Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 23.5 ° C

Geoliterasi Jantung Masyarakat Modern

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KONDISI pintu masuk taman Wisata ALam Gunung Tangkubanparahu, Subang tertutup abu vulkanik, Sabtu 27 Juli 2019.*/ANTARA
KONDISI pintu masuk taman Wisata ALam Gunung Tangkubanparahu, Subang tertutup abu vulkanik, Sabtu 27 Juli 2019.*/ANTARA

DI Kudus, Jawa Tengah, soto daging kerbaunya enak sekali. Penggunaan daging kerbau dalam soto Kudus tidaklah kebetulan, tapi inilah pelumeran rasa empati masyarakat bagi mereka yang baru masuk Islam yang mewujud dalam dunia kuliner.

Banyak contoh lain, bagaimana binatang di suatu tempat disucikan, sementara di lain tempat hanya berupa komoditas ekonomi. Ada juga binatang yang sangat disayangi dan dilindungi, justru menjadi masakan di tempat lain.

Inilah salah satu contoh, bagaimana sistem sosial di suatu masyarakat dengan sistem sosial di masyarakat lainnya berbeda. Akan terjadi pemahaman bila mengetahui mengapa hal itu terjadi.

Manusia selalu saja ingin tahu tentang perilaku manusia lainnya, baik secara individu maupun manusia dalam kelompoknya, dan bagaimana hubungan masyarakat dengan masyarakat lainnya. Ini merupakan awal dari interaksi manusia, untuk menemukan jawaban yang menjadi pertanyaannya. Kemudian para peneliti mengamati lebih dalam, bagaimana sistem sosial, ekonomi, dan politik itu berlangsung.

Kawasan terdampak tsunami di Pandeglang, Banten, Desember 2018.*/REUTERS

Demikian juga rasa penasaran manusia terhadap misteri bumi yang dipijaknya, memungkinkan manusia terus berupaya untuk mengetahui dan mempelajari tentang bumi tempat mereka hidup dan berkehidupan.

Sejak itulah manusia berinteraksi dengan bumi, berupaya menjawab pertanyaan yang terus ada. Semakin banyak dilakukan pengamatan, penelitian, dan pengkajian secara mendalam, maka semakin terbuka rahasia bumi yang sebelumnya masih berupa misteri.

Bagaimana sistem bumi itu bekerja, bagaimana kerak bumi bergerak menjauh dan mendekat. Bagaimana gempa bumi dan tsunami terjadi, bagaimana kerakbumi yang terdorong dan tertahan, kemudian melipat secara evolutif, lalu terangkat membentuk pegunungan raksasa yang menjulang. Bagaimana proses magma bergerak dari dalam bumi yang mendesak ke permukaan membentuk gunung api.

Manusia mempelajari laut, arus laut, dan mengamati beragam ikan di dalamnya. Bagaimana atmosfer bekerja, bagaimana mekanisme pergerakan udara terjadi, mengapa ada musim penghujan dan musim kemarau, bagaimana badai dan putingbeliung terbentuk. Bagaimana air di laut bergerak dari satu tempat ke tempat lain. 

Demikianlah manusia, yang semula hanya berinteraksi dengan sistem sosial dan sistem alam, kemudian melakukan interkoneksi antara dua sistem itu.

SUASANA Gunung Slamet terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat, 9 Agustus 2019. Petugas pos pengamatan, Sukedi mengatakan ada sebanyak 869 gempa tremors dengan amplitudo 0,5 sampai satu sejak meningkatnya status Gunung Slamet dari level I (normal) menjadi level II (waspada).*/ANTARA

Manusia mengamati dan mempelajari bagaimana hubungan-hubungan antara sistem alam dengan sistem sosial terjadi, atau sebaliknya, dan bagaimana manusia dapat terhubung, demikian juga bagaimana suatu tempat dapat terhubung dengan tempat lainnya. Apakah suatu kawasan baik menjadi tempat hunian atau untuk kegiatan ekonomi, kampus, pusat Pemerintahan, atau pusat keramaian?

Bila keputusan sudah diambil, suatu kawasan sudah diputuskan menjadi kawasan terbangun untuk pengembangan perkotaan, misalnya, atau menjadi kawasan pariwisata, permukiman, perkantoran, pasar, pusat pemerintahan, kawasan hijau, pusat keramaian, jalan raya, stasiun, terminal, alunalun, dan lapangan olahraga, maka implikasi jangka panjangnya harus sudah diketahui ketika perencanaan itu dibuat.

Geoliterasi menjawab bagaimana kait-mengait antara satu bagian dengan bagian lainnya, serta apa implikasinya bagi kehidupan manusia yang akan memanfaatkan suatu kawasan dengan segala fasilitasnya.

Bumi Indonesia menjadi bagian dari rangkaian cincin api dunia. Bukan hanya keberkahannya yang menjadi kekayaan bumi bagi kehidupan masyarakatnya, juga sangat rawan bencana.

Letusan gunung api, gempa bumi dan tsunami menjadi bagian yang yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia Indonesia sejak ribuan tahun lalu hingga kini.

Masih melekat dalam ingatan, gempa menguncang Lombok, Banten, Papua, Maluku, Padang. Gempa dan tsunami menyapu pantai Pangandaran di Jawa Barat, Aceh, Pasuruan, Pulau Babi, Maluku, Palu, dan banyak lagi. Ketika letusan Gunung Anakkrakatau yang melongsorkan sebagian tubuhnya, menyebabkan tsunami di pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung.

Ketika kawasan di atas zona patahan/sesar ditetapkan sebagai kawasan perkotaan, pelabuhan, bandara, permukiman, perkantoran dengan segala sistem pendukungnya, maka risikonya yang akan terjadi menjadi bagian dari risiko yang harus diperhitungkan segala kemungkinannya.

Bagaimana kawasan pariwisata dibangun di pantai landai dan datar yang berhadapan dengan zona subduksi, maka kawasan itu sangat rawan digoyang gempa dan disapu tsunami.

Ketika bangunan penunjang pariwisata dibangun di kaki, lereng, bahkan dibangun di sekitar kawah gunung api, dan termasuk ke dalam zona yang ditetapkan sebagai kawasan yang berisiko tinggi, karena akan terkena paparan gas racun, misalnya, lontaran batu pijar, abu panas, dan semburan lumpur panas.

Pengelola dan pemberi izin harus sudah mengetahui segala implikasi yang akan terjadi. Pengelola harus sudah mengetahui, kapan masyarakat dan wisatawan boleh mendekat karena aman, dan kapan harus menjauh karena membahayakan.

Bila sudah diketahui sejak awal apa imlikasi yang akan terjadi, maka pada saat kawasan itu dibangun, harus sudah merancang, bagaimana penyelamatan aset fisik, jalan untuk evakuasi dan lapangan-lapangan untuk berkumpul.

Akan tetapi, ada juga yang implikasinya sudah diketahui, tapi segala sumber penyebabnya dibiarkan terus berlangsung, seperti penanam sayur di lereng-lereng yang curam. Segala dampaknya akan diderita oleh masyarakat, bukan saja yang bermukim di sekitar gunung tersebut, tapi juga di sepanjang aliran sungainya.

Ketika hutan alami diganti menjadi hutan produksi, kemudian tak terkendali menjadi kebun sayur, maka air hujan tak lagi meresap melalui akar pohon, tapi langsung mengalir di permukaan, menggerus tanah pucuk yang paling subur, hanyutkan ke lembah-lembah, lalu mengendap di dasar sungai dan danau.

Rangkaian dampaknya akan saling susul-menyusul, kekeringan, sungai tak berair sampai di dasarnya, persawahan, kolam tidak terairi, dan PLTA kekurangan pasokan air untuk memutarkan turbin. Kebun dan lahan terbuka menjadi kerontang dan retak-retak, maka ketika musim penghujan datang, terjadi longsor dan banjir.

Dalam melakoni hidupnya, untuk mempermudah mencapai tujuannya, manusia menciptakan dan menggunakan teknologi. Namun, teknologi yang diciptakannya, selalu mempunyai dua sisi mata pisau. Sisi kebaikan dan sisi keburukan, karena tekonologi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang membuat masyarakat lebih cerdas dan memudahkan dalam segara urusan, tapi dapat dijadikan alat untuk mengacaukan, memecah masyarakat, baik secara fisik maupun kejiwaan.

Teknologi dapat dimanfaatkan menjadi alat untuk menyebarluaskan dakwah kebaikan sekaligus dapat menjadi alat untuk menyebarkan fitnah, keburukan, kebohongan, provokasi, anti keragaman, dan anti demokrasi. Masyarakat menjadi terpolarisasi ketika media sosial dimanfaatkan secara kuat untuk menanamkan pengaruhnya.

Geoliterasi memberikan pemahaman, bahwa di permukaan bumi, baik secara fisik maupun sosial, terdapat perbedaan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Perbedaan itu akan membedakan matapencaharian dan budaya masyarakatnya.

Bagaimana agama dan kepercayaan telah membuat perbedaan dalam perilaku hidup suatu masyarakat di berbagai belahan dunia. Perbedaan fisik bumi akan menyebabkan kelangkaan di suatu kawasan dan berkelimpahan di kawasan lainnya. Inilah yang akan menyebabkan terjadinya pergerakan barang dan orang antar kawasan.

Geoliterasi menggambarkan cara pandang seseorang terhadap suatu hal yang berbeda. Ini merupakan upaya untuk memahami dan berinteraksi, berinterrelasi dengan dunia, agar mempunyai rujukan yang multidisiplin dan mendalam pada saat mengambil keputusan secara rasional.

Bagaimana hubungan-hubungan itu dapat berjalan secara harmonis, agar kegiatan manusia dengan lingkungannya dapat terjalin dengan baik.

Geoliterasi memahami keterkaitan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya, mendukung demokrasi, hak azasi, dan martabat manusia, sehingga dapat menjembatani gejala xenophobia dan rasisme yang mulai menggejala di berbagai negara.***

Bagikan: