Pikiran Rakyat
USD Jual 14.099,00 Beli 14.197,00 | Sedikit awan, 19.8 ° C

Wening Panggalih

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Dukacita/DOK. PR
Dukacita/DOK. PR

POTRET sahabat saya, Aa Sudirman, terpajang dalam pigura kaca di atas sebuah platform rendah bertaplak putih di tengah ruangan. Di kiri kanan potret ada beberapa tangkai bunga sedap malam dalam jambangan gerabah. Melati terserak di atas taplak. Beberapa helai kemeja, sehelai iket batik, sebilah belati, dan sebuah cermin kecil milik almarhum melengkapi pajangan.

Di atas platform itu juga terdapat sebuah tumpeng, sesisir pisang, semangkuk beras dengan sebutir telur di atasnya, dan sebuah nampan kuningan berisi perlengkapan ngalemar seperti sirih, pinang, kapol, dan lain-lain. Di muka platform terdapat tujuh butir kelapa muda yang masing-masing beralaskan daun pisang di atas piring rotan.

Malam itu, di Buniwangi, sebuah tempat yang sejuk di perbukitan utara Bandung, kami meriung dalam suasana takzim untuk menghormati seorang teman, jurnalis, pekerja kemanusiaan, dan pegiat kebudayaan yang baru seminggu mangkat.

Aa Sudirman wafat di Bandung dalam usia 54 tahun pada hari keramat 17 Agustus lalu, dengan tenang, di tengah kehadiran keluarga dan sahabat. Makam Kesambi, Cirebon, adalah tempat peristirahatannya yang terakhir.

Semasa hidupnya Aa Sudirman bergiat sebagai jurnalis, turut bergiat dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI), juga bergerak dalam area budaya yang luas, mulai dari area seni tradisi hingga area hak-hak budaya kaum minoritas. 

Tuhan Yang Maha Baik telah memerdekakan Aa Sudirman dari sakit yang dihadapinya dalam tiga bulan terakhir. Saya mengenalnya sejak akhir 1980-an dan berteman baik hingga akhir hayatnya.

Wangi kulit gaharu yang dibakar menyelimuti ruangan bersama doa-doa dalam bahasa Sunda yang dipanjatkan oleh seorang sesepuh.

Doa dilanjutkan dengan lantunan beberapa bait asmarandana tentang pati atau ajal gubahan mendiang Mei Kartawinata dengan iringan petikan kacapi dan siulan suling dari Lingkung Seni Karangkamulyan.

Hadirin duduk bersila atau melipat kaki di atas hamparan tikar pandan. Sahibulbait, penyelenggara upacara, serta kerabat dekat almarhum mengenakan pakaian adat Sunda: kain dan kebaya pada wanita, iket dan pangsi pada pria.

Tetamu berpuluh orang dari beragam lingkungan kegiatan dan keyakinan. Semua dipersatukan oleh respek kolektif terhadap figur yang baru mulih ka jati mulang ka asal.

Upacara dibuka dengan rajah dan ditutup dengan kidung. Dalam kegiatan yang sangat artistik itu, saya turut mendapat kesempatan untuk berbagi kenangan.

Simkuring ngiring dongkap ka dieu sanés kanggo paturay tineung sareng Aa, nanging kanggo muguhkeun réhna kasaéan Aa, kabagjaan tina sosobatan sareng Aa, sagala rupina baé, baris tetep renggenek, langgeng, namper janten dedek katineung dina implengan,” ujar saya.

Kalau harus diindonesiakan, ucapan saya hanya menekankan bahwa dia yang baru pergi telah membekaskan kesan yang baik dan bakal langgeng dalam ingatan pribadi. Itu saja. Tak banyak cakap. Saya lebih banyak menyerap: menghikmati suasana, merasakan efek doa-doa.

Sebuah istilah yang dipakai dalam kegiatan itu meresap ke dalam benak saya. Itulah “wening panggalih”. Kandungan maknanya, lebih kurang, sepadan dengan “mengheningkan cipta”. Untuk sejenak, suara-suara sirna, dan ruangan jadi senyap. Tiap-tiap diri diam tepekur, mungkin memanjatkan doa, mungkin juga merasa-rasakan suara hatinya sendiri.

Kepergian seorang sahabat seperti Aa Sudirman telah mendorong diri untuk turut mengupayakan “wening panggalih”.*** 

Bagikan: