Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Umumnya berawan, 28.1 ° C

Mencari “Karomah”

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

ADA sebuah cerpen Sunda karya Godi Suwarna dari tahun 1992 yang berjudul, “Karamat Kuwu Karamat”. Itulah satire tentang autokrasi Indonesia zaman Soeharto.

Dalam cerpen ini politik tidak kenal suksesi. Pemimpin desa yang sudah tua renta sungguh tidak tergantikan. Bahkan ketika dia mati, dengan kepala copot tertabrak mobil, kekuasaannya tetap bercokol. Sang kuwu bahkan hidup lagi, bangkit kembali meski tanpa kepala.

Istilah “karamat” di situ dimaksudkan buat menyindir sang autokrat. Seakan-akan kuwu uzur itu sakti mandraguna, suci dari kepentingan duniawi, atau punya daya adikodrati.

Dengan istilah itu, timbul efek karikatural dari penokohan dalam cerita. Pembaca merasa geli membayangkan seorang penguasa renta yang ogah berhenti.

Suci lagi Sakti

Di luar karikatur, dalam kehidupan sehari-hari, istilah Sunda “karamat”, yang sepadan dengan istilah Indonesia “keramat”, lazimnya dilekatkan pada segala hal yang dianggap suci atau sakral, luhur atau agung, ajaib atau luar biasa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan istilah “keramat” ke dalam dua arti, yakni “1 suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa); 2 suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci)”.

Arti yang pertama menekankan aspek religius, sedangkan arti yang kedua menekankan aspek magis. Makam nabi, wali, dan orang suci lazimnya dianggap sebagai tempat keramat menurut pengertian yang pertama. Kuburan orang sakti, patilasan atau pasaréan leluhur, juga jimat lazimnya dianggap keramat menurut pengertian yang kedua.

Pada zaman Soekarno sifat keramat bahkan tersirat dalam “Revolusi” (ditulis dengan “R” besar). Waktu itu ada “ajaran” yang disebut sebagai “Panca Azimat Revolusi”. Dengan ditopang oleh lima “azimat”, yang secara harfiah berarti sesuatu yang bersifat keramat atau mengandung kesaktian, Revolusi rupanya dipandang sebagai tugas suci. Itulah slogan yang didengungkan pada 1965, justru menjelang kejatuhan Bung Besar.

Hal-ihwal yang bersifat religius atau hal-ihwal yang bersifat magis, apalagi hal-ihwal yang mengandung kedua sifat itu sekaligus, sering menimbulkan rasa gentar. Orang tidak berani bersikap atau berbuat sembarangan terhadap segala sesuatu yang dianggap keramat.

Dalam novel klasik Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja, ada adegan menggelikan. Seorang seniman modern dari Jakarta menantang orang-orang desa di Garut untuk membuktikan ada-tidaknya kekuatan magis Embah Jambrong yang bersemayam di kuburan Garawangsa. Pada malam Jum’at mereka pergi ke sana. Namun, hanya sang seniman yang berani masuk ke lingkungan kuburan, sedangkan penduduk setempat tetap ketakutan. Bahkan Hasan, tokoh utama novel ini, akhirnya lari terbirit-birit.

Asal-usul Arab

Dalam kamus bahasa Indonesia istilah “keramat” merupakan kata sifat alias adjektiva. Itulah sifat yang melekat pada figur, benda, dan tempat.

Sering juga terdengar, baik dalam bahasa Sunda maupun dalam bahasa Indonesia, orang memakai istilah “karomah”. Kedengarannya, istilah ini merupakan variasi dari “keramat” dan berfungsi sebagai kata benda. Orang berziarah atau menyimak ceramah seraya berharap mendapat cipratan “karomah”.

Sayang sekali, saya tidak paham sumber istilah ini, yakni bahasa Arab. Betapapun, kalau saya membuka-buka kamus bahasa Arab, dan mencari keterangan seputar kata-kata yang bertolak dari akar “ka-ro-ma”, timbul kesan bahwa cakupan pengertian dan kelas kata “karomat” jauh lebih luas.

Dalam Arabic-English Dictionary of Qur’anic Usage (2008) susunan Elsaid M. Badawi dan Muhammad Abdel Haleem, kata “karomat” diartikan sebagai “to be generous, to be high-minded, to be noble-hearted, to honour, to do favours, to treat with hospitality, obliging, beneficent, precious; (of land) to be fertile; thoroughbred, noble; vine and grapes.

Dalam Qur’an, menurut Elsaid M.Badawi dan Muhammad Abdel Haleem, kata-kata yang terbentuk dari akar kata ini muncul 47 kali.

Yang tak kalah menariknya adalah kandungan arti “karomat” yang tercatat dalam kamus klasik, “A Dictionary: Persian, Arabic, English with A Dissertation on The Languages, Literature and Manners of Eastern Nations” (1829) susunan John Richardson.

Menurut kamus Richardson, kata “karomat” berarti “being venerable, liberal, beneficent, precious, valuable, worthy, dignified. Pouring forth rain (a cloud). Generosity, munificence, dignity, nobleness, excellence, reverence. A miracle. The cover of a well.

Dari kedua rujukan itu, saya mendapat kesan bahwa istilah “keramat” atau “karomat” atau “karomah” bisa juga berfungsi sebagai kata kerja atau jadi istilah yang mengarah ke tindakan.

Tindakan itu, misalnya saja, “menghormati” (to honour) dan “menyambut baik” (to treat with hospitality). Bahkan tanah yang “menjadi subur” (to be fertile) atau awan yang “mencurahkan hujan” (pouring forth rain) rupanya bisa terkandung pula dalam arti istilah itu.

Begitulah kesan yang saya dapatkan. Benar ataukah tidak, wallohu’alam. Kalau anda ragu, anggap saja narasi ini karikatur tersendiri meski bukan cerita pendek.***

 

Bagikan: