Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 28.8 ° C

Tulisan, Tikan, Suara

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

PEKERJA menyelesaikan perawatan patung proklamator Soekarno di kompleks Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat, 9 Agustus 2019. Pemprov DKI Jakarta melakukan konservasi di kompleks Tugu Proklamasi yang meliputi Tugu Petir, Tugu Peringatan Satu Tahun Proklamasi, dan patung proklamator Soekarno-Hatta dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Ke-74 RI.*/ANTARA
PEKERJA menyelesaikan perawatan patung proklamator Soekarno di kompleks Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat, 9 Agustus 2019. Pemprov DKI Jakarta melakukan konservasi di kompleks Tugu Proklamasi yang meliputi Tugu Petir, Tugu Peringatan Satu Tahun Proklamasi, dan patung proklamator Soekarno-Hatta dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Ke-74 RI.*/ANTARA

INDONESIA dimulai dengan teks yang singkat. Naskah proklamasi kemerdekaan yang terkenal dan jadi sakral hanya terdiri atas 38 kata. Jumlah karakter beserta spasinya tidak sampai 300, itu pun kalau kata “dan lain-lain” tidak disingkat jadi “dll”.

Buat mereka yang mengalami zaman pradigital, teks demikian kayak telegram. Isinya singkat dan padat, tidak bertele-tele. Sungguh selaras dengan situasi yang gawat.

Secara visual, ada dua teks yang langgeng dalam ingatan bersama. Pertama, tulisan tangan dengan coretan yang memperlihatkan koreksi atas sepatah kata. Kedua, tikan yang rapi, bersih, tanpa salah ketik.

Bentuk dan rupa teks mencerminkan zaman ketika menulis (writing) masih berbeda dari mengetik (typing). Orang menulis dengan tangan. Perkakasnya bisa berwujud bolpoin atau pulpen, dengan tinta kental atau tinta cair. Orang mengetik dengan bantuan mesin tik yang menimbulkan suara berisik, dengan tinta yang melekat pada gulungan pita.

Dalam medium terkandung medium lain. Bahkan, seperti kata McLuhan, apa yang kita sebut message sesungguhnya medium juga. Dalam medium tulisan, misalnya, terdapat medium aksara. Dalam medium aksara terkandung medium suara. Pertautan antarmedium pula yang dapat kita ingat dari teks proklamasi.

Zaman yang melahirkan teks proklamasi adalah zaman radio. Suara sangat penting, kalaupun tidak dapat disebut paling penting. Soekarno dan Hatta, sebagai proklamator, berdiri menghadapi mikrofon alias pelantang. Teks itu tadi dibacakan, kemudian bunyinya disebarluaskan melalui pemancar radio. Sasarannya adalah telinga.

Meski gayanya seperti telegram, teks proklamasi menimbulkan efek dengan caranya sendiri. Jika telegram, kawat, atau surat ditujukan kepada satu atau dua alamat, teks proklamasi ditujukan ke seantero jagat. Tanda tangan proklamator bukan tanda bahwa Soekarno dan Hatta bersuara sebagai pribadi, melainkan sebagai “kami” yang jadi “wakil bangsa Indonesia”. Dengan kata lain, suara itu dimaknai sebagai suara bangsa.  

Dari rekamannya kemudian, kita mendengar suara Bung Karno membacakan teks proklamasi selama 50 detik. Detik-detik ketika teks singkat itu dibacakan pada Jumat pagi di bulan Agustus, 74 tahun silam, menimbulkan efek berpuluh bahkan mungkin beratus tahun.

Dengan disuarakannya proklamasi yang singkat itu, sebagaimana yang tergambar dari narasi sejarah, tegas sudah perubahan yang mendasar dan keras dalam kehidupan orang banyak. Hindia Timur Belanda jelas mati ketika Jepang datang, dan pendudukan Jepang jelas berakhir ketika imperium itu kalah perang. Dengan proklamasi, terbuka gelanggang baru bagi aktor baru serta cerita baru.  

Inti pesannya, tentu saja, adalah kemerdekaan politik. Tegas dikatakan pagi itu bahwa bangsa Indonesia “menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Tidak lagi Belanda, tidak pula Jepang. Sekarang saatnya Indonesia merdeka.

Dalam bahasa Indonesia waktu itu metafora yang dipakai adalah “pemindahan kekuasaan”. Dengan itu, kekuasaan tampak sebagai sesuatu yang dapat dipindahkan sebagaimana meja dan kursi bisa diangkat dan diangkut dari satu ke lain bilik.

Ungkapan yang tak kalah pentingnya adalah “dan lain-lain”. Bangsa yang menyatakan dirinya merdeka sudah pasti punya seabrek urusan yang mesti ditangani, mulai dari urusan bank dan mata uang hingga urusan kostum dan kendaraan presiden. Dalam teks itu urusan yang bukan main banyaknya tidak dirinci satu demi satu. Cukup dikategorikan sebagai urusan “lain-lain” setelah peralihan kekuasaan.

Dengan kata lain, yang penting merdeka dulu. Urusan selebihnya menyusul. Pokoknya, baik “pemindahan kekuasaan” maupun urusan “lain-lain” dikatakan bakal “diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Adapun cara yang saksama dan singkat terdengar seperti ungkapan lain buat sifat revolusioner.     

Sal Tas, penulis buku De Onder Ontwikkelde Vrijheid: Indonesia Toen en Nu (Kemerdekaan yang Sedang Berkembang: Indonesia Dulu dan Kini, 1973) melukiskan peristiwa proklamasi sebagai “een minimale verklaring met een minimale ceremonie” (pernyataan serbasingkat dengan upacara alakadarnya).

Tidak ada penjelasan soal apa mau diperbuat terhadap bekas penguasa Jepang dan kaki tangannya. Tidak ada penjelasan soal bagaimana kekuasaan di tangan rakyat Indonesia akan dipertahankan. Dengan kata lain, peristiwa singkat mencerminkan situasi darurat.

Hingga kini, dalam upacara kenegaraan, bunyi proklamasi tetap dikeramatkan. Teks itu tadi ditempatkan dalam kotak kayu berukir, dibawa secara khidmat, lalu dibunyikan lagi oleh petinggi negara atau pemerintahan dalam momentum singkat yang disebut “detik-detik proklamasi”.

Detik-detik yang sakral itu mudah-mudahan mengingatkan kita bersama untuk selalu mensyukuri kemerdekaan Indonesia.***

Bagikan: