Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 24.4 ° C

Paguyuban Bobotoh Persib Bandung di Luar Indonesia

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Persib/DOK. PR
Persib/DOK. PR

KETIKA Anda membaca tulisan ini, saya sedang berada di Tokyo Jepang terkait konferensi internasional yang digelar di Tokyo University of Science. Makalah berjudul “Urgency of The Establishment of Dispute Settlement Body Between Football Clubs and Professional Football Players in Order to Support National Economic Development” terpilih untuk dibahas di kampus tersebut.

Sebelum keberangkatan, saya sempat membocorkan agenda keberangkatan melalui fitur live di akun Instagram @ekomaung69. Setelah itu, beberapa pesan yang masuk menyatakan keinginan untuk bertemu di Jepang dan lain sebagainya.

Mereka yang mengirim pesan adalah orang-orang Indonesia yang sedang menetap di Jepang. Kebanyakan dari mereka sedang bekerja, tak ada data pasti apakah orang-orang itu asli Bandung, asli Jawa Barat, atau berdarah Sunda. Namun satu yang pasti, mereka semua adalah bobotoh Persib Bandung. Lebih khusus lagi, kebanyakan dari mereka tergabung dalam komunitas BVJ (Baraya Viking Japan).

BARAYA Viking Jepang/DOK. PR

Di bawah gagasan paguyuban

Tak sulit bagi kita untuk merasakan gejala bahwa para pendatang di kota-kota besar terlihat lebih guyub dan eksis ketika bersama-sama dengan komunitas daerah asalnya.

Hal itu berbeda dengan warga kota asli yang memang merasa berada di rumah dan “menguasai medan”. Maka, para perantau cenderung mencari rekan yang memiliki persamaan-persamaan yang cukup logis untuk dijadikan alasan berinteraksi sosial.

Salah satu alasan logis yang dimaksud adalah persamaan minat terhadap suatu hal, ditambah lagi persamaan asal daerah.

Paguyuban berbasis kekerabatan/keluarga (gemeinschaft by blood) biasanya melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih bersifat internal dan tertutup dibandingkan paguyuban berbasis ideologi dan persamaan minat dan pemikiran (gemeinschaft of mind).

Paguyuban yang berdasar persamaan minat akan terus mencari anggota-anggota paguyuban baru yang memiliki ideologi serta cara pandang yang sama terhadap suatu hal. Kegiatan mereka bersifat lebih terbuka dan dapat diakses siapa saja yang memiliki kecocokan ideologi.

Ideologi yang dimaksud tentu tak terbatas pada ideologi politik atau ajaran tertentu, minat yang sama terhadap suatu klub sepak bola bisa menjadi alasan baik untuk berkumpul dan “mengguyubkan” diri.

Gemeinschaft of mind inilah yang saya rasakan ketika mengamati fenomena komunitas-komunitas yang terbentuk di luar Bandung, kota domisili Persib Bandung.

Bukan Persib Bandung namanya jika tidak istimewa. Komunitas-komunitas ini tak sekadar ada di Indonesia tetapi hingga ke luar negeri, utamanya mereka yang terkoneksi dengan Viking Persib Club sebagai kelompok bobotoh Persib Bandung terbesar.

Silakan berselancar santai di dunia maya. Akan dapat kita deteksi komunitas-komunitas bobotoh Persib Bandung melalui akun yang mencirikan eksistensi mereka di negara lain seperti UEA, Taiwan, Malaysia, atau Korea Selatan.

Baraya Viking Japan di Jepang menjadi salah satu yang paling eksis karena rutin menggelar even dan mendatangkan pesohor asal Indonesia seperti Pas Band. Kegiatan mereka dipastikan mampu mencuri perhatian siapa saja yang kebetulan melihat acara mereka di Jepang.  

Persib Bandung sebagai alasan

Meski sepak bola telah memasuki era global, tetap tak dapat dimungkiri bahwa klub-klub eks perserikatan semacam Persebaya, PSMS, PSM ataupun Persib Bandung tetap kental dengan ikatan emosional yang sangat tradisional dan menjurus ke ikatan-ikatan promordial kedaerahan.

Bukan hal yang perlu dikatakan aneh ketika masih banyak retorika khas yang mengaitkan Persib Bandung dengan urang Bandung, Jawa Barat, ataupun etnis Sunda.

Bisa jadi itu pula yang menyebabkan segala hal tentang Persib Bandung dan bobotoh bisa diklaim sebagai identitas orang Priangan.

Ketika saya masih memegang program “Persib Aing” di STV Bandung beberapa waktu lalu, cukup sering saya mendapat kiriman video kegiatan dari orang-orang Bandung atau Jawa Barat yang menetap di luar negeri.

Jika sekadar embel-embel orang Sunda di Sydney, Amsterdam, atau Muenchen terlalu standar dan berlebihan untuk ditampilkan di TV, maka embel-embel tentang eksistensi pendukung Persib Bandung di luar negeri jauh lebih menarik untuk diangkat ke layar kaca dan dinikmati banyak orang.***

Bagikan: