Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 18.2 ° C

Ciharegem dan Cimaung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Harimau/REUTERS
Harimau/REUTERS

Maung adalah sebutan untuk harimau (Panthera tigris sondaica) di Tatar Sunda. Inilah binatang yang paling magis dan mistis di kawasan ini.

Ketika manusia belum serakah lahan seperti saat ini, ketika masyarakat masih menjaga tatalingkungan dengan baik, membiarkan hutan berjalan sesuai fungsi, maka keberadaannya dapat menopang kehidupan seisi hutan dan masyarakat yang ada di luarnya. Air terkendali hadirnya, cur-cor, air ke luar tak mengenal kering walau di musim kemarau.

Di Bandung ada nama tempat Ciharegem (e diucapkan seperti menyebut emas) dan Cimaung. Ini menunjukkan di kawasan ini sering terdengar haregem, geraman harimau yang menggetarkan bulu roma. Bila yang hadir hanya haregem-nya, yang terdengar hanya suaranya, maka kawasan itu dinamai Ciharegem. Sangat mungkin suara itu datang dari harimau dari Gunung Palasari, Gunung Manglayang atau dari Bukit Tunggul.

Sementara di Cimaung, atau Cimacan, maung dan macannya sering turun gunung, jalan-jalan ke sekitar kampung yang pada awalnya kawasan itu memang daerah jelajahnya. Di kawasan itu masyarakat sering menyaksikan hewan jenis kucing besar ini.

Harimau mampu berenang tanpa henti sejauh 5 km dengan warnanya yang terang. Badannya sedikit lebih besar dari harimau Sumatra. Karena perburuan yang yang tak terbatas, hewan ini mengalami nasib yang tragis. Di jebak dengan berbagai cara, untuk berbagai kepentingan, mulai sebagai tontonan pertunjukkan dan pajangan di rumah-rumah, sama jahatnya.

Dalam laporan Thomas Stanford Raffles, seperti tertulis dalam buku The History of Java, harimau banyak ditangkap untuk kesenangan raja, menjadi tontonan, diadu dengan kerbau. Secara rinci Raffles menguraikan tontonan ini, dan bagaimana agar kerbau dan harimaunya menjadi beringas dan terangsang untuk saling menyerang.

Selain diadu dengan kerbau, harimau pun sengaja diadu dengan tahanan yang bersedia untuk diadu, dan ada tahanan yang mampu mengalahkan harimau, sehingga tahanan itu mendapat pengampunan, direhabilitasi namanya, dan popularitasnya naik. Dalam setiap tontonan ini harimau mati mengenaskan demi memauskan raja-raja saat itu.

Ketika ada anjuran agar setiap provinsi, kota dan kabupaten mempunyai tumbuhan dan hewan yang menjadi simbol daerah, Jawa Barat agak kebingungan untuk menentukannya, terutama setelah badak menjadi hewan dari Provinsi Banten. Akhirnya macan tutul (Panthera pardus sondaicus) menjadi pilihan, karena Panthera tigris sondaica sudah musnah.

Penetapan hewan ini sesungguhnya mempunyai konsekuensi yang serius, bagaimana agar macan tutul tetap adanya. Salah satu caranya adalah menjaga hutan tetap menjadi hutan alam yang cukup untuk hidupnya. Salahsatu tempat di Cekungan Bandung yang menjadi habitat macan tutul adalah Gunung Patuha.

Oleh karena itu keutuhan hutanhujan tropis di Gunung Patuha yang terus menipis tersered hutan produksi dan kebun sayur, perlu secara sungguh-sungguh dipertahankan keberadaannya. Usaha ini untuk menjaga fungsi ekologisnya, mengatur dan menjaga pasokan air ke dalam bumi, dan sebagai rumah berbagai tumbuhan dan binatang khas Jawa Barat yang masih tersisa.

Alih fungsi hutan mempunyai andil yang sangat besar dalam memusnahkan maung lodaya (Panthera tigris sondaicus), dan mendesak habitat macan tutul yang saat ini jumlahnya terus berkurang, sehingga menjadi sangat langka dan terancam punah. 

Macan tutul termasuk keluarga felidae. Panjang tubuh hewan karnivora ini antara 1-2 meter dengan berat badan 30-70 kg. Corak bulunya yang kuning mendekati jingga dengan bintik-bintik hitam berpola rossete (kotak) di hampir seluruh bagian tubuhnya merupakan ciri khas yang menonjol dari kucing besar ini.

Macan tutul dapat kawin sepanjang tahun, sehingga dalam setahun dapat melahirkan 2-3 ekor anak. Namun sayang, tingkat kematiannya juga tinggi. Habitatnya perlu dijaga karena penghuni hutan lainnya dapat menjadi sumber makanannya, seperti monyet, kera, rusa, dan mamalia lain.

Cara berburunya sangat efektif, diawali dengan bersembunyi di semak-semak sebelum mangsanya datang. Binatang buruannya itu disergap dengan cara ditekuk (digigit bagian lehernya dari belakang), sampai mangsanya lumpuh lalu dimakan di atas pohon.

Menjaga keberadaan macan tutul dan binatang lainnya adalah dengan cara menjaga hutanhujan tropis tempat hidupnya. Tanpa usaha itu, macan tutul sebagai simbol fauna Jawa Barat tak akan mempunyai arti apa-apa, sekedar dikenang sebagai nama tempat, Ciharegem, Cimacan, atau Cimaung.***

Bagikan: