Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 24.7 ° C

Kabudayaan Penca

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SEJUMLAH peserta mengikuti teknikal meeting IPSI Cup di Aula Gedung KONI, Kota Bandung, Sabtu, 15 Maret 2019.*/MIRADIN SYAHBAN RIZKY/PR
SEJUMLAH peserta mengikuti teknikal meeting IPSI Cup di Aula Gedung KONI, Kota Bandung, Sabtu, 15 Maret 2019.*/MIRADIN SYAHBAN RIZKY/PR

DARI guru ke murid, dari generasi ke generasi, pengetahuan tentang penca diwariskan melalui tuturan. Salah satu cerminannya adalah buku Tuturan tentang Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda (1996) karya Yus Rusyana (81).

Pak Yus adalah pakar bahasa dan sastra juga sastrawan Sunda. Tradisi lisan Sunda yang ditelaah dalam dalam buku ini bukan folklor atau cerita rakyat,  melainkan tuturan atau wicara tokoh penca tentang keahlian mereka.

Dalam uraiannya, Pak Yus memakai istilah Sunda, penca. Istilah ini sepadan dengan pencak atau silat dalam bahasa Indonesia. Adapun penca yang dibahas dalam buku ini adalah Maénpo Cikalong dan Penca Makao.

Narasumbernya adalah maestro maénpo Cikalong Rd. Memed bin Rd. Obing Ibrahim (1919-2007) dari Cianjur dan maestro penca Makao Aki Arba (1911- ?) dari Pandeglang. Tuturan mereka direkam oleh Gending Raspuzi (54), tokoh penca dari Bandung yang saat ini bergiat dalam Garis Paksi (Lembaga Pewarisan Pencak Silat) dan Maspi (Masyarakat Pencak Silat Indonesia), pada 1994.

Kalau boleh saya gambarkan secara singkat, buku ini berisi analisis kebahasaan atas rekaman percakapan antara guru penca dan muridnya. Analisisnya bersifat struktural. Pak Yus mengkaji antara lain hubungan antarelemen kebahasaan dan pola tuturan.

Pembaca umum seperti saya dapat memperhatikan traskrip wawancara dalam bahasa Sunda, beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia, yang dilampirkan dalam buku ini. Saat ini, setelah kedua maestro itu tiada, rekaman seperti ini terasa kian penting sebagai dokumen pengetahuan penca.

Dari lisan ke tulisan

Di antara begitu banyak guru penca di Tatar Sunda, dari ratusan aliran, hanya satu-dua yang sempat mewariskan pengetahuan penca secara tertulis.

Memang ada masanya pengetahuan tentang penca adalah bagian dari kearifan yang bukan untuk diumbar. Pengajaran penca cenderung tertutup atau terbatas di lingkungan dekat. Guru-guru seperti bersembunyi, tidak menampilkan diri. Mereka yang berminat belajar memang harus mencari. Silat seperti pisau lipat. Bilahnya baru terlihat dalam situasi dan pada saat yang tepat.

Tentu saja, tidak sepenuhnya demikian. Waktu bergulir, cara pandang berubah. Dari lingkungan maénpo, misalnya, tampak kesadaran literat. Satu-dua guru berupaya mewariskan pengetahuan penca secara tertulis.

Sebut saja misalnya Rd. Abad dengan Tuduh Kaédah Maénpo dan Rd. Obing Ibrahim (1855-1942) dengan Sadjarah Kabudajaan Pentja. Karya tulis kedua mahaguru itu tidak bertitimangsa. Ada pula Abdur Rauf dan M. Rusman Tabrizy dengan Riwayat Ringkas Ngawitan Nyebarna Penca Cikalong (1990).

Pada abad ke-21 Rd. H. Aziz Asy’arie, juga dari Cianjur, mengumumkan Silat Tradisional Maenpo Cikalong Gan Uweh: Kaidah Madi, Sabandar dan Kari (2013) dan Silat Tradisional Maenpo R.H.O. Soleh: Panduan Praktis Dasar Maenpo Cikalong (2014). Pernah juga saya mendapatkan buku perihal penca karya Iwan Abdulrachman, Revealing the Secret of Amengan (2007). Bah Iwan dari Bandung berguru kepada maestro penca almarhum Aki Muhidin.

Teks mengenai silat juga tersedia dalam bentuk hasil penelitian di bidang ilmu sosial dan humaniora. Dewasa ini kita dapat membaca, misalnya saja, hasil penelitian O’ong Maryono mengenai silat di lingkungan Nusantara, Gabriel Facal mengenai silat Banten, Lee Wilson mengenai seni bela diri Indonesia dalam kaitannya dengan politik, dan lain-lain.

Pergeseran platform

Kini pengetahuan penca juga turut mengalami pergeseran platform dari teks pradigital ke medium digital. Para jawara tampil dalam Youtube, sebagian guru membuka akun dalam Facebook, Twitter, Line, dan Instagram. Satu-dua guru penca bahkan sesekali harus terbang untuk memberikan workshop bagi para peminat penca di mancanegara.

Pergeseran platform kiranya menyiratkan pula perubahan dalam sejumlah aspek dunia persilatan, misalnya menyangkut metode pengajaran, hubungan antara guru dan murid, dan sebagainya.

Dalam hal ini saya sendiri sangat tertarik oleh istilah yang dipakai oleh mendiang Gan Obing pada pertengahan abad yang lalu, yakni “kabudajaan pentja”. Beragam teks mengenai penca atau silat, dari fiksi hingga nonfiksi, dari memoar hingga hasil riset, tentu telah menyediakan bahan yang sangat berharga bagi refleksi mutakhir mengenai seni bela diri dalam kerangka kebudayaan.***

Bagikan: