Pikiran Rakyat
USD Jual 14.012,00 Beli 14.110,00 | Sebagian berawan, 22.8 ° C

Demonstrasi

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

BOBOTOH Persib Bandung melakukan aksi unjuk rasa di depan Graha PT. Persib Bandung Bermartabat, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 10 Agustus 2019. Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan bobotoh (pendukung) Persib Bandung atas merosotnya prestasi dan peringkat tim kesebelasannya pada Liga 1 2019 sekaligus bentuk protes terhadap manajemen Persib yang dianggap hanya mencari keuntungan.*/ANTARA
BOBOTOH Persib Bandung melakukan aksi unjuk rasa di depan Graha PT. Persib Bandung Bermartabat, Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 10 Agustus 2019. Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan bobotoh (pendukung) Persib Bandung atas merosotnya prestasi dan peringkat tim kesebelasannya pada Liga 1 2019 sekaligus bentuk protes terhadap manajemen Persib yang dianggap hanya mencari keuntungan.*/ANTARA

MENJELANG akhir pekan ini, ada tiga momentum yang menjadi perhatian saya. Semuanya menuju satu persinggungan kata, 'demonstrasi'.

Kejadian pertama adalah pembatalan keberangkatan saya ke Hong Kong. Penyebabnya adalah kondisi negara tersebut yang terus diwarnai demonstrasi. Kondisinya kian parah dari hari ke hari sehingga menyebabkan ratusan penerbangan dibatalkan. Padahal, seharusnya saya hadir di Hong Kong mewakili Indonesia untuk bicara di forum Internasional.

DEMONSTRAN Hong Kong/REUTERS

Kedua, pertemuan dengan salah seorang politisi muda terkait sepak bola nasional. Belakangan, diketahui sang politisi rupanya merupakan kolega kawan-kawan senior saya di Unpad.

Kolega yang saya maksud tentunya berusia jauh lebih tua. Mereka angkatan 1995-1996 sehingga terlibat dalam aksi reformasi 1998 menjatuhkan rezim Soeharto. Kolega-kolega saya di Unpad itu adalah demonstran pada masanya.

Terakhir, tentu saja aksi demonstrasi ratusan bobotoh, Sabtu 10 Agustus 2019. Mereka mendatangi kantor PT. PBB (Persib Bandung Bermartabat) untuk menyatakan sikap dan tuntutan terkait prestasi jeblok klub kebanggaan mereka pada putaran pertama musim ini.

Urgensi

Secara pengertian dan praktik, demonstrasi di muka bumi memiliki sejarah panjang. Mulai dari yang biasa saja hingga beberapa aksi yang teramat epik, monumental, memiliki dampak kuat, hingga yang menumpahkan darah dan terus dibicarakan orang hingga saat ini.

Apa pun motif dan berapa pun jumlah peserta demonstrasi, kita perlu memahami bahwa ruang untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat sangat penting dalam menjaga langgengnya peradaban. Entah itu didengar atau tidak oleh pihak yang dituntut.

Ratusan bobotoh dari berbagai kelompok suporter Persib Bandung melakukan aksi protes di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Sabtu 10 Agustus 2019. Setidaknya ada 5 poin utama yang menjadi tuntutan kepada manajemen Persib Bandung, terkait terpuruknya prestasi Persib di Liga 1 2019.*/ABDUL MUHAEMIN/PR

Akan tetapi, bahwa ada sekelompok pihak yang tidak puas dan menuntut perubahan terkait hal yang menjadi urusan mereka, tentu tak mungkin tidak mereka ketahui. Sedikit banyak, hal ini akan menjadi pengingat dan kontrol terkait suatu kebijakan yang memiliki dampak umum.

Dalam konteks demokrasi, keleluasaan berekspresi dan mengemukakan pendapat tentunya bukanlah sesuatu yang tabu. Hal itu wajib dijamin negara dalam konstitusi, meski kemudian dibatasi berbagai peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar.

Konstitusi negara demokrasi mengatur dua persoalan pokok. Pertama, hubungan antarlembaga negara, kedua, tentang Hak Asasi Manusia dan demonstrasi jelas merupakan bagian dari hak warga negara.

Sejatinya, demonstrasi berisi tentang gagasan-gagasan, kritik dan tuntutan perubahan. Semuanya bersumber dari akal sehat dan pemikiran yang seharusnya jauh dari aksi kekerasan. Apa lacur, demonstrasi dewasa ini selalu diartikan sebagai embrio kekerasan dan kericuhan. Aksi massa yang banyak, seringkali diasumsikan tak akan terkendali. Maka dalam banyak kesempatan, demonstrasi seringkali dianggap momok.

Pihak yang dituntut enggan berdialog karena menganggap demonstrasi sebagai suatu ancaman. Sementara yang melakukan demonstrasi, terkadang berpikir bahwa aksi damai akan mudah dilupakan begitu saja dan tak meninggalkan kesan sehingga tuntutan akan dianggap angin lalu.

Apa pun bentuknya, demonstrasi yang tak terencana dengan baik, bersifat sporadis apalagi mengganggu masyarakat, justru hanya akan menimbulkan hasil kontraproduktif. Selain tujuan demonstrasi yang tak tercapai, energi yang terbuang, antipati dari masyarakat akan semakin membuat dukungan eksternal tergerus.

Tentunya, daya tawar yang lemah tidak akan menguntungkan para demonstran karena tanpa dukungan society, maka state melalui aparat akan semakin mudah memberangus demmonstran dengan cara-cara sesuai aturan hingga cara yang keluar dari kesepakatan.  

Demonstrasi murahan

Diakui atau tidak, kita harus jujur bahwa demonstrasi zaman sekarang rasanya semakin murahan. Semua orang bisa berani dan turun ke jalan.

Semua itu dipengaruhi kondisi politik bangsa dan nuansa kebatinan. Pada masa lalu (sebelum era reformasi, era rezim Soeharto), berdemonstrasi adalah hal yang sangat berani dan memiliki risiko sangat besar. Rezim otoriter tak hanya bisa memberangus massa, membuat mereka sakit raga, tetapi juga mematikan keperdataan orang-orang di sekelilingnya.

POLISI antihuru-hara Nikaragua/REUTERS

Sejarah mencatat, hanya mereka yang memiliki pemikiran, gagasan, dan ditunjang nyali yang besarlah yang berani berdemonstrasi pada masa-masa sebelum gerakan reformasi 1998. Betapa ekslusif dan kerennya mereka yang berani melakukan aksi-aksi hingga turun ke jalan, seolah mereka memang siap menumbalkan diri untuk suatu perjuangan.

Akan tetapi, kini siapa saja bisa menjadi demonstran, turun ke jalan tanpa memahami apa yang mereka lakukan, hanya ikut-ikutan, bahkan bisa jadi sekadar hura-hura karena memang demonstrasi dan aksi turun ke jalan sekarang tak memiliki risiko jangka panjang dan stigma separah dulu. Demonstran bukan lagi semat sosial yang tinggi dan membuat segan.***

Bagikan: