Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Di Sekitar Rumahmu

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DALAM dua pekan terakhir saya mengajak istri saya nikreuh ke lingkungan sekitar rumah kami. Kami pilih Minggu pagi sebagai waktu yang tepat buat jalan kaki. Jalurnya kami tentukan secara intuitif. Pokoknya, jalan kecil atau gang yang berkelak-kelok.

Jika Alice bertualang di Negeri Ajaib lewat lubang kelinci, kami menyusuri lingkungan sekitar lewat jalan-jalan kecil. Siapa tahu pengalaman baru tak kalah seru.

Pada mulanya adalah kritik atas diri sendiri. Sudah 32 tahun saya hidup di Bandung, sudah 25 tahun kami hidup bersama di kota ini. Kami berasal dari kampung-kampung di luar kota. Selama seperempat abad terakhir kami lebih sering berkeluyuran mengandalkan jalan besar dan memakai kendaraan. Jangkauan memang bisa jauh, tapi perhatian kurang mendetail.

Sedekat apa kamu mengenal kotamu sendiri? Selengkap apa kota hadir di depan matamu?

Memang mesti jalan kaki. Lagi pula, ini olahraga dan rekreasi yang cocok buat dompet cekak. Nikreuh alias jalan kaki di sekitar rumah itu hemat biaya dan bikin gembira. Tujuan utamanya adalah mengenal lingkungan seraya merawat silaturahmi. Senang sekali ketika dalam perjalanan kami bertegur sapa dengan para tetangga.

Apa yang dicari? Sejauh ini ada tiga. Pertama, berkah alam seperti sisa hutan, mata air, air terjun, sungai, pepohonan, dsb. Kedua, tempat sakral semisal kuburan keramat, petilasan, situs purbakala, dsb. Ketiga, kreativitas budaya seperti padepokan silat, lingkung seni, arsitektur, dll.

Mata Air Citalaga

Kami menyusuri Jalan Negla, belok kanan ke tanjakan Negla Tengah, lalu belok kiri ke Negla Pojok. Labirin gang memandu kami lewat Masjid Nurul Iman, lalu undakan jalan menurun mengarahkan kami ke Jalan Sersan Bajuri.

Kami menyeberang. Beberapa puluh langkah dari gerbang Pondok Hijau terdapat deretan warung, di antaranya warung yang menyediakan berbagai jenis pisang. Pada dinding salah satu warung terdapat reklame sebuah produk air mineral. Sungguh paradoksal, sebab hanya beberapa belas meter di bawah reklame itu terdapat mata air.

Mulut gang menuju mata air Citalaga nyaris tak terlihat, tepat di samping reklame itu, sebelum kelokan jalan yang tepiannya ditumbuhi perdu dan bambu. Dari situ tangga semen meliuk-liuk sepanjang lereng menuju mata air. Air menetes-netes sepanjang tebing, tersalurkan ke selokan, tertampung di dasar jurang.

Begitu melihat tetesan air jernih, istri saya bersimpuh di salah satu undakan. Decak kagum dalam bahasa Sunda, juga doa dalam bahasa Arab, seketika terucap. Saya sendiri terus turun ke dasar tebing.

Di situ ada beberapa bak penampungan air, sejumlah pipa paralon, juga beberapa pancuran yang tiada hentinya menggelontorkan air bersih. Di sekitarnya, seladar air menciptakan warna hijau di hamparan peta-petak lahan.

Inilah salah satu di antara sejumlah mata air di Bandung Utara yang airnya ditampung dan dikelola oleh PDAM Tirtawening. Hingga awal tahun 2000-an, setahu saya, masyarakat setempat masih menyelenggaran ritus “hajat cai”.

Sekarang, seperti yang kami lihat pagi itu, berkah alam di situ sepertinya kurang terawat. Sampah plastik mulai mengancam, bau pesing tercium di sekitar mulut gang.

Curug Sigay

Di lain pekan kami menyusuri Jalan Gegerkalong Girang lalu belok kanan lewat SMP 29, dan terus menyusuri gang yang sempit, berkelak-kelok, dan menurun.

Di salah satu kelokan gang, di Cinampeu, ada sebuah tebing yang mengeluarkan air jernih. Sebuah drum dan sejumlah selang plastik menempel ke dinding alam itu. Seorang ibu mencuci pakaian di tepi gang. Katanya, air bersih itu dimanfaatkan buat mandi dan mencuci.

“Kalau buat minum?” tanya istri saya.

“Beli air galon,” jawabnya.

Kami terus berjalan, melewati air terjun kecil. Sejenak kami berhenti di Padepokan Silat Sigaymas. Panggung dan halamannya yang luas tampak lengang. Ada empat pria sedang mengobrol sambil berjongkok di salah satu pojok halaman. Kami bertegur sapa sebentar seraya minta permisi buat numpang lewat.

Tidak jauh berjalan dari padepokan itu, sampailah kami ke tempat yang dituju, yakni Curug Sigay. Air terjun menimbulkan bunyi gemuruh di dasar tebing, mengalir ke sungai Cibeureum. Air yang terguling ti tebing memang tampak seperti sigay alias tangga ke langit.

Ada sejumlah tentara dan sukarelawan yang sedang membersihkan sampah plastik dari sekitar air terjun. Sejenak saya ikut nimbrung memungut sampah biar tidak terlalu malu main potret buat Instagram di saat orang lain sibuk bekerja.

Para patriot lingkungan itu adalah bagian dari program negara memulihkan sungai. Program itu dikenal dengan nama Citarum Harum. Pagi itu satuan tugas yang bekerja di sekitar Curug Sigay terdiri atas 3 tentara anggota satgas, 3 bintara pembina desa, 16 orang “baraya satgas”, dan sekitar 6 orang warga.

Saya menghampiri komandannya, seorang bintara berpangkat pembantu letnan satu. Ia mengenakan pakaian seragam loreng dan sepatu bot oranye. Orangnya ramah. Namanya Bayu Dwi Cahyadi.

Kata Pak Bayu, pagi itu timnya membersihkan sampah di sekitar air terjun, dalam area sepanjang lebih kurang 300 meter di aliran Cibeureum. Sampah yang terpungut, terutama sampah plastik, tidak kurang dari 300 kilogram.

“Kami akan terus mengadakan patroli dan pembersihan sungai-sungai yang ada di wilayah pengawasan kami,” katanya.

Setelah berbincang, kami pun pulang. Kegembiraan berjalan kaki pagi itu campur aduk dengan keprihatinan melihat sisa hutan di dalam kota yang cenderung tidak terpelihara.***

Bagikan: