Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 18.2 ° C

Mengapa Fabiano Masih Belum WNI

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

BEK naturalisasi yang dipinjamkan dari tim utama Persib Bandung Fabiano Beltrame tengah berlatih bersama tim Persib B di Stadion Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 10 Juni 2019. Tim yang dihuni pemain muda dan senior itu rencananya akan berlaga di Liga 2.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
BEK naturalisasi yang dipinjamkan dari tim utama Persib Bandung Fabiano Beltrame tengah berlatih bersama tim Persib B di Stadion Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 10 Juni 2019. Tim yang dihuni pemain muda dan senior itu rencananya akan berlaga di Liga 2.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BEBERAPA hari lalu saya membaca berita tentang kegembiraan pelatih Persib yang mengabarkan bahwa proses naturalisasi Fabiano Beltrame akan segera rampung bulan ini. Seketika saya kembali teringat puluhan (atau mungkin ratusan) pertanyaan netizen melalui kotak masuk dan kolom komentar Instagram hingga bobotoh yang bertanya langsung terkait kepastian status WNI Fabiano.

Bisa jadi mereka bertanya karena saya lah orang pertama yang bicara tentang kepastian bergabungnya Fabiano ke Persib sekaligus mengatakan bahwa Fabiano sedang menjalani proses naturalisasi.

Melalui tulisan yang saya buat di kota Semarang menjelang laga seru PSIS-Persib, saya akan mencoba berbagi kabar dan perkembangan terakhir status Fabiano, yang bisa jadi berbeda versi dengan keterangan resmi dari PT.Persib Bandung Bermartabat. Tapi apa yang akan saya utarakan adalah pengalaman empirik yang dialami sendiri dan diceritakan kembali tanpa kepentingan apapun.

Kajian terkait urgensi

Beberapa hari lalu saya berkesempatan bertemu dengan pajabat bagian hukum Kemenpora yang mengurusi rekomendasi para atlet yang hendak mengajukan proses naturalisasi istimewa berdasar pasal 20 Undang-Undang Kewarganegaraan. Undang-Undang Nomor 12 Tentang Kewarganegaraan memang memberikan peluang bagi WNA yang ingin menjadi WNI melalui cara “instan” jika WNA tersebut (pada intinya) dianggap memiliki prestasi luar biasa dan berjasa bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, maka mereka (WNA) yang memiliki kemampuan istimewa dalam bidang olah raga dapat dinaturalisasi sejauh dianggap memenuhi ketentuan pasal 20 UU Kewarganegaraan, sehingga syarat seperti tinggal di Indonesia selama 5 tahun berturut-turut ataupun selama 10 tahun tidak berturut-turut bisa dikesampingkan.

Sebenarnya Fabiano telah mengurus segala persyaratan administrasi dan tidak ada kendala. Adapun instansi yang mengurusi proses terkait naturalisasi adalah direktorat jenderal Administrasi Hukum Umum-Kementerian Hukum dan HAM. 

Persoalan timbul ketika setneg sebagai pintu terakhir menuju presiden (karena pemberian status WNI ditetapkan oleh KepPres) mempertanyakan kajian yang berisi bahwa Fabiano memang layak dinaturalisasi melalui ketentuan pasal 20 UU Kewarganegaraan. Sehingga meskipun semua proses di Kementerian Hukum dan HAM berjalan lancar, dan pertimbangan DPR serta rekomendasi teknis dari Kemenpora pun ada, namun selama Setneg tidak meneruskan ke Presiden tentu status WNI Fabiano tak akan pernah turun. 

Sebenarnya apa yang dipertanyakan oleh setneg adalah hal yang wajar, karena persepsi dan indikator memenuhi ketentuan pasal 20 UU Kewarganegaraan memang dianggap tidak dipenuhi oleh Fabiano meskipun seluruh persyaratan administrasi dipenuhi.

Fabiano Beltrame.*/ARIF HIDAYAH/PR

Ini karena secara substansi kedudukan dan posisi Fabiano tidak berhubungan langsung dengan “kepentingan bangsa”, karena status Fabiano yang tidak dipanggil atau diperlukan oleh tim nasional Indonesia. Pijakan berpikir dari setneg sangatlah logis, karena selama ini para WNA yang dinaturalisasi memang mereka yang langsung memperkuat tim nasional dan proses naturalisasinya disertai kebutuhan pelatih timnas terhadap pemain yang bersangkutan.

Contoh nyata adalah Kim Jeffrey Kurniawan ataupun Sergio van Dijk yang dianggap jasanya diperlukan oleh timnas sehingga dinaturalisasi dan langsung berseragam garuda setelah KepPres terkait status WNI mereka terbit. Beban moral untuk membuktikan bahwa Fabiano Beltrame memang layak dinaturalisasi berdasar pasal 20 UU Kewarganegaraan tentu kini berada di Kemenpora selaku pemberi rekomendasi teknis.

Rekomendasi teknis yang mereka berikan kini harus juga disertai kajian yang diminta oleh setneg, yaitu kajian bahwa Fabiano bisa dan dianggap memenuhi unsur “berguna bagi bangsa dan negara” walau dirinya tidak terkait dengan kebutuhan tim nasional Indonesia. Kajian seperti apa? Tentunya Kemenpora jauh lebih paham tentang itu.

Pernyataan pelatih Persib yang menyatakan bahwa proses naturalisasi Fabiano sebagai WNI rampung bisa kita anggap sebagai pertanda bahwa pihak kemenpora telah mampu menyusun kajian seperti apa yang diminta oleh setneg. Adapun proses di Kemenkumham tentu tidak bicara masalah substansi sehingga tidak bisa disalahkan.

Sekadar info bahwa selain Fabiano Beltrame, Otavio Dutra yang memperkuat Persebaya dan kiper Barito Putra asal Korea pun mengalami kendala yang sama.***

Bagikan: