Pikiran Rakyat
USD Jual 14.116,00 Beli 14.214,00 | Sedikit awan, 20.3 ° C

Menggeser Hasil Penelitian Menjadi Program Mitigasi

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GEMPA bumi/SHUTTERSTOCK
GEMPA bumi/SHUTTERSTOCK

DI selatan Pulau Jawa yang memanjang barat-timur, terdapat zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eropa-Asia. Di zona itulah tempat lahirnya atau menjadi sumber gempa yang menggoyang Pulau Jawa. Menurut Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, segmen Selat Sunda-Banten dan Jawa Barat, mempunyai potensi gempa berkekuatan M 8,8.

Wiwin Windupranata, peneliti dari Kelompok Keahlian Hidrografi, FITB ITB, sudah mengadakan penelitian dan pemodelan tsunami di sepanjang pantai selatan Jawa Barat pada 2019.

Menurut dia, gelombang tsunami akan mengalami amplifikasi tinggi gelombang di pantai yang landai dibandingkan dengan pantai yang curam, karena proses pelambatan kecepatan, pengurangan panjang gelombang, serta penambahan tinggi gelombang.

Selain kedalaman laut dan kelandaian pantai, bentuk (morfologi) pantai sangat berpengaruh pada karakteristik tsunami pada saat menghempas pantai. Di pantai yang berbentuk cekung seperti teluk, atau adanya kolam pelabuhan, memungkinan efek corong, yang menyebabkan adanya konsentrasi gelombang yang menyebabkan terjadinya penambahan tinggi gelombang serta kecepatannya, dibandingkan dengan morfologi pantai yang lurus. Demikian juga di pantai yang memiliki muara sungai, tsunaminya akan menjalar lebih jauh ke arah darat melalui sungai.

GEOPARK Ciletuh-Palabuhanratu.*/DOK. PR

Morfologi pantai di Jawa Barat selatan memiliki beragam bentuk, mulai pantai yang lurus, berteluk, curam, dan ada muara sungai, sehingga landaan tsunaminya akan berbeda-beda, baik jangkauannya maupun ketinggiannya.

Secara kuantitaif, para peneliti di atas sudah membuat pemodelan, berapa ketinggian, jangkauan terjauh, rentang waktu kedatang tsunami di setiap pantai.

Menjadi program kerja

Seringkali hasil penelitian ilmiah tentang gempabumi dan tsunami ditanggapi dengan ketakutan dan kecematasan sesaat, seolah bencana akan terjadi esok hari. Setelah itu terlupakan atau dilupakan.

Tautan tentang besaran gempa dan dayalanda tsunami disebar-sebarkan melalui media sosial dan berbagai grup di dunia maya. Tanggapan liar terus bergulir, semua boleh berkomentar, mengerti permasalahan atau pun tidak.

Di dunia maya, hasil penelitian sering ditanggapi dengan cara yang heboh. Bahkan ada peneliti yang diseret ke sudut gelap dengan tudingan meresahkan masyarakat.

Sumber terjadinya gempa dan tsunami tidak mungkin ditiadakan. Kejadian gempa dan tsunami tercatat dalam sejarah, baik yang terungkap dalam catatan masa lalu maupun yang terekam dalam lapisan-lapisan bumi, yang kini dipahami dengan penelitian tsunami purba.

Sesungguhnya, harusnya merasa beruntung ada penelitian yang dilakukan di daerahnya. Potensi bahayanya jadi dikatahui, bahkan dengan karakteristiknya.

Dari pada tidak ada yang meneliti, apa yang dapat dijadikan landasan untuk bertindak? Hasil penelitian dapat dijadikan informasi awal bagi masyarakat dan otoritas Negara untuk bergerak melindungi warganya, entah kapan terjadinya.

Beberapa daerah di pantai selatan Jawa pernah dilanda kecemasan karena ada hasil penelitian yang menyimpulkan akan terjadi gempa dengan kekuatan besar, yang disusul dengan hantaman tsunami dengan ketinggian yang menakutkan.

Hasil-hasil penelitian tentang potensi gempabumi dan tsunami di selatan Pulau Jawa itu harus digeser dari kecemasan dan ketakutan menjadi program kerja aparat, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, media masa, dan berbagai lembaga yang peduli terhadap keselamatan masyarakat.

Hasil penelitian itu seharusnya menjadi kabar pencerahan, dapat dijadikan rujukan untuk membuat program nyata tentang upaya-upaya untuk mempertangguh masyarakat dari bencana yang disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami, sehingga mereka jauh lebih siap untuk selamat.

Wargalah yang harus aktif mencari pemecahan terbaik dalam upaya penyelamatan bila gempa dan tsunami terjadi. Hal ini penting untuk dilakukan agar warga setempat memahami sumber ancamannya yang laten, yang akan datang dari selatan.

Merekalah nanti yang akan berperan dalam diskusi-diskusi bersama masyarakat lainnya tentang penetuan rute avakuasi. Program upaya penyelamatan ini harus dirancang, dibuat, dan diujicobakan bersama masyarakat. Karena merekalah yang akan mempraktekan semuanya apa yang dirancangnya.

Pengenalan wilayah secara nyata dalam bentuk peta sederhana, memerlukan adanya pendampingan. Misalnya untuk mengetahui ketinggian tempat yang dipadukan dengan kemungkinan tinggi landaan tsunami di tempat itu.

Bila tinggi tsunami 5 meter, misalnya, rumah-rumah mana saja yang akan terdampak. Bila ketinggian tsunami 10 meter, kawasan mana yang terjangkau tsunami. Demikian seterusnya, bila tinggi tsunami 15 meter, akan melanda permukiman sampai mana, dengan memberikan penanda dalam peta yang mereka buat.

Bila ketinggian tempat itu diberi penanda, diberi tulisan ketinggian tempatnya, masyarakat akan menjadi terbiasa, dan akan mengetahui ke arah mana mereka harus menyelamatkan diri.

Data ketinggian tsunami dan ketinggian tempat itu dapat juga digunakan sebagai dasar untuk membuat tempat perlindungan keluarga di sekitar rumahnya, dengan pertimbangan karena ronabumi permukiman itu relatif datar, sehingga daerah yang lebih tinggi yang tak mungkin dijangkau tsunami menjadi sangat jauh.

Bila keadaannya demikian, harus diadakan simulasi, berapa kemampuan warga berjalan cepat atau berlari menuju tempat yang tinggi. Bila ternyata untuk mencapai lokasi yang lebih tinggi itu waktunya jauh lebih lambat dari pada kecepatan tsunami datang, yang berdasar pada hasil pemodelan yang rinci yang dilakukan para peneliti, maka otoritas negara bersama masyarakat harus mengupayakan tempat-tempat perlindungan yang kokoh di ketinggian +5 m, +10 m, dan +15 m, dengan tinggi bangunan/menara di atas landaan tsunami di tempat itu.

Selain dibangunna rute evakuasi, pembuatan menara penyelamatan, juga sangat penting artinya bagi lingkungan dan keselamatan warga adalah menanam pohon di sempadan pantai dengan pohon-pohon khas pantai, seperti nyamplung, katapang, butun, dan cemara laut.

Hutan pantai ini akan membentuk sabuk hujau yang sangat panjang, bukan saja dapat melunakkan terik mentari, juga dapat menahan tiupan angin, memperlemah daya hempas tsunami, dan menjadi benteng dari material terapung yang ada di laut, seperti perahu, kayu, bambu yang tumbang, dan bebatuan yang diseret gelombang.

Inilah tindakan nyata, menggeser rasa cemas dan takut menjadi langkah nyata, sebagai ikhtiar untuk upaya kemanusiaan.***

Bagikan: