Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Tren Video Asusila

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

RASANYA ada pergeseran moral dan sosial yang begitu nyata di masyarakat kita. Jika dahulu skandal foto seronok di majalah dewasa saja bisa begitu membuat seluruh elemen sosial bergerak, kini kadar yang lebih amoral justru semakin banyak bermunculan, dan walau sama-sama menimbulkan riak namun hal yang terus menerus dikhawatirkan membuat masyarakat menjadi terbiasa terhadap suatu hal, dan menganggap hal tersebut bukan hal luar biasa. Fenomena yang saya maksud adalah konten video porno yang dibuat oleh orang Indonesia dengan menggunakan media handphone. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses membuat gawai dengan harga terjangkau sudah sangat memadai untuk membuat rekaman gambar dengan kualitas baik. Tampaknya ada kecenderungan dan minat manusia untuk merekam adegan intimnya sendiri hanya saja minat kecenderungan itu baru bisa terealisasi dengan mudah di era kemajuan digital seperti saat ini.

Video Lokal Legendaris

Anda yang membaca judul ini pasti langsung mengingat kasus video porno lokal gangbang Garut yang melibatkan 3 pria dan 1 wanita, berita terkait video yang dibuat dengan keadaan sadar itu masih menjadi tren hingga detik ini. Walaupun video Vina Garut hanyalah satu di antara ratusan video porno produk lokal yang telah beredar, namun saya mencatat ada tiga video buatan lokal yang paling fenomenal bahkan dampaknya melampaui teritori negeri hingga menjadi omongan di luar Indonesia, bahkan kata kunci “garut” sempat merajai tren pencarian dibeberapa situs porno.

Dua video lain adalah video Bandung Lautan Asmara dan video yang melibatkan vokalis band ternama dan para selebritas wanita tanah air. Bandung Lautan Asmara yang booming sekitar 20 tahun lalu menjadi penting untuk dicatat karena video ini menjadi pelopor video porno lokal, dibuat dengan media handycam karena kelengkapan telefon genggam ketika itu masih sangat sederhana, video yang melibatkan dua mahasiswa di dua perguruan tinggi kota Bandung sempat begitu dicari karena rasa penasaran. Berikutnya adalah video yang melibatkan vokalis band ternama, video ini layak dicatat tentu karena tentang reputasi para pelakunya yang merupakan selebriti papan atas tanah air, kasus video ini penuh drama dan kontroversi karena berujung vonis penjara bagi sang vokalis. Video ini dibuat ketika kelengkapan kamera sudah marak tertanam dalam handphone, namun melihat kualitas gambar untuk ukuran saat itu jelas sudah bahwa proses perekaman dilakukan dengan handycam.

Sementara itu video Vina Garut layak dicatat karena aksi seksual yang tergolong sangat tabu untuk ukuran orang Indonesia, jika aktivitas seks antara tiga orang (dua wanita dengan satu pria atau dua pria dengan satu wanita) biasa disebut threesome, maka aktivitas seks lebih dari tiga orang sudah layak disebut sebagai gangbang atau orgy. Aktivitas seks semacam ini merupakan genre level tinggi dalam industri film porno, ketika seorang wanita melayani tiga pria sekaligus, maka bisa dimasukkan kategori hardcore. Saya sendiri nyaris tidak percaya ketika mendengar ada orang yang bisa melakukan semua ini, yaitu merekam adegan seksual dalam keadaan sadar dan melibatkan empat pelaku sekaligus, terlebih ini terjadi di Provinsi Jawa Barat yang orang-orangnya dikenal sangat menjaga norma kesopanan dan kesusilaan, terlebih Garut yang dikenal juga sebagai salah satu daerah di priangan timur yang cukup religius.

Motif

Agak terlampau cepat untuk melakukan analisis secara presisi terkait motif pembuatan-pembuatan video porno lokal yang beredar saat ini, terlebih motif ekonomi bisa dijadikan alasan karena sekarang tengah tren pula orang mendapatkan uang dari web porno jika dia mengunggah video porno pribadi ke publik melalui web porno tertentu. Namun jika melihat konteks umum, yang paling logis adalah motif tentang eksistensi dan pengakuan. Itu adalah tuntutan psikis dan sosial yang jamak bagi manusia, juga tentang watak narsistik di mana manusia mengagumi dirinya sendiri, konteks mengagumi diri sendiri terkait suatu pencapaian bisa beragam, salah satu di antaranya adalah pencapaian seksual. Adalah pengaruh pornografi yang membuat seseorang ingin melihat kembali adegan seksual yang pernah dia lakukan sebelumnya, itu bisa menambah kepercayaan diri dan merangsang dirinya sendiri. Selain itu, insting purba seorang pria adalah untuk membuktikan bahwa dirinya unggul dari pria-pria lain, termasuk dalam hal menaklukkan lawan jenis, bentuk penaklukan paling tegas tentunya adalah kemampuan untuk mengajak lawan jenis terlibat aktivitas seksual. Ketika itu didokumentasikan maka video bisa menjadi bukti keunggulan si pria, hal ini terkonfirmasi ketika saya melakukan beberapa dialog dengan para pesohor. Pada intinya mereka akan merasa menjadi pemenang ketika bisa menaklukkan perempuan yang diidolakan banyak orang, ketika bagi banyak orang bersalaman dengan sang perempuan sudah sangat menyenangkan, maka bisa dibayangkan kemenangan apa yang dirasakan ketika seseorang bisa membuat sang perempuan melepas seluruh pakaiannya.

Cerita tentang aktivitas seks bebas para pesohor sudah sering kita dengar sejak puluhan tahun lalu, pembedanya adalah ketika itu tak ada alat perekam gambar secanggih sekarang. Jika sudah ada HP berkamera sejak tahun 1980-an niscaya tren seperti yang terjadi hari ini akan dimulai sejak dulu karena kecenderungan orang merekam aktivitas seksual pribadinya bukanlah hal baru.

Terakhir, terkait video di Garut, dalam sebuah jurnal penelitian “Journal of Sexual Archives” yang terbit tahun 2016, terungkap bahwa sekitar 82% pria, dan 31% wanita tertarik untuk melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang, sehingga ketika kecenderungan ini bertemu dengan pengaruh pornografi, orang-orang yang memiliki minat sama ditambah kesempatan dan sarana memadai, maka terjadilah pembuatan video gangbang yang membuat kaget banyak orang itu. Roscoe Pund seorang pemikir hukum berpengaruh pernah mengatakan “Law as a tool of social engineering”, sehingga kita sangat berharap bahwa penegakan hukum terkait kasus video porno ini (baca: UU ITE) bisa berjalan sesuai ekspektasi, setidaknya membuat kebiasaan dan perilaku orang menjadi berubah, untuk bisa menahan diri dan tidak merekam adegan seksual yang dilakukannya.***

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan: