Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Merdika Lutung

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

FRASE “merdika lutung” dapat kita temukan dalam kamus Sunda-Inggris susunan Jonathan Rigg (1862). Ungkapan yang sama juga terdapat dalam kamus Sunda-Belanda susunan F.S. Eringa (1984). Kamus Sunda-Inggris susunan R.R. Hardjadibrata (2003), yang didasarkan atas kamus Eringa, turut mewarisinya.

Dari Rigg ke Eringa hingga Hardjadibrata terbentang waktu tiga abad. Selama itu ungkapan tadi hadir dalam kamus, tercatat dalam keterangan mengenai arti kata merdika, yakni istilah Sunda untuk “merdeka”. Sayang, baik Rigg pada abad ke-19 maupun Eringa pada abad ke-20 juga Hardjadibrata pada abad ke-21 tidak memberikan contoh pemakaian frase “merdika lutung” dalam kalimat.

Sejauh ini, hingga melewati umur 50, saya sendiri, sebagai penutur bahasa Sunda, tidak pernah mendengar ungkapan “merdika lutung” dalam percakapan sehari-hari. Merdika saya kenal. Lutung pun saya kenal, yakni istilah Sunda buat “kera hitam”. Tapi “merdika lutung”? Tak tergambar dalam benak.  

Boleh jadi ungkapan tersebut sudah tergolong obsolete. Mungkin ungkapan tersebut sempat hidup di wilayah kerja Rigg, yakni di sekitar Jasinga, di belahan barat Tatar Sunda.

Rigg menerangkan arti “merdika lutung” sebagai berikut: “as free as the Lutung monkey (in the forest): a common simile for people not subject to contributions to the goverment or landowners. The beau ideal of a natives liberty; no one to bother him with unwelcome orders [sebebas monyet Lutung (di hutan): perumpamaan lazim bagi rakyat yang tidak mengabdi kepada gupernemen atau tuan tanah. Keadaan yang sangat ideal bagi kebebasan pribumi; tiada satu pun yang membebaninya dengan tatanan yang tidak menyenangkan]”.

Penjelasan Rigg, juragan kebun dari Inggris, mecerminkan keadaan zamannya. Zaman ketika dia membuka usaha dan mempelajari bahasa di Tatar Sunda masih tercakup ke dalam zaman “Sistem Priangan” alias Preanger Stelsel.

Sistem itu ditelaah oleh Jan Breman dalam Koloniaal Profijt van Onvrije Arbeid: Het Preanger Stelsel van Gedwongen Koffieteelt op Java, 1720-1870 (2010). Dengan sistem itu, Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) memaksa para petani Pasundan agar menanam dan menjual kopi untuk ekspor. Kumpeni mengandalkan para bupati dan pemimpin lokal lainnya untuk melancarkan perbudakan petani. Petani tidak lagi merdeka, jadi sekadar buruh tani.

Kita perhatikan beberapa kata kunci dalam penjelasan Rigg. Ada “rakyat” alias “orang banyak” (people) di satu pihak, dan ada “gupernemen” alias “pemerintah” (government) serta “tuan tanah” atau “juragan kebun” (landowners) di pihak lain. Kata kunci yang tak kalah pentingnya adalah “kebebasan pribumi” (natives liberty) dan “tatanan yang tidak menyenangkan” (unwelcome orders).

Pada zaman Preanger Stelsel “rakyat” diperintah oleh “gupernemen” dan diperbudak oleh “tuan tanah”. Tidak ada “kebebasan pribumi” di dalam “tatanan yang tidak menyenangkan” seperti sistem tanam paksa. Hanya “lutung di hutan” yang punya kebebasan demikian.

Menurut sudut pandang Rigg, kemerdekaan lutung merupakan “perumpamaan” atau “tamsil” (simile) bagi “kemerdekaan pribumi”. Jadi, kalau logikanya dibalikkan, pandangan ini beranggapan bahwa rakyat yang tidak diperintah oleh gupernemen atau tidak diperbudak oleh tuan tanah tidak ubahnya dengan kera hitam di dalam hutan.

Sungguh menarik, dalam kamus Eringa dan Hardjadibrata citraan tentang “lutung di hutan” menghilang, diganti dengan citraan “burung di angkasa”. Meski istilah yang diterangkan tetap “merdika lutung”, kamus setelah Indonesia merdeka mengandalkan citraan vogel (Belanda) alias bird (Inggris), tidak lagi mengandalkan citraan kera.

Arti “merdika lutung” menurut Eringa adalah “zo vrij als ‘n vogel in de lucht, niet oderhevig a lasten en plichten”. Versi Inggrisnya dari Hardjadibrata berbunyi: “as free as bird in the sky, not subject to burdens or duties”. Dengan kata lain, kalau kita Indonesiakan, “sebebas burung di angkasa, tidak dibebani tugas atau kewajiban”. 

Tentu, zaman Rigg berbeda dari zaman Eringa apalagi dari zaman Hardjadibrata. Pada zaman kolonial orang sepertinya mau bilang “merdika lir lutung” (merdeka seperti kera), sedangkan pada zaman Indonesia merdeka sepertinya orang mau bilang “merdika lir manuk” (merdeka seperti burung).

Buat saya sendiri, pergeseran dari kemerdekaan kera ke dalam kemerdekaan burung cukup menggembirakan. Pasalnya, begitu lama citraan tentang kera jadi semacam saluran penghinaan kolonial terhadap rakyat jajahan.

Gambar profil Ujang Rusdi karya ilustrator W.K. de Bruin dalam buku Roesdi djeung Misnem (ca. 1910), misalnya, menonjolkan citraan tangan yang memegang pisang, makanan kegemaran kera. Tokoh utama yang berpendirian merdeka dalam roman Pramoedya Ananta Toer, misalnya pula, dipanggil Minke, yang kedengarannya seperti plesetan dari monkey.

Lumayanlah, kita sekarang rupanya sudah jauh beringsut dari idiom “kera” ke idiom “burung”. Tentu, harus cepat-cepat ditambahkan bahwa “burung” dalam urusan kemerdekaan burung berada dalam cakrawala bahasa Indonesia. Adapun “burung” dalam bahasa Sunda, itu mah berarti “gélo” alias “majenun” atau “gila”.***

Bagikan: