dari Aikberik ini dapat mencapai dua titik yang berbeda dalam karakter medannya. Pertama jalur menuju Pelawangan Aikberik. Kemungkinan jalur inilah yang pertama kali dibuka, karena urutan nama-nama pos persinggahan disesuaikan dengan jalur ini. Menuju pinggir Kaldera Rinjani di Pelawangan Aikberik, mulai persimpangan jalan ke Pelawangan Aikberik dan ke Puncak Kondo, medannya sedikit bergelombang mengikuti lembah yang besar.

Jalur itu sangat dimanjakan air, sampai Pos 4, pos terakhir yang biasa dijadikan tempat untuk berkemah. Dari Pos 4, hanya tinggal sedikit menanjak selama satu setengah jam, akan sampai di Pelawangan Aikberik.

Para pendaki dengan tujuan Puncak Kondo (3.200 mdpl), disarankan untuk berkemah di lapangan perkemahan Kondo. Keesokan harinya, bagi mereka yang ingin menanti matahari tebit di puncak ini, harus sudah pergi paling telat pukul 03.30.

Dari Lapangan Perkemahan Kondo ke puncak, jaranya sekitar 2,7 km, dan dapat ditempuh selama dua jam perjalanan.

Untuk kenyamanan dan keamanan para pendaki melalui jalur Aikberik, mendesak adanya penataaan ulang letak pos persinggahan, disesuaikan dengan tingkat kejenuhan pendaki dan keadaan medan. Perlu dibangun pos-pos persinggahan baru, sedikitnya 5 pos yaitu:

1. Batas hutan lindung
2. Pos 2 lokasinya dipindahkan ke pinggir jalur yang digunakan saat ini
3. Persimpangan jalan ke Pelawangan Aikberik dan ke Puncak Kondo
4. Antara persimpangan jalan dengan lapangan perkemahan Kondo
5. Antara lapangan perkemahan Kondo dengan puncak Kondo

Pos persinggahan yang ada saat ini:

1. Dari gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) ke Pos 1: 7,8 km, ditempuh selama 290 menit
2. Pos 1-Pos 2: 1,75 km, ditempuh selama 90 menit
3. Pos 2-Cabang jalan: 2,13 km, ditempuh selama 100 menit
4. Dengan Tujuan Pelawangan Aikberik, dari cabang jalan ke Pos 3: 1,22 km, ditempuh selama 100 menit.
5. Pos 3-Pos 4: 1,68 km, ditempuh selama 90 menit
6. Pos 4-Pelawangan Aikberik (2.500 mdpl): 2,2 km, ditempuh selama 90 menit
7. Dengan Tujuan Puncak Kondo, dari cabang jalan-Lapangan perkemahan Kondo: 2,4 km, ditempuh selama 100 menit
8. Lapangan Perkemahan Kondo-Puncak Kondo: 2,7 km, ditempuh selama 120 menit

Bentang alam Gunung Rinjani itu perpaduan antara kemegahan dan keindahan. Memang diperlukan perjuangan untuk mencapainyanya. Para pemandu dan para pengangkut barang, sudah siap mengantar sampai tujuan, baik ke Pelawangan Aikberik maupun ke Puncak Kondo.

Ada pilihan paket, yang disesuaikan dan jumlah pendaki dan lama pendakiannya. Misalnya jumlah pendaki 2-5 orang, dengan lama waktu 2 hari satu malam, 3 hari 2 malam, atau 4 hari 3 malam, akan berbeda harga paketnya, apalagi bila jumlah pendakinya 6-8.

Semoga, dari gerbang manapun para pendaki akan memulai pendakiannya, sebaiknya mempersiapkan diri, berlatih secara fisik, dan membawa makanan tambahan yang paling disukai saat akan makan.****

Bagikan: