Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Museum Kereta Api Pegunungan

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SEJUMLAH warga pengguna tranportasi kereta api menunggu di bantaran jalan rel sesaat kereta api lewat dengan kondisi diselimuti kabut tebal di Statiun Kereta Api Cimekar di Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu 3 April 2019.*/ADE MAMAD/PR
SEJUMLAH warga pengguna tranportasi kereta api menunggu di bantaran jalan rel sesaat kereta api lewat dengan kondisi diselimuti kabut tebal di Statiun Kereta Api Cimekar di Desa Cibiru Hilir, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Rabu 3 April 2019.*/ADE MAMAD/PR

Rona bumi Jawa Barat yang bergunung-gunung dengan lembah yang dalam, merupakan pesona dan tantangan, sekaligus ancaman bila tidak dikelola dengan baik.

Medannya sangat beragam, mulai pedataran di utara, dataran tinggi di tengah, dan pegunungan dan lembah yang berlipat-lipat di selatan. Inilah tantangan ketika di Jawa Barat akan dibangun kereta api pada zaman kolonial pada awal abad ke-19.

Semua tantangan itu dapat diselasaikan dengan sangat baik oleh para insinyur saat itu, sehingga melahirkan beragam bangunan jembatan, terowongan, serta rel dan belokan yang melingkar di kaki gunung.

Perkeretaapian di Jawa Barat menjadi popular karena memiliki terowongan terpanjang, yaitu terowongan Wilhelmina sepanjang 1.208 m antara Banjar-Pangandaran dan terowongan Sasaksaat sepanjang 949 m yang menerobos Pasir Cipedong di jalur Padalarang-Purwakarta.

Jembatan dua tingkat (doble deck) yang sangat langka di Cirahong sepanjang 202 m di atas Citanduy, yang sampai saat ini masih digunakan, jembatan bawah untuk kendaraan dan jembatan bagian atas untuk kereta api.

Ada jembatan tertinggi Cisomang antara stasiun Cisomang dan Cikondang, tingginya 100 m di atas Ci Somang. Jembatan ini dibangun tahun 1894, diperbaiki konstruksinya tahun 1906, kemudian tahun 2004 diganti dengan jembatan baru.

Jembatan terpanjangnya ada di jembatan Cikubang sepanjang 300 m dengan tinggi 80 m yang menghubungkan Bandung dan Jakarta. Stasiun tertinggi pun ada di Jawa Barat, yaitu  stasiun Cikajang di ketinggian 1.246 m dpl., dan stasiun tertinggi yang masih aktif adalah stasiun Nagreg di ketinggian 848 m dpl.

Jawa Barat juga juga mempunyai jalur rel nanjak tanpa gigi. Jalur antara Bandung-Tasikmalaya, yang dijadikan jalur tempat ujicoba lokomotif di tanjakan serta tempat latihan bagi para masinis, yang menanjak 25 per mil, artinya setiap 1 km jalur kereta api, naik setinggi 25 m.

Ada juga tanjakan di jalur Cipatat dan Tagogapu dengan tanjakan 40 per mil yang diikuti dengan belokan yang tajam. Pada masa lalu, stasiun Cibatu, Garut, posisinya menjadi sangat penting, karena di stasiun inilah menjadi tempat mengganti lokomotif sebelum menanjak memasuki jalur pegununungan.

Demikian juga yang akan melaju ke timur, berganti lokomoti di sini dengan lokomotif biasa, karena jalurnya akan menurun kemudian datar.

Pada zaman kolonial, Jawa Barat sangat terkenal sebagai penghasil komoditas untuk perdagangan lintas benua, seperti kopi, teh, kina, karet, serta hasil bumi yang diperdagangkan di pasar-pasar kota, sehingga pergerakan barang dan orang menjadi sangat menguntungkan bagi pengelola jasa angkutan kereta api.

Bagi masyarakat Jawa Barat, kereta api tidak sekadar moda transportasi yang mengangkut barang dan orang, tapi menjadi bagian dari kedekatan secara kejiwaan.

Boleh saja pengelola kereta api saat itu memberikan dengan nomor seri untuk setiap kereta apinya, tapi masyarakat di sepanjang lintasan rel itu memberi nama tersendiri bagi kereta api yang setiap saat melintas. Bukan sekedar sebagai kereta api yang melintas, tapi juga sebagai penanda waktu. Inilah bebrapa julukan yang legendaris di Jawa Barat.

Si Kuik dan Si Kuong

Karena suara peluitnya yang menjerit keras, kuiiiikkkk…., maka lokomotif seri SS500/BB10 (1899) dan lokomotif seri SS520/CC10 (1904) dinami Si Kuik. Ada Si Kuong, karena suara peluitnya berbynui keras namun sedikit berat, ngebas dan bergema, kuoooongngng…. Si Kuong ini sebutan untuk lokomotif seri SS120/DD50 (1916) dan seri SS1209/DD51 (1919). Yang paling besar adalah Si Gombar, sebutan untuk lokomotif raksasa dengan nomor seri SS1250/DD52 (1923).

Di mana sebaiknya Museum Kereta api Pegunungan dibangun? Salah satu tempat yang strategis dan mempunyai nilai sejarah yang tinggi adalah di stasiun kereta api tertinggi di Indonesia, yaitu di Stasiun Cikajang, Garut.

Tempat ini sangat dekat dengan Kota Garut, yang berfungsi sebagai tempat untuk membagi wisatawan ke berbagai tujuan wisata yang banyak di sekeliling kota ini.

Syarat pendirian museum sudah diatur dalam peraturan yang ada. Namun bagaimana mewujudkan menjadi museum yang baik, indah, kuat, informatif, dan menghibur, perlu keahlian banyak orang, bukan kumpulan orang-orang yang merasa bisa.

Di Bandung ada orang-orang professional dalam berbagai bidang yang menggemari kereta api, ada arsitek, ahli lansekap, ahli pembuat miniatur kereta api dan stasiun, ahli mesin kereta api, ahli geografi, ahli sejarah transportasi, ahli sejarah perkebunan, ahli bangunan, ahli teknik sipil, ahli grafis, ahli gambar, ahli patung, pandai besi, ahli teknologi informatika, penulis, ahli kartografi, dan banyak ahli lain, yang harus berembug untuk mewujudkan museum yang tidak abal-abal, dengan informasi yang memberikan arti, makna, bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Gedung museumnya tidak selalu harus berupa bangunan berdinding tembok, tapi dapat saja berdinding angin, seperti kebanyakan bangunan stasiun kereta api di Pulau Jawa.

Bangunan stasiun yang ada dapat direstorasi untuk berbagai kepentingan yang menunjang museum, seperti perpustakaan, ruang pameran foto, maket stasiun, maket jembatan, terowongan, dan miniatur lokomotif yang pernah menjajal tanjakan dan kelokan di lintasa rel di Bumi parahyangan.

Semua informasi itu dikemas dengan sangat menarik dalam berbagai media, buku, poster, poster lipat, peta, dan kartu pos, yang selalui tersedia dan dapat dibeli di toko suvenir, bersama tandamata dan kenangan lainnya.

Dalam semua produk informasi itu ditampilkan barcode, sehingga bagi generasi milenial, mereka akan mendapatkan informasi yang rinci di genggamannya, karena terhubung ke pusat data dan informasi museum.

Lokomotif Si Kuik, Si Kuong, dan Si Gombar, harus dipajang di atas rel dengan suasana stasiun pada masa lalu. Dan, di Museum Kereta api Pegunungan ini, tidak perlu ada tulisan “JANGAN DINAIKI!”. Anak-anak, remaja, dengan rasa ingin tahunya yang tinggi, tidak perlu dilarang untuk naik ke lokomotif yang dipamerkan.

Biarkan mereka menjelajahi bagian per bagian lokomotif itu, dan dia mengetahui di mana air disimpan, di mana batubara disimpan, dan di mana batubaranya dibakar. Mengetahui bagian-bagian dari kereta api uap yang banyak disajikan dalam buku-buku tentang kereta api.

Perlu juga ada acara menikmati perjalanan dengan kereta uap, dari Stasiun Cikajang sampai dua tiga stasiun terdekat, dengan gerbong yang dibangun ulang seperti gerbong kayu pada masa lalu.

Karena di Jawa Barat, maka semua pendaftaran, selain dilakukan di loket yang disediakan, dapat juga dilakukan secara daring, dengan barcode yang dapat dipindai di pintu masuk, sehingga pengunjung sudah mendapatkan kepastian, pada jam berapa bisa naik kereta uapnya.

Dalam sejarah perkeretaapian di Pulau Jawa, Jawa Barat mempunyai peran dan tantangan tersendiri dalam pembangunannya. Inilah yang menjadikan di Jawa Barat sangat layak untuk dibangun Museum Kereta api Pegunungan. Semoga terwujud!***

Bagikan: